​Makan Apa di Taiwan?

Sepulang dari Taiwan, mereka yang tahu jadwal kepulangan saya langsung tanya: gimana makanannya? Ya, Taiwan memang terkenal dengan makanannya yang lezat dan food streetnya atau area jajannya. Disebut jajan, karena porsinya kecil, makanan untuk pemuas lidah saja, dan kebanyakan dimakan sambil jalan. Kebanyakan ada di Night Market atau pasar malamnya, tapi cerita saya ngga hanya berkisar di sana.

Masakan Taiwan rasanya sedap dan sesuai dengan lidah orang Indonesia, terutama Surabaya yang senangnya asin. Kebetulan mereka juga ngga terlalu suka manis. Yang membedakan adalah ngga ada sambal khas yang nendang macam di Indo, malah beef bowl (nasi dalam mangkok) yang kami pesan sambalnya adalah wasabi 😀 Yah suka-suka yang ngasih lah 🙂 Soal harga juga moderate, mirip dengan harga depot atau resto di mall.

Ki ka: Toast Box Floss set, peanut butter set, noodle (lupa nama menu dan outletnya)

Malah makan di KLIA 2 di Malaysia jatuhnya lebih mahal. Jus apel 13 MYR atau 52 ribu. Toast box yang selalu jadi jujugan kami karena tiba di KL selalu subuh dan dia termasuk yang buka, menginginkan jumlah yang sama untuk secangkir teh tarik, roti satu lapis dan dua butir telur setengah matang. Nyobain beef noodle dan sayur toge atau cambah, rasanya memang lebih plain, sama seperti masakan Malaysia lainnya.
Orang Taiwan suka njajan sudah kelihatan pas penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kaohsiung. Yang biasanya penumpang sok cuek gitu kalau pramugari jualan makanan, di kabin suasana mendadak meriah 😀 Hampir semua baris pesan makanan, jumlah yang pre-book meal juga banyak. Trus semua pada makan dengan lahapnya, tinggal kita yang mringis meski ngga lapar juga sih, kan sebelum take off sudah diisi dulu di KLIA.

Bubble tea anti ribet

Karena hotel kami menggratiskan es krim, teh dan kopi a whole day, anak-anak langsung ngisi cupnya dengan berbagai varian begitu kita selesai check in. Es krimnya masuk kategori enak, lembut dan ngga terlalu manis. Minuman yang terkenal di Taiwan mestinya Bubble Tea atau Pearl Tea. Tapi kami malah nyobainnya pas mau meninggalkan Taiwan, di bandara. Rasanya tidak semanis yang di tanah air dan anti ribet. Kalau di outlet di mall kan pasti ditanyain mau pake topping ngga, less sugar apa biasa, besar apa kecil. Kemarin cuma nunjuk mau rasa apa, langsung deh diserahkan minumnya dan sudah di-seal.

Pas di pasar malam dengan bahasa tarzan akhirnya kami berhasil memesan Yakult Green Tea. Varian Yakult yang ngga ada di Indonesia ini dituangin 6 biji yang kecil-kecil, campur es batu dan gula cair. Kalau beli Yakult di minimarket adanya kemasan gede, rasanya sama kaya yang orange di Indonesia. Waktu dulu pernah kunjungan ke pabrik Yakult, dibilangnya ukuran disesuaikan dengan kebiasaan dan kemampuan masyarakatnya. Susu kotak juga dikit yang kemasannya Tetrapack, adanya yang kaya kemasan susu Diamond ukuran kecil. Kalau yang bikinan pedagang ada yang namanya Papaya Milk. Rame dikunjungi orang stannya di Liuhe Night Market, sepertinya brand terkenal atau ada khasiatnya. Rasanya sih nda terlalu doyan sayanya, soalnya masih inget-inget rasa pepayanya 🙂

