Orang-orang Jepang Itu…

Orang Jepang sibuk bekerja

MMenurut saya yang paling menyolok dari orang-orang Jepang ini adalah kesopanannya. Kalau soal ramah sih kita jagonya, wong ngga kenal aja bisa ngobrol panjang, mesti beda tipis antara perhatian atau kepo:D Tapi soal kesopanan kita kalah nih. 
Mereka selain hobi membungkukkan badan, atau kalau ke orang asing agak menganggukan badan, mereka juga suka mengucapkan salam dan terima kasih. Kita yang buang sampah aja mereka yang terima kasih 😀 Atau sama temannya sendiri yang emang tugasnya itu, bilang terima kasihnya berulang-ulang. Contoh pas kami menukar tiket JRPass, petugasnya dibantuin temannya menempelkan stiker bertuliskan nama kami. Karena masing-masing satu tiket satu nama, saya tebak dia mengucapkan terima kasih 4 kali. Eh ternyata bener! 😀

Kesopanan itu jadinya mengarah ke ramah, apalagi kalau kerja di sektor jasa macam pramugari dan staff hotel. Senyum mesti mengembang meski kebanyakan orang Jepang sukanya nyerocos dalam bahasanya sendiri. Jadi kita ngomong apa, dia juga ngomong apa. Tapi dia perhatian banget ngomong sama kita, meski muka kita masih bengong gitu. Ngga nyepelein gitu.

Suasana di Tsukiji Market

 
Ya emang ada sih yang tampangnya jutek, apalagi yang sibuk memburu kereta. Jangan coba-coba tanya deh mukanya lagi ditekuk gitu. Atau pedagang di Pasar Tsukiji yang banyak banget bikin aturan dan judes (satu aja sih tapi bikin bete seharian :D). Atau pelayan resto yang kurang ramah. Tapi yang lain baik semua, termasuk yang ngga kita mintai tolong sekalipun. Ada satpam yang menghampiri kita karena kelihatan bingung nyari lokasi museum. Saya tunjukin Google Map kemana kita mau pergi, terus dia terangin mesti kemananya. Padahal ngga diminta lo dan dia lagi kerja. Atau pernah juga kita nanya satpam arahnya mana, sama dia langsung dianterin sampai tangga. Pas beli bento di stasiun Shin-Shinagawa juga gitu, mbak penjaga toko nganterin sampe di depan toko bento.

Keistimewaan lain mereka tekun sama hidupnya, serius sama pekerjaannya. Semua dikerjakan dengan detail dan sungguh-sungguh. Jadi ngga ada ceritanya pelayan toko mainan hp, atau penjaga resto cuek aja dengan piring kotor yang ditinggal pelanggan. Mau yang punya ataupun yang kerja, semua kerja dengan fokus dan selalu aktif. Kalau lagi ngga ada pelanggan ya beres-beres atau bersihkan toko. Produk-produknya menggambarkan keseriusan menekuni bidangnya, makanya suka ditemukan poduk dengan kreasi yang berbeda. 

Orang Jepang juga fanatik terhadap sesuatu. Misal merk make up mesti yang terkenal. Beli pernak pernik Disney atau Harry Potter suatu keharusan, beli kaya ngga pake mikir dan mau aja make, laki sekalipun. Jamak kami temui cowok berbando minion dan pakai celana monyet gitu, demi ngompakin sama ceweknya. Atau kumpulan cowok berbando kupingnya mickey 😀 Kalau di Tokyo pakaian mereka seragam, jas dan blazer mahal, tas bermerk, sepatu mengkilap, tapi naik MRT ya ngga sungkan. Handphone yang dipakai mostly iPhone. Kalau ada yang pake Oppo pasti dari china mainland 😀

Jepang itu bersih banget, padahal tempat sampah jarang. Masyarakatnya sudah biasa memilah sampah dan membawa-bawa sampah sampai ketemu tempat pembuangan yang resmi. Meskipun begitu menemui orang merokok itu gampang banget, meski mereka merokoknya ya di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Cowok cewek sama aja rokokannya. 
Kalau soal makanan, paling ngga cocok deh dengan gaya makan ala orang Tokyo ini. Karena keterbatasan space, ruangan dibuat ringkas kaya di bar. Ad ameja panjang dengan kursi-kursi tinggi. Buat depot yang laris itu kalau ada orang lagi makan, belakangnya sudah berdiri orang yang siap menduduki kursinya. Waduh jadi ngga enak nih makan sambil dipandangi orang, disumpahin cepet selesai lagi 😀

Mereka juga suka minum, terutama bir. Nda tau ya kalau di Indo kan katanya bir memabukkan dst dsb dll. Kalau disini mereka pulang kerja habis minum-makan di bar, besoknya sudah siap kerja lagi. Entah karena badannya kuat atau bir itu ada batas tertentu konsumsi sebelum mabuk 😛 Pas di pesawat ya gitu, penumpang yang orang Jepang bisa berkali-kali minta wine dan sampanye yang bisa diperoleh gratis. Kalau kami maksimal green tea sama kiwi juice aja dah 😀

Yang paling membedakan dari mereka dengan kita adalah lingkar perut. Buset dah kecil-kecil banget dan kalau boleh saya bilang, ngga ada perutnya! Dari satu keterangan teman yang kakaknya nikah dengan orang Jepang, disana tuh ada aturan kalau pegawainya memiliki lingkar perut lebih dari 90 cm dikasih teguran dan harus menurunkan. Wah kalau saya disana kali kena SP3 ya 😛 Ngga cowok ngga cewek cilik-cilik kabeh, jadi bagus kalau pake baju three pieces dan terkesan lincah. Pake kemeja slim fit gitu ya pantes, pake celana yang hipnya tinggi ya pantes. Kenapa bisa kecil, perlu diliat dari in dan outnya kalori. Mereka sarapan paling makan onigiri yang model lemper itu. Siang lunch sama teman-teman di luar yang kalau satu set menu isinya nasi semangkok, miso soup, daging atau ikan, salad, dan green tea. Malem ngebir sambil makan sate, keju atau kacang. Outnya dong, karena pake taksi atau punya mobil itu mahal, mereka harus pake kereta atau bis. Ke stasiun atau halte kan butuh usaha sendiri. Jalan cenderung cepat karena mengejar waktu dan semua orang begitu. Pekerjaan rumah ditangani sendiri karena pasti ngga ada pembantu. Buat ibu rumah tangga ya sama mana sempet ngemil gorengan sambil nonton tivi. Rumah perlu diberesin, makanan perlu dimasak biar hemat, cucian perlu dibereskan tiap hari, anak perlu diantar jemput. Muter terus tiap hari kaya gitu. Mana mereka bersihan dan iklim 4 musim ini bikin panas ekstrim atau dingin ekstrim. Belum lagi mataharinya lagi di selatan atau utara, yang bikin puasa tambah panjang atau jemuran ngga kering-kering.

Begitu deh sebagian cerita ketemu orang Jepang dimana-mana (ya iyalah! :P) Senengnya kalau jalan sendiri itu, kita jadi banyak terlibat dengan orang lokal yang ngga siap ketemu turis. Tapi dari situlah kita bisa melihat keaslian tabiat suatu bangsa, bukan yang sudah dipoles untuk mendukung industri pariwisata. Trus cerita ini yang akan tersebar, tiru yang baik dan buang yang buruk, supaya nanti ngga kagetan dan gumunan begitu batas negara dibuka dan ketemu warga dunia 🙂
***

IndriHapsari

Advertisements