Wisata ke Paris

Aslinya ke Paris cuma mau ngejer Disneyland. Iya, rugi banget karena urus visanya kan beda sama Inggris. Tapi ya sudah lah, sudah diniatin, termasuk untuk bolak balik ke Jakarta urus visa.

Dari London kami pakai Eurostar untuk menuju Paris. Bertempat di St. Pancras Internasional, Eurostar akan berangkat ke Paris, Amsterdam, Brussel, dan entah daerah mana lagi. Penumpang ngantri sejam sebelum keberangkatan, tap karcisnya, diperiksa bawaannya, trus masuk imigrasi Prancis. Iya, imigrasi Prancis yang letaknya di Inggris. Mengingatkan kami berarti Inggris ngga pernah cap keluar Inggris ya.

Keretanya enak, dan karena saya pesan online, sekalian pilih kursi yang adep-adepan dan ada mejanya. Pemandangan membosankan sih, terlebih karena jalannya cepat. Trus kereta masuk beberapa puluh meter di bawah air laut, dan muncul kembali ke daratan begitu nyampe daratan Prancis.

Di Prancis stasiun pertama yang kita datangi namanya Gare du Nord. Stasiunnya gedeee dengan tentara yang wira-wiri. Seriusan 😅 Pak tentaranya jalan patroli pake senjata laras panjang gitu. Duh berasa mau perang. Tiket kereta di Paris mungkin ada yang model Oyster hitu. Tapi berhubung kita cuma bentar disana, kita beli yang paket dua harian, which is…salah. Soalnya besokannya kan kita mau seharian di Disneyland. Ngga kepake dong si tiket.

Oya satu lagi yang bikin nyesel, paketannya itu dibagi dalam zona. Trus karena hotel kita rekanan Disney, letaknya di pinggiran Paris gitu dan masuk zona 5 atau paling luar. Kena paling mahal deh. Karcisnya juga model lembaran kertas cilik, gampang ilangnya nih 😟 Caranya masukin ke mesin tiket sisi depan, trus tarik tiketnya dari sisi atas. Tapi orang lain pada ngetap kartu, jadi mestinya ada yang buat langganan. Oya disini ngga ada potongan harga untuk anak-anak, orangnya ngga nawarin, kita juga ngga nanya. Kendalanya bahasa, kita cuma bisa Inggris, mereka meski bisa suka males pake bahasa musuh lamanya itu. Kekalahan di Waterloo mungkin masih membekas 😅

Stasiunnya lebih riuh daripada di London. Pas kita nyampe itu agak bingung baca petanya, sampe akhirnya tahu metronya Paris ini jalan dari ujung ke ujung…dengan abjad. Jadi yang kita ke stasiun Val d’Europe itu dari Gare du Nord naik RER D, turun di Chatelet (sumpah susah ngomongnya), trus naik RER A. Ladalah pas kita nyampe di Chatelet terjadi penumpukan penumpang karena keretanya pada telat dateng. Mana bawa koper penuh barang lagi.

Tapi meski gitu, papan petunjuknya jelas banget. Isinya seluruh stasiun yang akan dilalui, trus kalau ada kereta yang datang, stasiun yang akan dilewati akan nyala lampunya. Jadi kita ngga mungkin salah naik kereta. Ternyata itu emang dia bikin ruwet sendiri. Kereta macam RER A misalnya, ternyata ngga semua sampai ujung dan ngga semua stasiun dia berhenti 😅

Keretanya yang RER terdiri dari dua lantai atau double deck. Dulu kita naik gini juga di Sydney. Cuma disini orangnya lebih banyak. Kalau kereta yang kodenya M diikuti angka, persis KRL kita ya. Di kereta ada layar petunjuk yang memperlihatkan kereta inj bakal ngelewati stasiun mana aja, dan stasiun mana yang terdekat. Keretanya bersih dan jarang orang yang mau berdiri.

Hotel kita sendiri ternyata tepat di sebrang stasiun. Bernama sama, Hotel Elysse Val d’Europe, resepsionisnya pinter bahasa Inggris jadi komunikasi lancar. Karena belum waktunya checkout kami nitip koper dulu dan numpang pipis. E itu toiletnya mirip ruang disko 😂 Beneran, lengkap sama lampu warna warni yang berputar, musik riang yang dimainkan, dan toiletnya serba hitam 😅 Keluar dari toilet eh hotel kita lihat ada mall dan restaurant. Owh boleh juga lingkungannya.

