Jangan Takut Menginap di Hostel

pinterest.com

pinterest.com

Awalnya setiap bepergian ke luar kota, hotel selalu menjadi pilihan saya. Tahunya dulu cuma itu sih, jadi website seperti Agoda selalu jadi rujukan saya. Maklum, duit mepet. Mesti nyari hotel yang cocok di kamar dan di kantong. Kamar doang, karena asli hotel buat tidur saja, pagi-pagi udah ngilang.

Akhirnya berkenalanlah kita dengan berbagai hotel yang secara umum baik, sesuailah keadaan di foto sama kenyataannya. Cuma sekali kecele, ngga nyangka begitu sempitnya. Maklum, kita berempat, dan cuma satu yang langsing 😀

Kalau jalan sendiri, tentu urusan lebih sederhana. Saya pernah nginep di hotel irit. Ukuran kamar 3×3, sudah termasuk kamar mandi dan toilet. Persis seperti kamar di kos-kosan. Trennya sepertinya itu memang, hotel makin minimalis. Bahkan untuk berpapasan dua orang pun kadang ngga cukup.

Lalu rasa ingin tahu saya menyeruak, ketika banyak penulis traveler wanita yang menuliskan pengalamannya tidur di hostel. Hostel menjadi pilihan karena mereka umumnya bepergian sendirian, murah, dan lokasinya dekat dengan public transportation. Jadi kalau ada yang nulis ke negara ini hanya dengan sekian juta rupiah, bisa dipastikan penginapannya pasti sekelas hostel.

Nah, kenapa sih enggan pakai hostel?

 

Pemikiran pertama saya, sebelum mencoba, hostel itu sempit, kusam dan kotor. Tempat tidurnya ngga enak karena berupa bunk bed atau ranjang bertingkat. Pelayanan minim, daaaan…tidur bareng orang lain. Aneh banget ngga sih? Buat orang lain yang sudah terbiasa, mungkin fine aja ya. Tapi buat saya yang parno, jadi ngga nyaman sendiri.

Misal, bagaimana jika temen kamar kita ngorok? Atau dia jorok? Atau klepto? Trus kalau dia pembunuh berbahaya, gimana? Belum kalau ada yang pacaran di bawah, kan bikin…pengen 😛

20140501-171721.jpg

Tapi akhirnya selalu ada saat pertama, dan untunglah ngga ekstrim banget loncatan pengalaman saya. Saya pergi bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar khusus rombongan kami saja. Setidaknya bisa dipastikan ngga ada yang jadi buronan 😀

Awalnya saya searching berita dulu, mana the best hostels di kota itu. Habis binguuung, sudah banyak aplikasi dan website yang memuat daftar hostels, lengkap dengan rating yang diberikan para traveler, dan foto-foto candid. Banyak yang bagus, tapi tetap yang harus dipilih hanya satu. Agoda.com, booking.com, hostelworld.com, tripadvisor.com bisa jadi rujukan. Top ten atau top five hostelsnya saya cari dari kantor berita asing yang sudah terkenal, karena yakin mereka ngga main-main dengan daftarnya dan kecil kemungkinan disisipi iklan. Cuma yang perlu diingat, selera setiap traveler berbeda.

Setelah itu mulai cek di web-web yang tadi, pilihan yang sudah terkumpul dan bandingkan satu persatu. Kriteria ada banyak, pilih mana yang ‘harus ada’, dan mana yang ‘lebih baik kalau ada’. ‘Harus ada’ memudahkan kita saat memperkecil pilihan hostels. Sedangkan yang ‘lebih baik kalau ada’ akan membantu saat menyusun ranking, hostel mana dengan nilai tertinggi.