Minuman lain yang khas adalah sorbet mangga. Yang ini dicoba pas ngantri naik ke Taipei 101, barengan sama beli nougat mangga dan manisan mangga. Pokoknya mangga semua. Dasarnya ngga gitu suka sorbet ya, soalnya ngga tahan giginya, jadi ya cuma nyicip dikit aja. Mangga disini manis ngga ada asemnya, lembut sampai ke seratnya. Soal mangga asyikan di Indonesia kayanya, variannya banyak, lebih manis dan wangi. Tapi buah yang paling demen saya cicip adalah cherry. Rupanya tumbuh banyak di China, karena pas suami ke sana juga nemunya cherry. Beli setengah kilo di pasar malam, cherry yang bukan awetan ini rasa manisnya sedang dan penuh air. Karena suka, pas jalan ke Carrefour buah ini lagi diobral. Beli lagi deh 🙂

Buah cherry dari Carrefour

Kalau soal makanan di Taiwan, saya coba bagi dua ya, yang kami temui di pasar malam dan di tempat tersendiri. Bisa gerobak depan hotel, cafe yang nempel di museum, sevel, depot atau resto khusus chinese food.

Di Kaohsiung pasar malam yang kami kunjungi cuma Liuhe, itupun dua kali saking penasarannya. Mencapainya gampang, dari exit stasiun Formosa belok kiri, sepanjang jalan stand semua. Jualannya hampir sama, tapi mungkin sudah diatur supaya ngga berdekatan.

Aneka sate, lobster, bapak penjual steak yang bergaya, dan steaknya

Ketemu makanan kaya corn dog, tapi sosisnya cuma dikit. Jadi kurang memuaskan inget-inget yang di Indo tepungnya dikit sosisnya banyak 🙂 Untunglah di sebelah ada bapak-bapak jual steak daging sapi, entah apa namanya. Daging dipotong kotak-kotak, dibakar pakai fire torch, pake akrobat segala tuh, jadi deh dalam waktu singkat. Dibumbuin dulu baru diserahkan ke kita, makannya pake lidi gitu ditusukin. Enak juga loh, empuk, juicy, dan bumbunya terasa. Kami beli lagi di stan dan pasar malam lain, rasanya ngga seenak yang bapak ini.

Ki ka: aneka penganan dari ikan, fish cake, chicken pok.pok dan cumi bakar

Taiwan hotdog nama yang kami berikan buat penganan dari sticky rice (ketan) yang dibentuk ala roti dan diselipi sosis babi yang manis. Biasanya makan sosis babi dikit-dikit campur ke nasi goreng atau kwetiaw, disuruh makan segitu eneg juga 😀 Di stan lain banyak yang jual sosis gede-gede, ada yang berwarna kemerahan atau pucat. Sosis gede juga bisa ditemui di Seven Eleven yang punya DIY your hotdog. Kali ini pakai roti beneran, sosisnya ada 3 varian rasa. Rasanya enak, beda dengan sosis minimarket yang dijual di tanah air. Mengenai ketan ini orang sini doyan ya. Pas sarapan di hotel di omelette cornernya kan nyediain ketan mirip jadah ini. Tamu hotel sebelah kami ngambil ketan sampai setumpuk 😛

Kalau chicken pok-pok sudah tau ya? Fried fillet chicken yang besar ini dikasih bumbu dan dimakan gitu aja, ngga dipotongin. Katanya sih (saya tebak) karena masih ada tulangnya, yang ternyata beneran ada. Yang ditepung macam begini ngga cuma ayam, tapi juga cumi dan ikan. Cumi juga dibeber melebar, ditusuk, dan dibakar. Mengingat biasanya gigit cumi ini kaya gigit sandal, panganan ini kami skip.
Olahan laut cukup banyak karena dekat dengan pantai ya. Gurita lengkap dengan tentakelnya siap dimasak entah apa. Pedagang memperagakan mengolah kerang lengkap dengan denting-denting sutilnya. Saya rasa dia berusaha menarik perhatian ke orang yang lalu lalang. Tertarik dengan lobster yang sudah dibelah dan dibumbui di bagian perutnya, kami pesanlah satu. Ternyata…masaknya ngga pinter, ngga bersih pula. Masa masih ada sisa isi perutnya…bumbunya pun terlalu tajam jadi rasa daging lobster yang gurih dan manis hilang.