Naik RER A lagi, kita ke daerah tengah kota. Rencananya mau ngejer ke Museum Louvre sebelum dia tutup, karena esok dia tutup. Ini gara-gara berita sama sharing orang dicopet di Paris yang bertubi-tubi, sama ada pengalaman tante dijambret juga disini, membuat kita jadi ekstra hati-hati dan jarang foto. Duh sedih benernya. Paris itu tengah kotanya bangunannya mirip Inggris, tua dan megah. Kalau jalanan lebih rame dan suka ada kendaraan nyelonong aja meski lampu pejalan kaki untuk menyebrang telah menyala. Cuaca lebih panas dan polusi lebih banyak.

Museum Louvre sendiri terletak di Palais du Louvre yang megah dan kosong halamannya. Banyak orang sudah foto-foto meski belum nyampe piramidnya…dan ada pedagang asongan. Ih beneran, sejak liburan minggu laku baru kali ini ada yang ngasong, means ilegal. Yang jual imigran, jualan souvenir sama air mineral yang dijual 1 euro. Eh, emang boleh ya?

Pertanyaan ini terjawab pas ngantri satu jam untuk masuk Louvre. Liat ada tentara bertiga lagi patroli, lagi-lagi dengan senapan laras panjang. Trus liat dua orang polisi pake sepatu roda meluncur ke kerumunan pengunjung. Ternyata…ada pedagang asongan nekat jualan souvenir disana. Ditangkap dan dicatat sama polisi tingkahnya, mungkin barangnya disita.

Lama ngantri itu karena selain pengunjungnya banyak (ini kayanya turis yang bis-bisan) ada pemeriksaan tas. Begitu lolos, kita turun pake eskalator dan fiuh…masuk plaza yang luaaaas banget dan banyak orang. Untuk masuk Louvre anak-anak gratis. Ada toilet dan customer service cukup banyak untuk ditanyai. Selesai urusan kita trus naik setengah lantai (lagi-lagi pakai eskalator) dan masuk ke ruangan pertama yang penuh orang.

Duh kalau inget-inget di Inggris kemaren, perasaan lebih nyamanan disana deh. Koleksi bejibun tapi orang jarang. Jadi bisa anteng ngeliatin pajangan. La disini, liat lukisan aja susah karena penuh kepala. Apalagi kalau ketemu turis Cina, foto-foto depan lukisan mulu jadi susah mau ngamatin ini lukisan apa. Ada audio guide tapi kita sudah nyerah liat banyaknya pengunjung. Akhirnya misinya cuma satu, nemuin Monalisa.

Dan itu ngga gampang loh. Tiap ruangan gede-gede dan sudah dibagi, ada petunjuk khusus untuk Monalisa karena sepertinya dia yang selalu dituju. Ngelewatin lautan manusia, salah jalan, dicuekin penjaga, sampe terakhir ngga ada petunjuknya tapi insting bapaknya mengatakan Monalisa ada disana. Kita masuk dan benar aja, semua lagi ngerubungin lukisan tersebut. Saya sih nyender aja sama orang bule yang cuma menatap lukisan tersebut dari kejauhan, kali mikir apaaa asyiknya nonton sambil umpel-umpan gitu. Saya katakan ke anak saya bahwa yang dipajang bukan yang asli. Eeeh dia malah ngajak nyari yang asli. Walah liat yang replikasi aja susah apalagi yang beneran 😅

Selesai liat Monalisa kita langsung keluar. Pintu keluarnya ternyata mengarah ke mall yang tokonya ada menjual pernak pernik lucu. Eiffelnya ada yang bentuk gunting, parutan, dan sikat gigi. Duh lucu-lucunya 😁 Yang ngga lucu tuh ongkos pipisnya. Disini wajib banget bayar uang pipis ke penjaga, 1,5 euro atau sekitar 20 ribu. Mana ngantri lagi. Berbeda dengan toilet yang masih manual, restoran dan supermarketnya malah lebih canggih. McDnya aja memotong waktu antrian dengan menempatkan banyak layar besar di sekeliling outletnya. Jadi pembeli yang galauan itu silakan pencet menu yang dipilih di layar, kalau sudah OK semua ditanya mau pake cash atau card. Keluar struk, itu yang kita bayar ke kasir. Sejak kita bayar itu baru pesanan kita diproses. Supermarketnya juga pake mesin untuk pembayaran cash. Scanin satu-satu barangnya, ntar muncul identifikasi barang plus harga. Kalau sudah ok baru kita masukin receh dan uang kertas. Dengan cara begini toko akan terhindar dari uang palsu dan ketidaktepatan pengembalian uang. Gimana dengan pembeli yang nakalan, barang ngga discan langsung dimasukin kantong misalnya? Begitu keluar detektornya langsung bunyi.

