Naik Apa di Taiwan?

Cerita soal sistem transportasi di negara maju memang mengasyikkan, terutama karena keberpihakannya pada rakyat jelata. Transportasi publik dibuat sedemikian handal, terjangkau dan nyamannya, beda dengan transportasi pribadi yang sengaja dibikin mahal banget, biar segelintir orang yang mampu beli mobil, bayar pajak, sewa parkir, tilang dan isi bensin. Masa bisa beli mobil tapi bensinnya ikut rebutan sama angkot? #ngikik. Taiwan salah satunya. Di MRT penumpang bersetelan jas ikut juga pada rush hour. Ibu-ibu berpenampilan dari salon, berbaju mini casual, masuk bus dari mall merangkap hotel mewah sambil nenteng shoppung bag PRADA. Menandakan yang mampupun mau naik kendaraan umum, karena kenyamana, keamanan dan nhga usah pusing urusan nyetir dan parkir.

Bukan berarti transportasi private jadi ngga laku lo ya. Tetep ada kok taksi kuning di Taiwan, Uber juga ada. Sayangnya Uber cuma bisa dibayar via deposit, bukan cash. Sedang taksi ada yang sistem nego dan argo. Supir taksi di Taipei disiplin, mobilnya bersih, maunya argo, dan kita yang lagi empet-empetan di belakang tetap harus pakai seatbelt 😀

Jalanan umum terlihat lengang terutama di daerah kantor pemerintah. Kebayang kalau di Indo jalan lebar malah dimanfaatkan buat demo. Yang paling banyak beredar adalah bus yang bisa mengangkut sekaligus banyak. Selain mobil pribadi, kota-kota di Taiwan juga memperlihatkan penggunaan motor atau skuter matic. Beda dengan di Indo yang langsung greng, di Taiwan motornya ngga bisa ngebut. Cara yang ada di China daratan juga, boleh pakai motor tapi yang energi listrik. Mana bisa kencang ya 🙂
Lain kota lain kegemarannya. Kalau di Kaohsiung yang relatif lebih sepi dan penduduknya sedikit dibanding Taipei, mereka lebih suka pakai sepeda. Turispun disarankan pakai sepeda, terlihat dari peta yang pemerintah buat untuk turis, ada jalur wisata untuk sepeda. Sepeda bisa disewa gratis dari hotel. Ada juga yang baru keluar dari stasiun, ada tempat persewaan sepeda. Seperti pas ke Takao Railway Museum, keluar dari Sizihwan Station orang-orang pada ngambil sepeda yang ada di dekat museum. Lalu mengayuhlah mereka ke lokasi museum yang ternyata berhadapan  dengan Hamasen Museum, ini museum kereta api juga tapi lebih modern. Banyak spot menarik yang membuat pengendara sepeda menghentikan lajunya untuk foto-foto.

Di Taipei ngga ngeliat ada persewaan gratis begini. Yang saya lihat sepeda kuning U-bike, yang cara ambilnya tinggal tempel kartu di alat pindai, trus sepedanya bisa ditarik ke belakang. Sepeda di Taipei jalurnya di trotoar, ada tandanya di jalur kiri. Buat yang ngga ngeh ati-ati ya, karena berbagi dengan pejalan kaki. Taipei memang lebih ‘ramah’ ke sepeda motor.

Namun, apakah sepeda motor ramah bagi pejalan kaki?

Di jalan umum lawan motor adalah mobil dan bus. Mereka berada pada sisi kanan (di Taiwan semua sisi kanan), dan sama seperti di Indo, barengan orang nyebrang adaaa aja sepeda motor yang ikutan nyebrang atau ganti arah. Pas ke Huaxi Night Market di Taipei, lorongnya penuh sama sepeda motor yang membelah keramaian. Wew..kalau kesenggol lumayan tuh, mana pengendaranya pasang tampang ngga dosa lagi, jadi menurut mereka ini biasa dan layak dilakukan.

