Road to England

Jalan-jalan kali ini, yang tetap disponsori Bapaknya dan direstui Tuhan 😊, lanjut ke benua Eropa. Tepatnya di United Kingdom alias Inggris. Kenapa kesana, karena ada yang kepingin menikmati wahana Harry Potter di Warner Bross, London. Karena kesananya mihil dan rugi kalo ke situ doang, akhirnya dicarilah wisata lain yang bisa kita kunjungi selama seminggu. Sisa liburannya dipake buat ke Disneyland Paris, which is boros banget karena berarti kita mesti urus visa dua kali, satu Inggris, satu yang Schengen. Cerita gini supaya kelak ngga ada yang mengulang kesalahan yang sama. Tapi kalau sudah diniatin, rejeki-kesempatan-kesehatan ada, ya hayo aja 😁

Tahap pertama nyari tiket pesawat yang jadi komponen biaya terbesar. Sejak Air Asia menutup rutenya ke Inggris, agak susah cari penerbangan murah dan 1 maskapai. Kalau ganti-ganti gitu kali ada ya, tapi kan tapi kan repot nih usung-usung koper dan ngantri imigrasi. Maunya nasionalis naik Garuda, tapi mahal juga termasuk pas dia lagi diskon. Akhirnya dari situs pencari tiket, didapatlah nama Emirates atau Qatar Airways. Kata bapaknya yang sudah pake dua-duanya, sama bagusnya kok, full board juga jadi ngga pegel selama penerbangan 19 jam itu. Cek lagi antara dua penerbangan itu dari agen tur, ternyata Qatar Airways lebih murah. Oya, harga di agen tur lebih murah daripada di situs pencari tadi atau situsnya Qatar, karena mereka sudah ada kerjasama. Antara dua agen tur, waktu itu lebih murah yang Bayu Buana. Bayar di agen, dan bukti pembayaran nanti yang dibawa bapaknya ke kantor Qatar di Jakarta untuk booking tempat duduk. Sebabnya kalau telat kita jadi misah-misah duduknya. Benernya agen juga nawarin paket berapa hari di Inggris, trus jual tiket Eurostar untuk perjalanan Inggris – Prancis, tiket Disneyland, visa dan lain sebagainya. Tapi kita kan suka repot dan nyari murah 😁 jadi lanjut sendiri.

Pas berangkat dari Jakarta – Doha kita pake Boeing 787. Mirip sama pas ke Jepang kemarin, naik JAL. Fasilitasnya seperti layar depan kursi juga sama, pilihan film yang beragam, map, lalu si kecil dapat satu set tas penuh permainan biar ngga bosen. Anaknya sih nonton aja udah asyik sendiri 😁

Makanannya lumayan, cuma ada kita yang ngga bisa makan. Saladnya keaseman, takut masalah selama di penerbangan jadi kita ngga makan. Aneh si sebenarnya, karena biasanya makanan di pesawat sangat netral rasanya, ngga boleh keaseman, kepedesan, atau keasinan.

Begitu nyampe Doha, turun pesawat mau ke bis, langsung sreng…kena udara panas gurun. Hah ngga enak banget rasanya, padahal cuma dua menit. Bandaranya sih mewah, tengah malam gitu toko-toko masih beroperasi lengkap dengan penjaga tokonya yang berdasi. Mau belanja agak males ya karena barangnya premium semua dan ngga ada yang khas. Coklat murahan di sana untuk merk-merk internesyenel.

Makanan dari Doha ke London lebih enak. Sarapan kita mau yang light aja kaya omellete with mushroom. Trus yang kagum apel kupasnya dikemas, tetep manis, renyah dan ngga coklat. Duh gimana caranya ya. Asyik juga kalau buah-buahan Indonesia bisa dikemas kaya gini dan bisa dikantongin kemana-mana.