Kerang berisi, kepiting berduri, suasana di Liuhe Night Market, Kaohsiung

Yang benar waktu pesan kepiting berduri ini, masaknya cuma direbus saja. Kepiting yang nampak bahaya karena durinya yang tajam ini ternyata menyimpan kelezatan. Cara bukanya bukan dengan tang penjepit, tapi gunting! Jadi ambil salah satu kakinya, gunting satu atau dua sisinya, dan buka. Gampang loh mengguntingnya, dan tarik dagingnya yang besar. Dagingnya beda dengan kepiting biasa yang berupa serpihan kecil, yang ini nyambung semua jadi sekali tarik langsung kosong. Capitnya kecil saja dan ngga banyak berisi daging. Kakinya yang gede menyimpan banyak daging. Berhubung pernah alergi kerang, saya ngga nyobain oyster omelette yang terkenal itu, daripada kena alergi di negeri orang 🙂

Ki ka: oyster omelette, aneka buah-buahan, sosis babi dan stinky tofu di Liuhue Night Market

Stinky tofu? Pernah dengar kan..katanya either you’ll love it or hate it food ini pasti ada di night market di Taiwan. Cara mengetahuinya gampang, baunya cukup nyegrak (kuat). Penampakannya ada dua, ada yang panjang-panjang dan dibumbui macam pok pok, atau berbentuk segitiga. Pas nyoba di Liuhe Night Market, Kaohsiung baunya ngga terlalu kuat, rasanya juga biasa kaya tahu-tahu kekinian. Tapi begitu di Huaxi Night Market di Taipei, ampun deh…nyobain satu cukup dah. Habis gitu mulut kita masih berbau, ditambah air seninya juga stinky. Brrr…rasa plain dan jenis tahunya yang padat gitu meski ngga sepadat tahu bandung. Masih enakan tahu Sumedang atau tahu bulat 🙂

Ki Ka: es tebu, sate telur, aneka bakaran, Shilin Market Taipei

Kalau mau diturutin masih banyak makanan lainnya, yang bisa disantap sambil jalan. Pas keluar dari Shilin Night Market ketemu ibu penjual sate puyuh yang unik bikinnya. Telurnya sih ngga berasa apa-apa. Ditabur bumbu doang. Pas abis makan mikir-mikir lagi tadi setusuk harganya 20 NTD atau 8 ribu rupiah. Kalau di Indonesia udah dapet 8 tusuk tuh dengan rasa yang lebih sedap 🙂

Kalau makanan di hotel kami cuma dapat di Kaohsiung. Aslinya sih breakfast aja, tapi hotel kami yang namanya Kindness ini memang bener-bener baik hati! Sudah free ice cream teh kopi, menu breakfastnya ngga asal, masih dapat snack malam lagi! Ampun…kamu kok baik banget sih… #nyubitgemes

Breakfast buffet di Kindness Hotel, Kaohsiung

Pagi buffetnya antara makanan vegetarian, dua macam sayur dan satu macam lauk, trus nasi putih di magic com (lucu ya, baru kali ini ambil nasi langsung dari magic com). Berikutnya ada dua macam bubur dengan beragam topping. Yang pertama toppingnya lebih rame daripada yang kedua, yang lebih polos mirip dengan bubur ayam kita, pun toppingnyapun sama. Pas dicobain, ih enak banget lo! Sepertinya buburnya ini pakai kaldu ikan, jadi gurih tapi ngga amis.

