Kemana di Tokyo?

Tujuan pertama pasti Disneyland karena itu kita beruntung banget dengan budget yang kita miliki bisa menginap di hotel yang jadi partnernya Disneyland. It means pergi pulangnya dijamin dan gratis dengan shuttle bus. Kalau nggapun bisa naik kereta Disney dari stasiun Maihama. Sampe sana antrian sudah mulai sejak jam 7, padahal Disneyland dibukanya baru jam 9 pagi. Tiket juga beli aja di Indonesia biar ngga usah ngantri karena tinggal scan barcode aja kok.

Partner hotel Disneyland Jepang

Fans Disney ini lebih beragam karena tokohnya kan banyak. Yang pasti mereka ngga malu-malu untuk pakai atributnya, ngga laki ngga perempuan, ngga tua ngga muda. Permainannya mirip sama Disneyland Hongkong. Keistimewaannya di boneka-bonekanya lebih hidup, apalagi pas riding di wahana Pirates of Carribean. Itu yg jadi Jack Sparrow kenapa lebih ganteng dari aslinya ya 😀 Sepertinya kecanggihan Jepang bikin robot, dan sekarang bikin Human Droid emang selangkah lebih maju daripada negara lain.

Disneyland Jepang


Disneysea letaknya berdekatan dengan dengan Disneyland, tapi gempor kalau jalan jadi pakai kereta aja kalau mau kesana. Sebaiknya kunjungi di hari yang berbeda karena mestinya bisa seharian. Pas kita kesana ada hujan angin jadi males kan keliling-keliling pindah-pindah antar wahana, takut kepleset juga. Pas di Hongkong juga ujan jadi kita beli jas ujan, tapi ngga pake angin. Yang ini pake ngebalik-balik payung segala. Yang berkesan sih pas di wahana Indiana Jones, brrr anak-anak sekarang mainannya serem ya 🙂 Yang ada Nemonya juga bagus buat anak-anak. 

Disneysea Jepang


Kalau kewajiban ke Disneyland tuntas, boleh deh pergi ke Tokyo Sea Life Park. Areanya luas tapi gedungnya masih lebih kecil daripada Osaka Aquarium. Koleksinya juga ngga gitu banyak dan fishy ya baunya. Yang istimewa ada feeding the pinguin, yang bisa kita lihat dari atas atau di bawah, jadi bisa liat di aquarium kelincahan pinguin nangkepin ikan yang dilempar. Buat piknik di sini asyik banget, area meja kursinya luas langsung menghadap laut. Anginnya juga sepoi-sepoi bikin ngantuk. Selain resto, kalau butuh yang anget-anget ada vending machine juga dengan pilihan beragam.

Tokyo Sea Life Park


Dekat situ ada Toyota Megaweb, jadi kaya ruang showroomnya Toyota. Yang bagian bawah ada mobil-mobil lama, bagian atas mobil masa depan yang lebih mengarah ke personal mobility. Ah keren dah pokonya liat mobil yang tanpa setir, yang buat tiga orang, sama yang pas belok bannya bisa miring. Kita juga bisa nyoba simulasi mobil dan itu ngantri. Masuknya gratis lo, biar tahu ealah yang produsen mobil siapa, yang ngabisin bensin buat mobil siapa. Iya loh, di Tokyo mobil itu bisa dihitung pake jari makanya jalanan sepi. Semua mobil produksi dia dilempar ke negara-negara yang masih menganggap car is a must, Indonesia salah satunya.

Toyota Megaweb


Disini juga ada ferrish wheel untuk lihat Tokyo dari atas. Kalau sama Tokyo Tower pemandangannya beda yah, yang Tokyo Tower lebih di tengah kota. Tokyo Tower masih kalah tinggi dengan Taipei 101 jadi pemandangannya ngga gitu jauh. Dekat situ juga ada Museum Snoopy loh. Mahal sih buat yang bukan penggemar Snoopy dan rada roaming dengan guyonannya Charles Schultz. Tapi food trucknya worth to try loh, ice cream sandwichnya enak.