Nah dari Doha ke London pesawatnya ganti dengan Boeing Dreamliner. Ini pesawat yang double deck gitu. Berhubung kita bukan kelas bisnis apalagi premium, ngga bisa cerita juga bedanya gimana 😁 Tapi kalau dari layar TVnya, ada kameranya lo di buntut, lambung sama depan pesawat. Jadi kita tahu pas mau landing (karena take offnya tengah malam) di London konturnya London gimana. Atau pas mendarat bisa lihat pesawatnya ini sudah nyampe tempat parkir belum. Berguna banget dipasangin kamera gini.

Etapi ada bedanya loh standar pelayanan Qatar ini. Pas dari Doha ke London, tas kita dicek lagi pas mau masuk waiting room. Sebaliknya, dari Doha ke Jakarta masuk ya masuk aja. Bagasi pas di London dicekin sama petugas Qatar, kita ngambil bagasi yang bener apa ngga. Di Jakarta, petugasnya cuma ngambilin kartu disclaimer, trus ngga dicek tiketnya sama bagasi yang diambil. Pantesan aja kasus kaya anak SMP ambil bagasi orang itu terjadi. Duh negeriku 😢

Berikutnya nyari hotel. Di agen tur juga bisa tapi pilihan hotelnya terbatas dan kita ngga tau hotelnya kaya apa. Balik lagi ke situs di internet karena lengkap ada gambar, peta dan review, jadi bisa bayangin kondisinya. Peta ini perlu karena kita bakal mengandalkan kereta. Situs yang dipake Agoda as usual, dan kita batasannya budget. Di London dan Tokyo tempo hari yang terkenal apa-apa mahal, ternyata dapat juga loh hotel yang nice and comfortable, terutama buat kami berempat yang badannya gede-gede ini 😁 Anak-anak sudah pada besar ngga bisa diselip-selipin (emangnya duit 😂) ke bednya orang tua. Yang penting tidurnya nyaman, kamar mandi bersih, hotelnya ngga sumpek. Didapatlah nama Shepherd Bush Boutique Hotel, yang ternyata dia tuh sebelahan sama stasiun Sheperd Bush Market Underground. Wah, cucok wis! 😁

Jangan lupa urusan visa. Untuk meyakinkan petugas, kita siapin tiket dan hotel dulu jaga-jaga kalau ditanya. Seperti yang saya bilang di awal, ini urusan visa lebih repot karena semua di Jakarta. Bapaknya pake agen visa, jadi tinggal ngisi dokumen, nyiapin pas foto terbaru, keterangan sekolah dan kerja, trus kita janjian sama agennya mau ngurus kapan buat foto lagi dan cetak sidik jari. Ntar kesana sudah diantrii agennya, tinggal masuk dan menjalani proses, bagus buat yang waktunya mepet dan duitnya ada. Ntar kalau sudah selesai dia juga yang ngambilin. Tiap agen punya spesialisasi ngurus visa jenis tertentu. Karena ngurusnya serial, jadinya rombongan kesana sampai dua kali, ke daerah Kuningan situ tapi gedungnya beda. Biayanya jadi selain biaya visa sendiri, biaya agen, ditambah biaya transport dari dan ke Jakarta, transport selama di Jakarta, dan lain-lain. Apalagi dilakukan di tengah anak pertama lagi ujian-ujian, brrr bikin deg-degan takut waktunya ngga pas 😅 Puji Tuhan lancar semua, kita nunggu ngga sampai sebulan untuk setiap visa yang diajukan.