Ki ka: bakpao isi daging cincang dan telur. Lotus rice, aneka juice dan teh labu, aneka teh

Di sisi lain ada roti dengan toaster dan berbagai isiannya, salad, bakpao dengan berbagai isian. Minumannya juga lengkap dan self service. Teh saja ada 6 macam, ada mesin kopi yang siap mengeluarkan espresso, americano, caffe latte, cappucino, hot milk atau hot chocolate. Ada juga susu kedelai putih dan coklat, teh labu dan orange juice. Di sudut ada omelette corner dan itu tadi, pojok ketan. Kalau malam pojok ini berubah menjadi tempat meramu minuman panas. Kalau di Surabaya kaya tahu takwa gitu, tapi ini pakai kacang merah. Display bakpao itu tetap.ada, isinya babi cincang dan telur asin. Lalu ada lotus rice dan telur direndam teh. Snack malamnya mengenyangkan dan rasanya enak, bukan yang disediakan pokoknya ada. Pas kita mau berangkat pagi-pagi ke Taipei, kita bilang bisa ngga minta take away breakfast. Ih sama dia dibawain sandwich, salad, dan kotakan caffe latte #terharu.

Take away breakfast by Kindness Hotel

Pas di Taipei, hotelnya ngga nyediain sarapan. Pantas saja, wong hotelnya kecil, kamarnya ya kecil, dan letaknya di lantai 12 bangunan seperti ruko. Kalau mau sarapan tinggal turun ke depan, ada yang jualan xiaolongbao. Dim sum yang kalau di Surabaya makannya ribet dan penuh tata krama ini (pertama dia harus ditaruh di atas sendok, lalu angkat dengan sumpit, gigit, cairannya akan keluar dan tertampung di sendok, baru dah disruput) di sini tinggal diangkat pakai sumpit, makan hap, cairannya ya keluar dalam mulut persis kaya makan klepon. Harganya pun 70 NTD atau 28 ribu rupiah, di Surabaya lebih mahal dikit. Tapi di Taipei dapat 8, di tanah air dapat separuhnya 😀 Kalau mau jajanan lain ada macam roti canai gitu, 25 NTD. Kalau tambah telor jadi 35. Ada juga yang pakai bacon atau sayur.

Sarapan khas Sevel

Kalau bosen, bisa ke Seven Eleven karena mereka sudah siap dengan makanan hangat. Bisa hot dog seperti yang saya cerita di atas, atau ngambil dalam mangkok bakso daging (rasanya sih sapi, tapi mengingat sapi itu jarang, mestinya babi :D), bakso ikan, tahu sutra, bakso ikan lagi, lobak, jamur…kuahnya bisa pilih yang gurih atau pedas. Di sini ada lagi tuh telur rendam teh gitu. Kopi teh juga ada dan bisa ngetuk aja di jendela kasir, ngga usah masuk toko. Mau nyeduh mie cup juga bisa. Atau kalau yang mau praktis, ambil sushi di lemari pendingin. Sushi kan emang ngga panas-panas ya makannya. Nasinya lebih lengket daripada sushi di tanah air. Isinya sama aja, tapi makan satu pak seharga 39 NTD atau hampir 16 ribu rupiah udah kenyang.

Shusi Express si Stasiun Tamsui, Taipei

Jadi inget di beberapa stasiun di Taipei ada outlet namanya Sushi Express. Jadi ragam sushi ada di sana, tinggal pilih aja mau paket yang mana. Ada yang satu jenis, ada yang campur. Kalau ngga cocok ambil aja yang satuan. Mereka dikemas satu-satu pakai plastik, jadi ngga kocar kacir ambilnya. Satu bijinya 10 NTD atau 4 ribuan. Mau cawan mushi juga bisa tapi kayanya nunggu. Habis dikemas sama kasir, dikasih kecap asin dan wasabi, serta sumpit. Makannya sih sambil jalan karena dia ngga sediain tempat duduk. Rasanya enak ya, segar karena ngga pakai saos dan mayo. Kalau sudah pakai dua saus itu jadi susah merasakan ini fresh apa ngga, enak apa ngga sushinya.