Kita menuju Bateaux-Mouches, yang kalau diterjemahkan perahu terbang. Ini adalah river cruise ala Paris. Naik bis kesana (tiket keretanya bisa dipake) pas mau turun ke tepi sungai pemandangannya sudah Eiffel gitu. Lagi-lagi dermaga dipenuhi turis bis-bisan yang mau berlayar juga. Ngga lama menunggu kapal kita datang. Dan beda dengan di London kita milih duduk di atas, karena cuaca Paris cukup panas. Kan enak kalau di luar ruangan kita bisa kena semilir angin.

Guide kita mesin, dengan lima bahasa. Ngga gitu berguna karena ngga jelas. Saya sih mengandalkan map untuk tahu kita sampe mana aja. Bagus juga sih sungainya bersih, meski lebaran Thames daripada Seine. Kiri kanan tempatnya gedung-gedung bersejarah, termasuk yang paling gede Muse d’ Orsay. Ada juga Muse d’Army yang jadi kebanggaan orang Prancis. Oya disinilah yang namanya perspektif ya. Kalau di museum-museum di London Napoleon digambarkan cebol dan penjahat perang, di Prancis dia dipuja sebagai pahlawan perang. Lukisannya aja lebih ngganteng dan cuma separuh badan 😬

Kapal ini juga melewati sisi kanan Katedral Notredame yang mirip dengan Westminster Abbey. Begitu sampai Natural Museum of History yang guede juga, kapal berbalik melewati dermaga kita pertama, dan kehebohan muncul saat makin mendekati Eiffel. Hayo aja pada menuh-menuhin dek buat foto-foto. Habis itu kapal berbalik dan kembali ke dermaga.

Maunya sih bisa mengunjungi berbagai tempat ya. Tapi trus hari sore dan meski matahari masih bersinar (disini matahari sudah nongol jam 4 pagi dan tenggelam jam 9 malam 😅) kitanya sudah lelah. Trus makan jadi apa yang ada, jadi ngga tau makanan Prancis apa khasnya. Masak selama disana makannya jadi di resto Korea, McD dan resto Italia 😅.

Besoknya kita pengen full di Disney soalnya Disney Prancis ada dua taman, Walt Disney Studio dan Disneyland. Karena hotel kita partner, kita dapet fasilitas shuttle yang melalui 3 hotel yang berbeda. Bisnya panjaaang, dan sopir yang nganter kita jam 9 pagi sama dengan sopir yang jemput kita jam 9 malam. Buset dah, kerja 12 jam? 😅

Walt Disney Studio baru kita datengin cuma yang di Paris ini. Kayanya di Hong Kong sama Jepang emang ngga ada. Isinya di luar Donal bebek, maksudnya tokoh Disney yang klasik. Makanya ada pertunjukan Marvel segala, baik yang outdoor maupun indoor. Disini Marvelnya pake bahasa Prancis 😅 Tapi yang di indoor, yang ngantrinya ampe jam-jaman itu, pake bales-balesan Inggris Prancis. Cuma Thanos aja yang diterjemahin. Anyway teknis pertunjukkannya bagus banget, bayangin di film yang biasanya rekayasa dan digital, disini harus pake mekanisasi karena disini live show.

Aslinya mau ke wahana Rattatouile karena itu kan khas Prancis. Eh ngantrinya panjang, begitu kita dateng siangan eh dianya tutup 😅 Ya sudah ngga jodoh. Kita bisa ngejer pertunjukan motor stuntmant, bagus dan menampung banyak jadi dateng last minute gitu masih bisa. Trus ke Crush Coaster, iklannya sih katanya ngikutin perjalanan Marlin di cangkang kura-kura. It must be fun! Lah ternyata itu roller coaster yang menyamar. Ih dibolak balik sampe mabok, sampe ngga liat apa yang ada di depan mata gara-gara seremnya. Naik kora-kora aja mabok, gimana naik coaster 😆 Duh kapok dah…