Selanjutnya bikin rencana perjalanan rinci karena kita mau beli tiket-tiket secara daring. Ada Disneyland yang ternyata expirednya 6 bulan. Pakenya sih tetap dibatasi satu hari untuk dua park. Ada Eurostar yang strict banget hari dan jamnya. Oya waktu itu kebayang mesti nyampe Paris pagi biar bisa keliling-keliling. Lupa ngebayangin ke Stasiun Pancras International juga perlu waktu, jadi kita mesti ambil kereta pertama dari Sheperd Bush. Warner Bross awalnya mau beli online, tapi liat postingan teman yang lagi dinner ala Harry Potter di dining hallnya Oxford University, baru tau kalau tempat itu banyak dipakai jadi tempat syutingnya Harpot. Nyari angkutan kesana kok syusye ya, akhirnya dapet tur yang memadukan dua wisata Hatpot tersebut. Mahal sih daripada kita jalan sendiri, tapi karena kita belum tau menclok-mencloknya bakal dimana, akhirnya tetap dibooking. Ada juga yang gagal booking seperti London Pass dan Oyster Card. London Pass membantu kita untuk masuk wisata yang dituju dengan gratis atau gratis dan dapat fast track. Belinya bisa bareng Oyster Card, yang merupakan kartu transportasi untuk naik bis, kereta, dan boat. Kirain bisa pake digital, ternyata khusus Oyster akan dikirimkan ke alamat rumah kita. Hah, ngirim ke Indonesia bisa panjang urusannya dan bisa-bisa ngga nyampe. Akhirnya kita putuskan beli pas nyampe aja. Oysternya beli di Heathrow karena langsung kita pake untuk pergi ke hotel, London Passnya kita beli di kantornya di stasiun Kings Cross.

Sebelum berangkat cetak dulu semua dokumen, simpan di HP untuk jaga-jaga. Tukar duit seperlunya di Indonesia, karena ngambil ATM di negara tujuan kursnya lebih murah. Bayar-bayar juga cash aja, pake kartu kredit jatuhnya lebih mahal (etapi itu pikiran awal ya, Inggris masih mau nerima cash. Kalau di Prancis susah, mereka lebih milih pakai kartu sekecil apapun transaksinya). Obat-obat disiapin dari Indonesia agak banyakan, ke dokter dulu aja kalau perlu beresin keluhan-keluhan. Inget di Inggris makan aja mahal, apalagi obat 😅 Baju-baju dipacking rapi pake traveling bag yang kecil-kecil itu loh, lumayan menghemat tempat karena jadi padat penyimpanannya, dan bongkarnya juga mudah karena per bagian. Sayang ngga sempat difoto semua, kalau sekarang mah sudah diacak-acak 😆

Oya mau kemana-kemananya andalan kita TripAdvisor, trus di situsnya London Pass juga ada. Rute diperhatikan di Google Map cari yang mudah aksesnya. Selain kita ngga biasa jalan kaki jauh ☺️ ada keterbatasan waktu juga. Dan ngga bela-belain banget kesana kaya kita belain ke Oxford, jadi siap-siap menanti transportasi bersama sesama rakyat jelata. Untungnya di London semua jalan sejak jam 5 pagi dan kereta terakhir tengah malam gitu. Transportnya juga nyaman dan jelas waktunya, bisa jadi andalan. Peta rute kereta disiapin, meski petunjuk di stasiun dan keretanya sudah cukup jelas dan detail. Di London ini banyak tempat wisata yang tutup hari Senin, dan semua tutupnya jam 5 atau 6 sore gitu, jadi mesti nyocokin dengan itinerarynya.

Hal lain adalah soal komunikasi, apalagi sekarang jaman ngechat lewat internet ya untuk koordinasi. Beli kartu pas di negara tujuan emang sudah berulang kali kita lakukan, dengan harapan kenanya lebih murah. Tapi benernya kalau dikurskan juga sama aja loh, antara harga beli dan biaya operasionalnya. Belum harus mengaktifkan dulu, yang mesti dilakukan dengan cara nyambung internet. La pigimane, nomornya aja belum nyambung dan ada prosedur pendaftaran yang belum diikuti. Akhirnya milih aktifin paket provider lokal aja dah. Dan karena semua provider dikuasai asing, tinggal liat negara tujuan dikuasai siapa. Misal jaringan Tri murah kalau lagi di Australia dan Inggris. XL Pass cakep untuk menghemat roaming, asal kuota cukup.

Akhirnya, happy traveling ke UK ya. Kisah ya bisa diklik-klik tautan di bawah ini, atau search London di kolom pencarian 😊

Museum di London

Wisata Lain di London

Harry Potter di London

Orang Inggris

***

IndriHapsari

Advertisements