Tahapan Eksistensi Manusia

Satu pertanyaan menarik yang diajukan oleh Dark Angel pada artikel saya sebelumnya adalah : mana yang harus dikalahkan, rasa, atau logika. Beberapa kali saya juga membahas hal yang hampir sama, pada komentar saya di beberapa artikel fiksi. Hal ini berkaitan dengan eksistensi manusia.

Loh, apa hubungannya?

20130921-022702.jpg

Menurut Søren Aabye Kierkegaard seorang filsuf, teolog, dan psikolog yang hidup pada tahun 1813-1856, manusia akan berada di antara tiga tahap eksistensi. Ketiga tahap eksistensi itu ialah:

1. Tahap Estetis
Pada tahap ini orientasi hidup manusia sepenuhnya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Misalnya saja naluri seksual, kesenangan yang hedonistik dan bertindak berdasarkan suasana hati. Mereka cenderung mencari kesenangan baik materi maupun non materi tanpa peduli sumbernya, memuaskan nafsu, dan mencari popularitas.

Karena nafsu manusia tak terbatas, maka bila seseorang berada pada tahapan ini, maka bakal tak habis-habis ia bergumul dengan yang namanya rasa. Semata untuk memuaskan rasa, maka ia tak mengindahkan panduan hidup ataupun harapan. Yang penting nafsu terpuaskan. Kierkegaard sendiri dengan tegas mengatakan, pilihan bagi manusia seperti ini adalah ia akan mati bunuh diri, kalau tak mau masuk tahap berikutnya, yaitu Etis.

2. Tahap Etis
Pada tahap ini manusia mulai menerima kebajikan – kebajikan moral dan memilih untuk mengikatkan diri. Ia mulai memiliki pedoman hidup, yang tercermin nyata dalam tingkah lakunya. Masih ada soal rasa, tapi coba ia kuasai dengan logika, akal, nalar, rasio atau apapun namanya. Intinya adalah pengendalian.

Rasa dan nafsu tetap ada, namun disesuaikan dengan pedoman hidupnya. Misal pernikahan, ada unsur memuaskan seksual namun ada tujuan lainnya. Mencari kekayaan dengan bisnis yang legal. Berusaha meraih popularitas dengan usaha keras dan sabar.

Pada tahapan ini, manusia dapat menolak hal-hal yang tak sesuai dengan pedoman hidupnya. Ia akan menggunakan akalnya ketika mengalami keraguan, dan konsisten dengan pilihannya tersebut.

3. Tahap Religius
Karena Kierkegaard seorang teolog, maka tahapan akhirnya adalah realitas Tuhan. Pada tahapan ini, logika akan dikalahkan oleh keyakinan subyektif. Atau dapat saya katakan, iman.

Pernah mendengar ada penyakit tak tersembuhkan, kemudian dengan percayanya pada Tuhan penyakit tersebut lenyap dengan ajaib? Atau ketika hidup dilanda musibah, ada mukjizat Tuhan menyelamatkan? Semua pengalaman itu merupakan wujud dari rasa percaya, dan tak bisa dijelaskan dengan logika. Keberadaan Tuhanpun kerap menjadi paradoks.
*
Terkait dengan karya fiksi, juga dapat dikategorikan menjadi tiga tahapan ini. Hal ini disebabkan karya fiksi merupakan salah satu kreasi manusia, yang mencerminkan pencapaian penulisnya. Suatu karya fiksi yang lebih mengutamakan rasa, dengan mengabaikan norma, etika, pedoman hidup yang ada, berada pada tahapan estetis. Memuaskan rasa dan nafsu, bagi penulis maupun pembacanya.

Berikutnya karya fiksi yang membawa pesan terkait dengan pedoman hidup yang diembannya masuk ke dalam tahapan etis. Ada misi yang ingin penulisnya sampaikan, agar pembaca memahami dan memilih, mengikuti atau tidak pedoman hidup yang penulisnya anut.

Karya fiksi pada tahapan religius lebih kepada rasa syukur terhadap semua anugrah Tuhan, pertanyaan tentang kehidupan, atau keluhan pada Pencipta. Merupakan tahapan paling sulit, karena meski sehari-hari perilaku kita bak orang beriman, namun begitu dituangkan dalam tulisan memerlukan perenungan mendalam atau berasal dari pengalaman bergumul dengan Tuhan.

Pada tahapan mana kita berada, hal tersebut tergantung pada kita sendiri. Mau terus naik kelas, atau merosot ke tahapan sebelumnya. Tak melulu soal karya tulis berupa fiksi maupun non-fiksi, perilaku sehari-haripun akan mencerminkan tahapan yang kita sedang lalui.

***
IndriHapsari
Terima kasih pada Guru, situs psipop.blogspot.com, dan pinterest.com/pin/196188127487928044/

Advertisements