Sorean baru kita ke Disney. Oya kita melewatkan wahana-wahana yang pernah kita datangi di negara lain, biar fokus dan waktunya cukup buat satu hari. Alhasil nyampe Disneyland antrean wahananya udah gila-gilaan, sudah capek pula, jadi cuma sedikit yang kita datangi. Malah kesukaan terbesar waktu kita nemu bebek dan si kecil sibuk ngasih roti yang sengaja disimpannya buat burung atau bebek yang ketemu di jalan. Meski kaya Ernest Prakarsa itu kebiasaan norak turis pemula, biarin dah anaknya seneng ini 😁

Pulangnya kita coba makan di luar komplek, dan nemuin resto Italia di deketnya Five Guys yang jualan burger. Begitu masuk dicegat sekuriti berwajah jutek, yang menjelaskan dengan kaku cara pesannya. Jadi kita disuruh datengin kokinya satu-satu, sebut menu yang kita pilih, tungguin sampe selesai dimasak, dan pesanan akan dimasukkan dalam kartu kita. Dari sini terdengar mudah yah.

Ternyata antreannya meski cuma tiga orang di depan, bikin kita berdiri sejam lebih. Ya iyalah, ini sama aja nungguin masakan buat minim 3 porsi, bukan pesanan kita lagi, dengan cara yang menyiksa. Bayangin uda cape ngantri di Disneyland, tambahin ngantri di restoran. Belum bayangin kesibukan si koki. Itu dia selain harus bisa masak aneka macam pasta dan risotto, masaknya mesti satu-satu karena tiap porsi dia akan ganti wajan. Belum ngelayani customer yang nanya atau ubah ini itu. Belum ada aja yang ngga hapal masaknya (koki sebelah bolak balik liat komposisi bahan di contekannya). Belum dia ngelayani ambil minum juga. Belum ketemu pelanggan yang ngga bisa bahasa Prancis. Makanya konyol masuk resto ini. Jadi inget masih mending tukang nasi goreng di ujung gang. Variasinya tertentu, sehingga dia bisa masak bareng berporsi-porsi. Sudah mendarah daging resep dan pengalamannya, jadi udah kaya robot aja, cepat dan rasanya standar. Pelanggan juga pasti duduk di bangku ngga melototin si tukang nasgor sambil cerewet ngajak ngomong. Gimana coba, ngga dilayanin dibilangnya jutek, dilayanin ntar ada yang angus, siapa yang tanggung?

Yak setelah ngomel-ngomel gitu, besoknya sebelum pulang kita ke Auchan dulu, supermarket super lengkap mirip Carrefour. Lantai pertama isinya yang non makanan, baku-bajunya lebih murah daripada di Primark. Lantai basement isinya makanan semua, super lengkap. Aneka daging, sayur, buah, makanan jadi, keju, sosis, sushi, semua makanan frozen dan microwave. Duh kalau Paris deket Surabaya wis tak borong 😁

Berangkat ke airport Charles de Gaulle kita putuskan pakai taxi karena bawaan kita yang berat. Ngga sanggup rasanya nyeret koper apalagi ngangkut koper menaiki tangga stasiun (dalam kasus ini di London). Dipesenin taxi oleh resepsionis hotel sekalian dikasih ancer-ancer harga, yang nyupirin kita rada stw dan necis orangnya. Mobilnya dong, VW Caravelle 😁 Walah seumur-umur baru kali ini naik mobil nyaman ini. Saking nyamannya ni mobil sempet hampir nyrempet dua kali di tol gara-gara sopirnya ngantuk 😅 Anyway sopirnya baik dan care, jadi patut dikasih tip.

Bandara Charles de Gaulle sendiri luas banget kompleksnya, jangan sampe salah terminal deh, makan waktu untuk mencapai terminal lainnya. Setelah check in, masuk ke imigrasi, trus siap beredar ngabisin euro. La ternyata…sama Cengkareng aja kalah ni bandara 😅 tempat nongkrongnya dikit, lebih banyak toko oleh-oleh. Banyaknya pun yang kita lewatin masih lebih banyak Cengkareng lo. Bedanya di waiting room masih ada yang jualan jadi kalau mau ngopi-ngopi masih bisa.

Kalau ada kesempatan mau dong balik lagi kesini. Mengunjungi museum-museum yang belum sempat didatangi, dan semoga saat kesempatan itu datang situasinya lebih kondusif ya 😊

***

IndriHapsari

Advertisements