Seperti Apa Australia Sekarang?

Akhirnya datang lagi kesempatan kembali ke negara Australia sebagai bagian dari liburan. Mengunjungi Sydney untuk kali kedua dan Perth untuk perdana. Setelah melalui berbagai peristiwa global macam pandemi dan krisis iklim, Australia mampu bertahan menjadi negara luas dan aman bagi semua. 

Kenapa semua? Benua ini hampir separuhnya imigran! Sydney yang paling banyak jumlah penduduknya 5,5 juta, punya imigran 40%! Bayangin sekian juta orang menggantungkan hidup di negara asing dan melakukan business as usual, kan hebat tuh. Meskipun mungkin pergaulan ngga terlalu ngeblend, tapi hidup berdampingan dengan pendatang, memberikan hak dan kesempatan yang sama juga privilege ya buat non WNA (Warga Negara Australia 😁). Mungkin ada hubungannya juga dengan penduduknya yang sengaja disebar di area yang luasnya 19x lipat Jakarta, tapi penduduknya separuh Jakarta (silakan dibayangin aja ya 🙂)

Yang berasa dejavu pertama tentu aja kisah ga bayar tiket tram yang berulang, kali ini ditambah kegap inspektur 😅 Ceritanya di Sydney ini kita wira wiri pake transum cuma ngetap kartu kredit aja, bisa Visa atau Mastercard. Kereta dan bus aman aja, kira2 sedolar AUD untuk seharian kemanapun. Trus nyoba naik tram. Dulu pas di Melbourne nekat naik doang sama anak-anak, trus bengong liat orang kok pada ngetap kartu di dalam. Mana ngga tau baliknya gimana. Akhirnya pas tram berhenti dan semua penumpang turun, kita turun juga trus minta maaf ke sopir eh kondektur ya, karena naik ngga bayar dan sekalian nanya kalau pulang gimana. Bapaknya lo santuy ngebilangin ikut tram ini lagi aja karena balik ke asal trus beli tiket tram di minimarket. Kita ikutin semua, trus pas akhirnya balik ke tempat kita naik, kita turun dan dadah-dadah ke kondektur 😅

Di bus ngetapnya di dalam, bentukan mesinnya kaya gini. Stasiun kecil bentuknya gini juga dan ada di peron karena stasiunnya terbuka. Sama seperti di halte tram yang kita pelajari in a hard way 😅

Nah sekarang gitu lagi, karena mikir nanti ngetap di dalam kaya di bus modelnya ngetap di samping pak sopir, kita langsung naik aja. Trus clingak clinguk cari mesin tapnya lah pada kemana ya. Tapi ditulis gede-gede jangan lupa untuk tap on dan tap off. Setelah ngelewatin beberapa halte baru nyadar, ternyata ngetapnya di halte! 😅 Ya udah deh ntar turun ngetap aja meski mikir memang ada gunanya ya?

Dan pas lagi giat-giatnya random checking hari itu. Memang sejak di kereta, di bus, di hari Jumat itu ada inspeksi kartu bukti sudah tap apa belum. Petugasnya berseragam, pake HP untuk pindai kartu. Trus ada denda AUD 200 kalau ketauan ngemplang. Dan beneran dong, emang itu hari sial atau hari beruntung yah. Ada inspektur di tram! Ya pasti ketauan belum ngetap. Dalam hati uda cemas waduh lumayan juga dendanya. Tapi kunci ngadepin gitu tuh jujur aja, tetap tenang, jangan ngeles dan mbulet. Saya bilang kirain ngetap di dalam, trus nanya mestinya dimana? Dia jelasin trus mikir bentar dan nanya, darimana dan ke Sydney ngapain. Trus begitu tau kita orang asing dan first time, dilepasin sambil diingetin untuk ngetap. Begitu dia pergi tuh saya langsung fiuh lega 😅 Tapi emang di Australia petugas tuh lebih empati dan humanis. Ngeliat kita bingung di stasiun, didatengin petugas dan dibantu pesan tiket, sambil diingetin kereta berapa menit lagi. Atau bingung naik bus apa, petugasnya langsung ngambil HPnya untuk tahu seharusnya kita naik bus nomor berapa. 