Museum Snoopy


Balik lagi ke Toyota Megaweb, ada Sony Explora Center di mall lainnya. Terletak satu lantai, isinya permainan cahaya dan audio. Bagus sih buat anak-anak, dan teknologi jadi begitu dekat dengan manusia. Kalau mau yang canggihan, jalan lagi ke Miraikan, ini museum teknologi juga. Ya ampun kalau lihat ini, jadi iri sama anak-anak Jepang. Dari kecil sudah dipastikan ilmu dasar harus dikuasai dulu biar kalau gede ngga ributin bumi itu bulat atau datar. Setelah itu mulai deh, nyiptain obat yang sesuai DNA, mikirin energi terbarukan dan pemanfaatannya, dan gimana kehidupan di luar bumi. Belum kalau liat demonya human droid, ini sih tinggal masalah waktu aja robotnya jadi semakin mirip dengan manusia, sekarang sudah sampai ngedip yang natural. Trus di jam tertentu ada demo Asimo, robot yang disponsori Honda. Robotnya bisa jalan, deklamasi, nari, loncat kaki satu, dan nyanyi. Aduh kalau ngga inget film Iron Man yang robotnya bisa jadi jahat, mungkin bakal terharu liat robot sudah demikian majunya dan manusiawinya.

Sony Explora Center


Wisata lain seperti Imperial Palace juga perlu dilakukan, meski ngga boleh masuk ke dalamnya. Pasar Tsukiji juga boleh buat nyicip jajanan lokal. Tapi kali karena biasa dikunjungi turis dengan tingkah yang berbeda-beda ya, penjualnya galak-galak jadi males buat keliling. Daerah Shibuya juga OK buat yang suka dengan keramaian dan mau belanja belanji di toko-toko kecil. Awalnya mau ke Stasiun Harajuku sambil siapa tau ketemu anak-anak muda yang pake baju aneh-aneh. Ternyata stasiunnya mengarah ke daerah yang lebih sepi lagi. Kalau Shibuya emang rame dengan turis karena pada foto sama patung Hachiko, si anjing setia.

Imperial palace Tokyo


Kalau mau melihat Tokyo dari ketinggian, bisa coba naik ferrish wheel yang ada di Palette Town, itu mall sebelahnya Toyota Megaweb. Antriannya ngga rame jadi cepet masuknya, bisa pilih yang kabin berwarna atau clear cabin, itu yang keliatan semua sampe ke kaki-kaki kita 😀 Mau yang lebih keren ada di Tokyo Dome City, itu tengahnya ferrish wheel bolong buat ditembus roller coaster. Pilihan lain adalah naik ke Tokyo Tower yang bentuknya kaya eiffel. Diantar sampai observatory dock yang tingginya 150 m. Aslinya ketinggian Tokyo Tower sampai 250 m. Selain bisa lihat keliling Tokyo, bisa juga ke looking down window, sambil berfoto kece disana 😀

Ferrish wheel di Palette Town


Tokyo Dome City

Tokyo Tower


Rasanya ngga lengkap ke Jepang tanpa ke temple. Kali ini yang kami datangi Sensoji Temple, kuil maha terkenal yang selalu muncul di iklannya Waku-waku TV Jepang 😀 (eh anyway di Jepang itu fanatik banget sama stasiun TVnya sendiri. Masa ngeklik-klik channel sampe seratusan yang muncul acara dengan bahasa yang kita ngga ngerti 😀 Jadi praktis disana ngga nonton TV). Kuilnya gede dan ada satu komplek, mau sembahyang bisa, atau iseng nyoba ramalan. Bayar 100 yen, kocok sumpitnya dan baca angka yang keluar. Kalau ngga bisa baca cocokin aja karakter angkanya dengan angka di laci. Ambil satu kertas yang isinya peruntungan baik dan buruk, ada bahasa Inggrisnya kok. Saya ngga percaya ramalannya, soalnya hasilnya bad luck 😀

Sensoji Temple


***

IndriHapsari

Advertisements