Museum Fatahillah: Mewarnai Sejarah Jakarta

​Akhirnya berhasil juga masuk Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, setelah beberapa tahun lalu cuma sampe di lapangannya doang. Ngomong-ngomong soal lapangan, ‘manis’ banget ya lapangannya. Ada deretan sepeda mini pink berjajar dengan topi lebar macam none-none Belande. Di samping museum ada patung manusia yang dicat emas, ada yang irit ngomong, ada yang ramah menyapa. Sekelilingnya ada kafe-kafe yang memanfaatkan suasana dan menu tempo dulu. Suasana itu ditambah belasan merpati yang mampir mencicipi biji jagung yang sengaja ditebar di jalanan. ‘Kaya di luar negeri ya, Ma!’ seru si kecil gembira. Soalnya merpati – merpati ini ngga ada takutnya dengan manusia.

Bangunan Museum Fatahillah


Ternyata museum sudah buka sejak jam 8 pagi. Tiket masuk dewasa 5 ribu dan anak-anak 2 ribu. Bangunan yang didirikan tahun 1600an ini awalnya memang jadi gedung pemerintahan, merangkap pengadilan, dan ada penjaranya juga. Temboknya tebal, pintunya berat dan besar, jendelanya besar memenuhi dindingnya. Di dalam juga dipenuhi dengan perabot jaman dulu yang ukurannya raksasa, sesuai lah sama ruangannya.
Bangunanannua sendiri terdiri dari dua lantai dan besar banget. Tapi pengelola  sudah memberi tanda panah di lantai supaya bisa diikuti sebelah mana dulu yang mau dilihat. Di setiap furniture ada keterangannya dan ada barcode yang bisa kita scan. Sayang kemaren rame banget jadi agak susah mau fokus memahami benda atau ruangan itu buat apa. 

Bagian dalam dan luar Museum Fatahillah


Selain furniture ada juga prasasti dari jaman lebih lama lagi yang ditemukan di Jawa Barat. Kebayang ya masa itu Belanda enak-enak aja minta rakyat Indonesia mengerjakan banyak hal tanpa dibayar malah bonus disiksa, trus hasil bumi kita dibawa breng ke negerinya ataupun diperjualbelikan. Itu namanya pedagang yang ngga bermodal #mukasetan. Mana lama lagi menjajahnya T_T
Di bagian bawah atau basement adalah tempat penjara wanita. Pintunya cuma separuh karena lantainya makin menurun dan napi dijejalkan ke ruangan yang tingginya mungkin cuma 1,5 meter itu. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya di sana, apalagi mana ada sih hakim Belanda yang berpihak ke pribumi? Mo marah kan…
Halaman belakang museum ini dibuat sebagai tempat istirahat, piknik, atau mencicip es selendang mayang (seperti cendol tapi dibentuk kotak, berwarna dan transparan) dan kerak telor, langsung dari gerobaknya. Kerak telornya enak, bisa milih mau telur ayam atau bebek. Pedagangnya akan menaruh ketan terlebih dahulu, lalu memecahkan telur di atasnya, campur ebi dan garam juga. Kalau sudah nempel, wajannya dibalik ke arangnya! Unik ya, bukannya jatuh malah menciptakan gosong-gosong yang menambah kegaringan kerak telor. Terakhir baru dikasih bawang goreng.
Pintu keluar yang kami  tuju beda dengan masuknya, jeblusnya dekat dengan stasiun Jakarta Kota.
***

IndriHapsari

Advertisements