Dejavu kedua adalah diperiksa anjing di bandara 😂 Ini entah ya kita selalu kena padahal sudah ngisi kartu ngga ada yang perlu dideclare. Eh tetap aja pas screening dilewatin jalur paling panjang yang berakhir dengan disuruh baris berempat untuk dikelilingin anjing. Australia memang ketat untuk urusan bawaan takut mencemari vegetasi atau lingkungannya. Anjingnya gede dan ramah, nemu sesuatu gitu dia ngga menyalak tapi bolak balik ke tas yang mencurigakan. Kalau itu yang terjadi, penumpang dan barang dipisah trus dibongkar satu-satu isinya. Kita ngga sampe situ karena memang ngga bawa apa-apa. Aturannya sama di tiap kota Australia yang nerima penumpang asing karena dulu kita masuk lewat Gold Coast dan dapat perlakuan yang sama. Kayanya yang non bule aja deh, mungkin kebiasaan bawa macam-macam dari negara asal ya, yang kita anggap biasa tapi pemerintah Australia melarangnya.

Sudah ngisi kartu no declare tetep aja dipinggirin untuk diperiksa anjing 😂 ya gpp sih, lebih lama aja keluar bandaranya

Yang ketiga soal makanan. Dari dulu harganya ya segitu seporsi, ukurannya gede jadi bisa buat berdua, kuliner banyak yang Asia sampe kita mikir dia nih sebenarnya makanan khasnya apa 😁 Ya dikursin ke IDR jatuhnya mahal tapi kan itu salah kurs kita kok lemah 😅 Bahan makanan bagus, proses masak dan sistem resto diawasi, jadinya ngga ada scam dan enak semua meskipun enak ngganya tergantung selera.

Harry’s de Wheels ini tetap bertahan dengan food trucknya dan makanan khas Australianya, meat pie.

Kalau bandara makin ramai sih tapi tetap tipe bangunannya simpel dan minimal. Penumpang yang baru landing dan mau berangkat alurnya jadi satu, jadi toko-toko bisa dikunjungi dari kedua tipe pengunjung. Langit-langit rendah dan lebar jalan sedang aja mirip sama T2 Soetta. Modelan T3 Soetta gitu ga ada disini bahkan sekelas Sydney sebagai kota terbesarpun. 

Bandara Perth

Sekarang kalau ditanya apakah worth to visit Australia more as a tourist? Menurut saya ya, apalagi kalau saya jelasin soal persamaan terakhir, hal yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang yaitu keramahan orang Australia. Karena sulit menebak citizenship seseorang dari penampilannya, maka anggap semua bule itu WNA ya. Orang bule random di Inggris itu lebih friendly dan helpful, maksudnya kita keliatan bingung dia langsung nyamperin dan nanya kesulitan kita. Di Australia ngga segitunya, tapi semua store keeper atau cafe seneng ngobrol dan ngasih tau ini itu tanpa ditanya. Trus bukan basa basi juga, emang berminat sama kondisi kita dan mungkin merasa dia representasi Australia, just show the best. Orang-orangnya positive vibes banget sampe mikir di negaranya ngga ada berita yang bikin gemes ya tiap buka medsos? 🫠 Sampe mikir mungkin sepulang ke Indo puasa medsos aja biar ngga cemas sama berita ini itu dan awet muda kaya Jerry Yan 😂

Ibu2 super ramah di E-shed Fremantle

Jadi buat yang selama ini kelilingan di Asia, coba deh Australia. Penerbangan direct dari Jakarta atau Bali, ada economic class, pilihan hotel beragam, dan transumnya handal semua. Yang hobi lari dan wisata gratis pasti suka dengan banyaknya fasilitas publik yang bisa dinikmati dan dilihat disini. So, enjoy Australia 😄

Komen? Silakan^^