Ranking itu perlu, karena belum tentu yang pertama yang akan jadi pilihan. Kejadiannya bisa sudah ngga ada room di saat yang kita inginkan, atau lagi direnov. Bisa juga harga udah naik. Buat yang terbelit budget minim seperti saya, punya beberapa pilihan is a must. Jangan lupa masalah nilai tukar. Sebagian besar hostel hanya menerima pembayaran lewat Paypal, buat yang ngga punya akun bisa memanfaatkan jasa para agen Paypal yang bisa dengan mudah ditemukan di dunia maya. Jika lewat web, hostel yang saya tempati hanya membebani biaya booking sebesar 3 dollar, kemudian dilunasi saat kita tiba di sana. Mereka juga mensyaratkan deposit untuk kunci loker yang kita bawa.

Ketika harga sudah OK, apa yang bisa jadi pertimbangan berikutnya?

Kalau saya sih jendela. Beneran, ciyus, ngga bohong. Kamar di hostel itu sempit, dipake buat banyak orang. Dan kalau kamar ngga ada jendelanya, it’s mean semua pencahayaan dari lampu. Iya kalau lampunya terang, kalau temaram, apa ngga ngalah-ngalahin wisma something di lokalisasi? Pokonya I hate lampu temaram. Belum lagi berasa sesak aja gituh kalau satu-satunya lubang cuma pintu yang tertutup.

Kedua kaitannya sama udara, harus pakai AC. Gara-garanya ya itu tadi, udah sempit, berjejalan delapan orang dan cuma pake kipas angin? Ntar kalau ada yang punya BB alias bau badan, bakal ngider dah tu bau ke searea kamar. Belum bau kaki, bau jigong dan bau-bau lainnya. Meski ada juga hostel yang menyalakan dan mematikannya dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi, ngga masalah kalau kerjaan kita kelayapan mulu. Nah itu juga gunanya jendela, pas AC dimatikan, masih ada pergantian udara dari celah jendela.

Kalau ranjang sih rata-rata sama yah, bunk bed, atau ada juga yang semua ranjang bawah. Yang penting, harus baru. Seprei harus diganti setiap ada tamu baru, trus sebaiknya warna putih, pun untuk semua bantal, selimut dan bed covernya. Soalnya kalau warna-warni itu kadang terkesan kuno, dan menyembunyikan noda dari tamu sebelumnya, yang entah apa. Tentu ranjang dan kasur yang nyaman dong, kita bayar kok, bukan hidup di penjara. Pengalaman naik ke ranjang atas itu susye, apalagi buat yang badannya endut seperti saya. Jadiii, ranjangnya mesti kuat ngga bakal nggeblak kalau dipanjat kingkong..hehehe…

Ada loker berkunci, itu wajib. Sekarang yah, lima menit ditinggal aja motor bisa ilang, apalagi benda di tas yang dibiarkan terbuka. Bawa gembok sendiri juga bisa jadi alternatif, jaga-jaga kalau ngga ada lokernya. Hostel juga harus mengamankan dirinya sendiri. Kalau pengelolanya ngga jaga 24 jam, mereka melengkapi diri dengan sistem keamanan yang cukup canggih. CCTV adalah hal yang umum. Waktu kami datang jam 2 pagi, saya pikir kunci hostel akan disembunyikan di suatu tempat, karena pengelola hostel bilang dia ngga bakal ada di tempat jam segitu. Ternyata, saya dikirimi kode yang dimasukkan ke layar sentuh di handle pintunya, yang otomatis membuka untuk kami semua. Begitu semua sudah masuk ke dalam, pintu otomatis mengunci. Hari berikutnya, kami harus menyentuhkan kartu yang terpasang di masing-masing kunci loker. Wah, padahal saya sudah nyari-nyari keset Welcome 😀

Colokan di tiap bed jug harus ada, secara kita hidup bergadget ria. Cuma yang mesti diingat, bawa colokan yang sesuai, secara tiap begara beda modelnya. Trus kalau perlu bawa T, kalau gadget kita lebih dari satu. Biasanya di hostel ada lampunya, semisal mau baca buku. Tapi ya gitu, pengalaman nyampe hostel udah cape aja bawaannya, jadi daripada baca mending molor 😛