Pasta kari dan beef curry

Kalau di cafe, terutama yang nempel sama museum atau theme park, harga makanannya mahal dan makanan standar. Tetap enak, tapi ngga istimewa. Sepaket kari harganya bisa 200 NTD atau 80 ribu. Kari disana tuh nasi dituang kuah kari yang kental dan sticky, isinya sayuran wortel lobak dan buncis. Trus baru lauknya nyusul tergantung pilihan, mau chicken pok-pok atau beef. Tapi rasa jadi ilang karena kuah karinya lebih dominan rasanya. Lain waktu nyoba pasta, 250 NTD makan doang. Enak sih, tapi mengingat harganya…hmmm…mikir. Minuman juga gitu, segelas coklat panas harganya 120 NTD atau 48 ribu, ya sekelas Starbucks di Indo. Cuma untuk minuman memang patut diacungi jempol. Kopinya berasa banget dan less sugar, coklat kental banget, dan teh? Pilihan rasa tersedia, dan itu bukan flavour added, emang jenis daun tehnya dan diolah khusus.

Ngemper di Ximending Pedestrian Area

Kalau ngemper harganya murah. Semangkok pork noodle cukup bayar 35 NTD atau ngga sampai 16 ribu. Gitu juga dengan mie, nasi campur, 40 NTD udah paling mahal. Nah kalau di resto dengan jenis yang sama tapi lebih banyak dan enak, semangkuk nasi dengan sayur dan pilihan daging kenanya 160 NTD atau 64 ribu rupiah. Mau combo 3 (bisa milih angsa, bebek, babi atau ayam) jadinya 190 NTD. Tapi worth to try loh. Resto yang kerap kita datangi karena lantainya di bawah hotel kita, pelayanan cepat dan tempatnya memadai namanya Xin Kong yang artinya New Hongkong. Buncis daging sapinya enak, buncisnya renyah dan segar, daging cincangnya gurih. Sebenarnya ada paket dim sum tapi daripada salah pilih mending ngga usah deh 😀 Tulis aja nomor berapa yang kita minati dari foto yang ada.

Nasi campur dan buncia daging di Xin Kong Restaurant, Taipei

Sebisa mungkin sih kalau di negeri orang kita nyoba yang ngga ada di negeri sendiri, jadi jangan nyari nasi padang atau masakan Indonesia. Sudah rasa mungkin disesuaikan, harganya bikin sakit ati mengingat di tanah air segitu murahnya 😀 Namun ada kalanya ketika ngga ada pilihan, ya belinya yang resto chain.

MOS Burger cabang Taipei Main Station, bunnya dari nasi, ada gorengan lobak

Waktu itu kita lagi kelaperan di kamar (kan memamah biak :P) akhirnya suami memutuskan untuk jalan ke Yoshinoya. Di sini ada beef bowl ada pork bowl, tapi rasanya tetap enakan yang beef bowl. Soal harga sama dengan yang di Indo, tapi di Indo kita sudah dapat paket dengan free flow ocha. McDonald juga terpaksa dibeli karena cuma itu yang terlihat di Taipei Zoo. Kebun binatangnya luaaas banget, gempor jalannya. Anehnya paket ayam 2, minum dan kentang itu, beli 2 paket harganya cuma 200 NTD atau 80 ribu rupiah, lebih murah dari di tanah air. Ayamnya lebih kecil tapi enak dan gurih, meresap sampai ke dagingnya.

Banyak juga ya yang kita makan 😛 Tapi ngga nambahin berat badan karena makan sambil jalan, dan banyak jalan juga. Selain itu minim manis-manis dan banyak minum air putih. Senangnya menjelajah negara Asia itu karena pasti dapat nasi. Daripada craving seharian karena ngga ketemu nasi, ketanpun gpp deh 😀
***

IndriHapsari

Advertisements