Sebenarnya indikasi bakal ngganggu sudah terasa pas liat Liouhe Night Market di Kaohsiung. Ada sepeda motor pas pasar malam baru buka, tapi setelah itu karena kedua sisi jalan ditutup, jadi bebas kendaraan. La di Taipei ini pasarnya makan banyak jalan dan tentu banyak pintu. Bebaslah mereka masuk. Melihat banyak motor, kok Uber motor belum masuk sana ya? #wondering

Mobil di sana kebanyakan sedan, sempat liat model Innova gitu. Yang pasti parkir susah, areal parkir terbatas. Jangankan di area stasiun yang padat gitu, area yang maha luas macam Shoushan Zoo juga ngga liat tempat parkirnya. Jadi waktu kita nunggu bus pulang, ngeliatin orang-orang yang diturunkan dari mobil sedan. Ada kali 6 orang dalam mobil, empet-empetan gitu. Trus setelah mereka ambil bawaan dari bagasi, mereka jalaaan….ke pintu masuk yang ada di atas. Jadi nasibnya sama dengan kita yang pakai bus umum 😛

Kapal kita ngga nyoba, cuma ikut river cruise aja di Kaohsiung yang point to point. Nyari loketnya susah juga ya, karena Google Map ngasih tahunya di sisi yang berbeda (atau mungkin ada di dua sisi, tapi yang satu lagi tutup). Keluar dari Yangchengpu Station, jalan aja ke tepi sungai Love River. Banyak kafe sih, tapi lagi pada tutup karena masih siang. Yang kita temui orang-orang yang lagi jogging sore, atau para lansia yang lagi senam di taman. Tempatnya bersih banget, padahal jarang tempat sampah. Trus sampai sana, ngga ada loket yang buka. Liat ke sebrang sungai, kok banyak bus parkir. Trus ada boat juga tertambat di sana. Nah, mungkin inilah tempatnya.

Jadilah kita jalan menyusuri jembatan. Sampe tengah anginnya gede banget. Penumpang boat ngga banyak, sama kita mungkin cuma belasan. Nahkodanya perempuan, yang laki jadi pemandu. Sebelumnya diperagakan alat keselamatan. Dari awal sudah keliatan nih pemandu bosan sama kerjaannya, ngga peduli gimana meningkatkan ketertarikan penumpangnya, dan inginnya cepat selesai. Ngomongnya datar, persis orang lagi baca meski dia hapal di luar kepala. Semua disampaikan dalam bahasa China. Wah kalau kerja seperti itu, apa bedanya dengan muter rekaman suara aja? Singapur melakukannya, jadi yang kita dengar suara penjelasan dalam bahasa Inggris dan Mandarin, campur kresek-kresek saking ngga jelasnya. Kalau Australi nahkoda merangkap pemandu. Jadi dia nyetir sambil bilang ini apa, kita mau kemana, tapi ngga ngomongin sejarah. Pas naik Duck Tour, bus amphibi di Gold Coast, sopir sendiri, pemandunya ada sendiri. Dia interaktif dan dekat ke anak-anak, soalnya sekalian jualan souvenir 😀
Kendaraan privat lainnya mestinya gondola atau cable car. Kalau di Taman Mini turunnya di tempat asal, di Maokong Taipei sistemnya kaya di Genting Malaysia, nganterin orang ke satu titik. Kalau pas sepi bisa dapet yang buat rombongan kita aja, tapi kalau lagi rame ya kita dicampur sama yang lain. Tiketnya hanya one way, ntar kalau mau balik bisa beli lagi. Kalau dari Taipei Zoo bisa beli yang ke Taipei Zoo South, Zhinan Temple, atau Maokong Station. Masing-masing ada area wisatanya.

Karena kita masuknya dari kebun binatang, ada binatang yang harus dilihat di Taipei Zoo South. Jadi kita menumpang kereta kelinci yang ke Bird World, liat-liat, trus naik kereta kelinci lagi ke Taipei Zoo South. Dari sana beli karcis ke Maokong. Itu karcis ngga diperiksa lo kita mesti turun kemana. Soalnya kalau mau keluar gerbang, karcisnya bakal ditelan mesin. Dan kalau ketauan kita turun di stasiun yang lebih jauh daripada seharusnya, malunya disini bo! 😀

Trailnya ni gondola emang makin lama makin menanjak. Jadi alih-alih datar kabelnya, ini malah kita ditarik ke atas. Ketinggiannya sekitar 500an meter, masih kalah sama Genting Highland. Pemandangan sih bagus, bisa keliatan kota Taipei dengan Taipei 101nya. Tepat di bawah kebanyakan masih berupa hutan. Di Zhinan Temple station, sesuai namanya, bisa mengunjungi kuil yang ada di sana. Baliknya kalau ngga mau pakai gondola lagi bisa pakai Bus S10 yang lebih murah.

Maokong station sendiri lebih ramai, orang rupanya ngga pake cable car saja, tapi juga pakai sepeda! Ini beneran, fiuh ngebeyangin naik sepeda menanjak dengan ketinggian seperti itu, kaki ini rasanya ngilu 😛 Sempat ketemu dua pengendaranya lagi beli minuman di minimarket di stasiun ini. Di dalam banyak orang yang lagi istirahat sebelum balik atau turun di Maokong. Katanya sih ada kebun teh, yah mirip-mirip Puncak lah. Pulangnya…jangan salah kaya kita lo. Harusnya beli yang Taipei Zoo South biar turunnya masih di dalam bonbin, malah beli yang Taipei Zoo yang ada di samping pintu masuk bonbin. Sadarnya baru di atas 😀 Jadilah kita cuma lihat belasan binatang saat itu.

Sekarang gimana dengan transportasi umumnya? Kecuali Taiwan High Speed Rail, semua bisa dirangkum beli tiketnya dalam Easy Card atau Day Pass. Yang Easy Card model deposit, nanti kalau ada sisa bisa dibalikin. Cuma males kali nyari loket pengembaliannya, belum tentu juga kita balik stasiun pas mau ke bandara mengingat barangnya seabrek (beneran, berangkat koper masuk kabin semua karena ringan. Pulangnya beli bagasi buat dua koper :P) lebih praktis naik taksi. Sebenarnya bisa terpakai sejak dari bandara loh, kalau bandaranya terhubung dengan MRT. Di Kaohsiung bandara terhubung, tapi ngga ada day pass. Begitu balik mau ke Taoyuan Airport di Taipei, baru sadar kalau MRT ngga kesana, yang kesana cuma kereta high speed. Ternyata yang terhubung dengan MRT itu Songshan Airport 😀 Untung ngecek dulu bandaranya dimana.

Taipei Day Pass belinya paketan, ada 1,3, dan 5 hari. Mau naik berapa kalipun ke MRT dan bus bebas. Kalau kita dikit makenya uang ngga kembali. Kemaren kami ngga pakai karena yang 5 hari 700 NTD sendiri, kayanya ngga sesering itu kita pakai deh. Ongkos MRT berkisar 20-35 NTD per orang, sedang bus 10-37 NTD per orang. Untuk tarifnya ini bisa lihat di Google Map buat persiapan uang kecil.

Beli tiket di stasiun lebih praktis pakai vending machine. Cek dulu kita ada di stasiun apa (biasa diwarnai kuning), mau kemana, harganya berapa, jurusan apa, trus liat stasiun interchange dimana kalau mau ganti jalur. Jalurnya ada nama, warna dan nomornya. Ada mesin yang tinggal disentuh stasiun tujuan dan ngasi tau berapa yang mesti dibayar, ada juga yang kita mesti cek sendiri harganya berapa, yang disentuh harganya, trus dikali jumlah tiket yang mau dibeli. Ada mesin yang cuma bisa receh, ada juga yang maksimal bisa sampai lembaran seratusan

Dia juga membatasi masukin koin maksimal cuma boleh 20 keping. Kalau duit kita gede misal 1000 NTD, atau ngga tau mesti bayar berapa, atau mau tanya-tanya ke petigas, beli aja di loket.
Setelah keping tiket muncul kita tap-in deh di gerbang masuk, lalu kantongi baik-baik biar nanti bisa keluar di stasiun tujuan. Cek kota mesti naik atau turun di platform mana, bisa di bawah bisa di atas. Kalau mau ke toilet bisa sekarang, bersih-bersih kok.

Selain membatasi daerah platform dan rel dengn pintu, Taiwan juga sudah mengatur negaranya untuk tertib. Etika yang saya tahu dahulukan mereka yang mau keluar lebih dulu ketika kereta terhenti dan pintu terbuka. Nah mereka ini sampai bikin waiting line untuk penumpang yang mau masuk kereta  jadi ngga umpel-umpelan. Ada juga gerbong khusus wheelchair dan sepeda. Oya di salah satu gerbang masuk memang ada satu yang besar, tempat lewat mereka yang berkursi roda, berstroller dan mereka yang membawa sepeda. Gerbong mereka lebih luas karena bangkunya lebih sedikit. Disediakan pula pegangan di dinding kereta.

Bangku kereta ada di sepanjang dinding. Yang berwarna biru tua priority seat, buat oma opa, ibu hamil, ibu dengan anak kecil dan orang yang mengalami keterbatasan fisik. Kalau capek sih duduk aja disitu, tapi mata mesti waspada begitu ada satu dari empat kategori di atas langsung berdiri ya. Gelantungan aja di pohon #eh.

Jangan takut telat berhenti di stasiun yang dituju, karena ada papan petunjuknya di atas tiap pintu, nama stasiun yang sedang dikunjungi, akan dikunjungi, stasiun akhir dan keterangan pintu sebelah mana yang akan membuka. Membukanya pintu cepet banget, jadi siap-siap aja ngedeketin pintu kalau mau sampai stasiun tujuan.

Soal pintu ini jangan coba-coba masuk setelah bunyi sirene terdengar. Pernah tuh rombongan sama teman-teman pas ke Singapura, kita menuruni cepat eskalator, karena kereta sudah di bawah. Nah ada satu teman kita ketinggalan, ngga perhatiin ada peringatan langsung aja masuk. Kegencet dan dua lengannya, sampai sama masinis dibuka lagi karena berasa ada yang ganjel. Sama penumpang lain dia diliatin, ‘kagum’ sama kekuatan lengannya. Kita pijitin, kan ngga lucu lebam di negeri orang 😀

Sampai stasiun tujuan bisa langsung keluar atau ganti jalur kereta (interchange). Keluarnya ada banyak pintu, jadi cek tujuannya kemana. Di lantai platform dan lantai gerbang keluar sudah ada keterangan, cek disitu. Bisa juga cek di Google Map. Di pintu keluar koin kita akan ‘ditelan’ mesin. Kalau bawa anak-anak, biarkan mereka duluan yang keluar ya, trus mesti cepat juga keluarnya. Pas di Bankstown Sydney, entah kenapa gerbang pintu keluar menutup cepat pas anak saya lagi di tengahnya. Kenalah kedua sisi pinggulnya, untung ngga cedera.

Kalau ganti jalur juga cek mesti kemana. Ada stasiun yang pindah jalurnya tinggal ke sisi lain platform, ada yang mesti melanglang stasiun dulu sekitar 10 menit. Oya kalau wisata ngga usah keburu kaya orang kerja. Kerap datang kok keretanya jadi nikmati aja.

Yang unik hampir setiap stasiun di Kaohsiung ini punya ciri sendiri. Di Yangchengpu Station ada kucing gede di pintu keluar stasiun. Di Formosa Station dihiasi dengan langit warna warni, ada pertunjukan piano mulai sore hari. Trus dimana ya (mungkin Formosa juga) dindingnya dihiasi manga kereta dan tokohnya. Seru-seru, jadi betah berlama – lama di stasiun. Eh tapi jangan kelamaan ya. Kita pernah ninggal teman yang ngga mau jalan lagi karena kecapekan, janjian nungguin di stasiun jadi dia ngga keluar gerbang. Begitu kita jemput dua jam kemudian…yaaah dia ngga bisa keluar 😀 Berlama-lama di stasiun juga bukan berarti nyaman loh, disini ngga boleh makan dan minum, gitu juga di dalam kereta.

Untuk bus ada banyak rute. Jangan khawatir salah, karena mereka punya nomor di depan bus, lengkap dengan nama tujuan akhirnya, dalam tulisan latin (yeay!). Google Map akan kasih kita guidance naik bis nomor berapa dan jurusan mana. Yang bikin pusing mungkin tempat nunggunya masih dalam karakter China. Copas aja ke Google Translate, nanti ketahuan mesti tunggu dimana. Atau bisa semudah ngikutin aja titik biru Google Map berpendar kemana. Cara lain, download rute bus nomor tertentu, mereka sudah lengkapi dengan nama halte dan berapa menit lagi datang.

Sebabnya setiap bus sudah dilengkapi Geographic Informatin System, jadi bakal kedetect tu bus lagi dimana (misalnya sopirnya kok lama amat ngaso di warkop, bakal ketahuan :D). Di web bus route yang Taipei dan Kaohsiung juga ada peta halte, berpendar kalau busnya lagi di sana. Di halte juga ada keterangan bus mana aja yang bakal mampir sekaligus peta rutenya. Di halte tertentu ada running text menandakan bus nomor berapa datangnya kapan. Running text juga ada di dalam bus, untuk memperlihatkan info mirip di dalam kereta, lengkap dengan suara.
Masuk ke bus dari depan, tepat menghadap sopir. Karena kita ngga punya kartu, langsung cemplungin uang pas ke kotak uang di samping sopir. Kalau punya kartu bisa tap pas naik atau turun. Turun bisa dari depan atau tengah. Ada juga bel di tiang atau dinding, bisa dipencet kalau kita sudah akan turun. Tapi bus tetap akan berhenti di halte. Sopirnya full pakai bahasa China, jadi siapin bahasa tarzan kalau mau nanya 😀 Oya pas kita mau ke National Science and Technology Museum di Kaohsiung, sopir yang abis ngomelin kita karena naik di lampu merah (yes, we did it :D) ngasih kupon diskon 50 NTD dari harga tiket 120 NTD. Lumayaaan 😀

Kursi di bus terbatas, yang bagian depan cuma 6-8, yang belakang banyakan dan lebih dempet. Rupanya yang depan untuk 4 kategori priority seat seperti di MRT. Pantesan lebih lebar dan dekat sama pintu.

Selain transportasi dalam kota, ada juga yang antar kota. Yang kami cobain sih Taiwan High Speed Rail atau THSR. Kalau dari Kaohsiung naik MRT dulu ke Zuoying Station, trus keluar dikit masuk ke stasiun Xin Zuoying. Ini stasiun gedeee banget kaya bandara, lengkap dengan papan informasi daftar kereta yang akan berangkat. Entah kemana saja, tapi yang ke Taipei ada setiap setengah jam. Enaknya lagi disini ada papan berisi daftar bus yang akan mampir di depan stasiun.

Dari beberapa buku traveling yang saya baca, semua menyarankan kalau mau nyobain kereta cepat ya di Taiwan, karena paling murah. Kecepatannya sekitar 300 km/jam, harga 1.600 an NTD atau sekitar 640 ribu rupiah. Jauh lebih murah dari saudaranya Shinkansen yang nyebutnya juta 😀 Cara masuknya sendiri sama dengan MRT, turun ke bawah trus kita berhadapan dengan platform yang lebih sederhana dari platform MRT. Ngga bisa naik kalau belum waktunya, semua pintunya elektronik. Tempat duduk lebar dan bisa dilandaikan. Pemandangan sih biasa ya, lebih indah di Indonesia.

Kereta cuma berhenti di Kaohsiung, Taichung, Taipei dan Nangang. Selama perjalanan boleh makan minum, tapi kebanyakan penumpang yang naik ngga ada yang nggiling terus kaya kita (malu :P). Mereka biasanya pekerja, cuma bawa segelas kopi dan koran untuk dibaca. Ada sih yang jual makanan dalam trolley, tapi cepat banget nawarinnya. Trus ada CS juga yang nawarin untuk ngebuang sampah. Turun di Taipei Main Station jalan sekitar 10 menitan untuk sampai ke stasiun MRT.

Untuk angkutan dari bandara Kaohsiung ke kota, bisa pakai bus atau MRT. Keluar bandara ke kanan aja, nanti ada stasiun MRT. Untuk arah bandara Taipei cek dulu berangkatnya dari Songshan atau Taoyuan. Kalau dari Songshan naik MRT coklat ke Shongshan airport. Kalau Taoyuan mesti pake bus atau mau niru kita, naik taksi? Argonya sampai 1.200 NTD atau 480 ribu rupiah dari Ximen.

Angkutan paling murah ya jalan kaki, sehat lagi, secara di Indonesia kita jarang banget jalan kaki. Kalau di Indo dibelain olahraga pagi cuma dapat 3 km, di Taiwan karena terpaksa jalan (ya iya lah, masa mau terbang? :D) bisa sampai 17 km loh hasil hitungan aplikasi! Pantes meski makan sudah over dari 3 kali, berat malah turun gara-gara jalan. Google Map juga bisa diatur mau ngasi rute yang low cost apa short walk. Sudah tau saya milih yang mana kan mengingat malesnya? 😛
***

IndriHapsari

Advertisements