Ramayana Ballet, A Must-See Show In Yogyakarta

Terus terang ke Yogya itu cuma satu kali yang atas keinginan sendiri. Entah ya, dari ratusan juta orang yang memuja Yogya, I’m not one of them. Yah mungkin masalah selera aja. Tapi, gara-gara domisili saya di Jawa Timur, kalau ada acara sekolah atau kantor, jeblusnya ya Yogya lagi. Hal ini tidak lain karena kesiapan pariwisatanya dibandingkan dengan daerah lain. Jadi saya berulang-ulang kesini tanpa ada yang mengikat. Tapi khusus untuk Sendratari Ramayana ini, ini kali ketiga saya menontonnya dan kali kedua datang ke Yogya atas keinginan sendiri. Niatnya memperkenalkan karya seni klasik ini ke anak-anak.

.

Mungkin ada sepuluh tahun yah saat saya menyaksikan untuk pertama kali di teater indoor. Terpesona sungguh, karena baru pertama liat pertunjukan tari dengan lighting yang bagus gitu secara langsung. Lima tahun kemudian berkesempatan nonton yang outdoor, lebih kolosal memang karena di ampitheater gitu yang memungkinkan kreativitas yang lebih besar. Then, saat ini kami dapat kesempatan menyaksikannya indoor lagi. Sebabnya karena musim hujan, jadi mesti ngecek jadwal tanggal dan bulan apa ada pertunjukan, karena ngga tiap hari ada. Penuh terus lo, pesannya jangan dadakan. Saya sendiri pesan dari internet, pas hari H tukar bukti pembayaran ke loket.


Komplek sendratarinya ada di belakang candi Prambanan. Kalau dari Yogya belok kirinya sebelum belok kiri ke candi. Ada Rama Sinta Garden Resto, makanannya hanya ada buffet seharga 130 ribu per pax. Selalu penuh juga jadi booking aja sebelumnya, atau pas lagi beruntung masih bisa dapat satu atau dua meja disana.
Para penyambut tamu akan mengantarkan kita ke kursi yang sudah kita pilih. Untuk harganya sepertinya ada musim-musimnya ya, kemaren kami dapat yang kelas 1 dengan harga 200 ribu per pax. Termasuk mahal untuk di Indonesia, tapi bayangin penarinya, pemain gamelan, sinden, MC, pendukung lainnya, fasilitas…udah berapa tuh. Salah satu cara melestarikan budaya tradisional adalah: jangan pelit sama bangsa sendiri. Itu cara mereka bertahan dan menarik minat generasi muda juga untuk melanjutkan. Kan ngga lucu misalnya kalau yang jadi Sita sudah ngga segar lagi karena ngga ada regenerasi 😅

.
Pertunjukannya selalu seru dengan gamelan, tembang, tata suara dan pencahayaan yang keren. Ini yang ngomong dari orang yang sudah nonton berkali-kali ya dan ngga pernah bosan. Semua disampaikan dalam bahasa Jawa, tapi ada tulisan yang menceritakan ini adegan apa dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Waktu masuk juga bisa ambil sinopsisnya dalam 6 bahasa. Ceritanya seru, paduan dari wanita, tahta, adegn aksi, panahan, tarian yang lincah dan lemah gemulai. Meski diijinkan memotret dan merekam, datang langsung dan lihat sendiri tentu beda ambiencenya. Pertunjukannya mulai jam 19.30 dan berlangsung selama dua jam, 10 menit break.


Kali ini yang saya tangkap adalah begitu agungnya budaya Jawa. Dari kostum aja sudah keliatan ribetnya. Kainnya raja sama bawahan beda. Antar bawahan lain jabatan beda juga. Hiasan kepala, selendang, keris, perhiasan, itu kayanya dipikir sampai mumet oleh para nenek moyang kita demi menciptakan karya yang maha agung. Sampai sekarang saya belum bisa membedakan duo monyet bersaudara, Sugriwa dan Subali 😅 Tapi suami bisa tuh, berarti bisa dikenali ya. Itu yang sudah bentuk orang loh, apalagi wayang yang menurut saya sama semua. Suami sih sekali lihat bisa membedakan mana Kresna mana Arjuna, yang menurut dia agak mirip.

.
Apakah semua pernak-pernik itu hanya untuk pembeda saja? Tentu tidak. Kalau melihat bagaimana budaya Jawa ini selalu ngomong lewat simbol, itu sampai motif kainnya juga ada artinya. Baru sadar pas ke Museum Tekstil kemarin yang mostly isinya batik, wah batiknya ada maksudnya sendiri-sendiri. Makanya pas kemaren ada yang ketemuan sama Pak Presiden terus diomongin motif batiknya, ya karena itu 😁 Itu baru batik, ukir-ukiran di penghias kepala juga ada maksudnya sendiri, demikian juga hiasan di dada, ikat pinggang, selendang.

.
Bicara soal simbol, gerakan tari itu juga simbolik ya. Ngga kebayang menciptakan gerakan-gerakan itu untuk satu aktivitas, terus beragam aktivitas, terus beragam peran…hadeuuh…belum menyelaraskan gerakan antara dua atau banyak penari. Itu gerakan berantem rumit juga ya kakinya 😅 Melakukan gerakannya saja sudah rumit, apalagi menjiwai peran dan menarik minat penonton. Ada adegan seru, sedih, bahkan humor. Kalau ada tokoh yang mati (kalau di sendratari ini semua tewas) ada adegan moksa alias rohnya berangkat ke akhirat. Biasanya berlangsung biasa, kecuali buat Kumbakarna yang meskipun adik dari Rahwana yang menculik Sita, dia jadi tokoh baik yang suka bertapa. Khusus untuk Kumbakarna yang jemput bidadari, pakai kain putih dan wangi dupa. Simbolik matinya orang baik itu masuk ke surga.

.
Hal lain yang dibutuhkan adalah regenerasi. Ngga ada yang salah dengan pemain yang senior, karena make up bisa mengurangi efek munculnya kerutan karena gravitasi 😁 Cuma kalau ada yang muda dan mampu menjalankan perannya dengan baik itu berarti regenerasi berhasil, tradisi ini jadi ada yang meneruskan. Bukan cuma soal kecintaan terhadap tari dan keahlian menarikannya aja lo, tapi kerjaan ini juga harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup para penari dan mereka yang terlibat di dalamnya. Bersyukur para peran wanita yang terlibat kemarin terlihat muda dan cantik, idaman banget pokoknya 😊

.
Buat yang sudah ke Yogya, silakan cek jdwal pertunjukan mereka ya. Atau kaya saya, jadwal ke Yogya disesuaikan dengan jadwal pertunjukan 😁

***

IndriHapsari

Advertisements