20140501-205402.jpg

Wifi atau jaringan internet, sangat membantu para traveler. Bayangin, saat kartu kita tidak berfungsi, merupakan suatu hal yang menyenangkan, mendapat email masuk, pesan di Whatsapp, atau notifikasi dari Facebook. Serasa ngga terputus dengan mereka yang di tanah air. Di luar negeri, wifinya juga secepat leopard, beda banget dah sama yang disini. Meski berbayar juga lelet dan sering putus. Apalagi yang gratisan, suka ngga ikhlas gitu ngasihnya 😛 Kalaupun ngga ada, biasanya hostel punya communal room, tempat nonton TV, main game, atau ngenet. Mereka juga dilengkapi dengan multifunction printer, untuk memindai paspor kita, atau misal kita melakukan web check-in, bisa juga bayar ke pengelola hostelnya untuk ngeprintin.

20140501-205318.jpg

Hostel biasanya juga punya pantry. Kopi dan teh gratis, air panas bisa bikin sendiri, dari air keran yang bisa diminum. Air keran ini membantu banget loh, daripada beli sebotol air yang harganya bisa 20 ribu untuk 600 ml. Sarapan juga disediakan, biasanya berupa roti, selai, dan buah. Nah, yang jadi problem perut Indonesia itu kayanya ada warningnya, ngasih tahu kalau belum makan, selama nasi belum masuk. Jadi kurang, dan dua jam kemudian pasti ribut cari makan lagi. Trus sarapan biasa disediakan jam 8, waktu setempat. Huaaa…siang banget. Orang Indonesia biasanya pagi udah nyarap. Jadi amannya bawa sendiri aja deh. Oya, jangan lupa nyuci dan ngeringin semua peralatan makan yang kita pakai, karena semua mesti mandiri.

Kamar mandi itu penting banget. Dan berhubung di hostel, ngga bisa manja pengen punya private bathtoom. Yang ada cuma shared bathroom, itupun dari 20 orang misalnya, cuma ada 2 biji. So be prepared, kalau mau mandi jangan mepet-mepet dengan jadwal pergi. Itupun keciiil banget, cuma shower, syukur-syukur ada heater. Siap-siap bawa tas anti air, biar ngga kuyup semua. Trus perlengkapan mandinya jadiin satu, jangan ngecer kemana-mana.

Sebenarnya hostel punya kelebihan daripada hotel, selain biayanya yang murah. Masa, hostel di Singapura dengan New York kisarannya ngga jauh beda, 300 sampe 600 ribu rupiah. Kalau mau lebih murah ya ada, cuma belum cek aja fasilitasnya. Tapi, ongkos segitu di Indonesia bisa dapat hotel bintang 3. Kalau mau dimirip-miripin biar ngga berasa beda nginep di hotel dan hostel, cari hostel yang lokasinya bagus. Mepet hotel gede, atau sarana transportasi terdekat. Itu alamat gampang cari toko dan tempat makan.

Kelebihannya terletak pada pengelola yang merangkap pemilik hostel. Mereka tuh lebih care dengan fasilitas yang mereka punyai. Iya sih, lebih cerewet, tapi fasilitasnya jadi terawat. Dia tahu dengan benar setiap sudutnya, tahu apa yang diinginkan tamunya, dan bisa dinego. Kali habis ini pemilik hostel yang saya tempati ogah nerima saya lagi, karena segala macam dinego…hehehe. Tapi ini membuktikan mereka cukup fleksibel, ngga asbun ‘sudah peraturannya begitu’.

20140501-205443.jpg

Hal lain, entah penting ngga ya, hostel meningkatkan utilisasi bangunan tua. Mereka biasanya terletak di lantai dua dan tiga sebuah toko atau kedai, trus naik tangga yang cukup curam, dan hopla, ada penginapannya. Dari luar kelihatannya adalah bangunan tua yang terawat, di dalamnya cukup modern. Bukti bahwa bangunan tua ngga selayaknya dihancurkan, tapi dirawat dan dimanfaatkan.

Nah, habis ini jangan segan untuk menginap di hostel ya. Hati senang, kantong juga riang 🙂

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements