Tanggapan Komentar di Artikel ‘Dia Naksir Ngga Sih?’

Curhat lagi. Galau lagi. Ga bisa move on lagi.

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Tanpa sadar saya sudah menjawab komen ke 88 yang nyasar di artikel Dia Naksir Ngga Sih? Artikel yang saya tulis untuk lucu-lucuan, tapi mendulang banyak komentar dan jadi top postingan terus sejak pertama kali diluncurkan, sampai sekarang. AADC 2 aja ngga bisa ngalahin!

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Saya yang dulu, menanggapi dengan malas komen-komen tersebut. Habis masalahnya sama, soal cewek (iya, yang cowok curhat paling cuma lima biji di antara ratusan komen tersebut) yang galau dengan cowok yang diincarnya itu benernya suka apa ngga. Kalau sepuluh yang begitu masih ok lah, tapi kalau berjamaah sampai puluhan, lama-lama cape juga eike. Belum lagi kayanya mereka sibuk sama masalahnya sendiri. Saya yakin mereka sudah baca tulisan saya, karena mereka masuk via Google dengan keyword ‘cara mengetahui cowok naksir’ misalnya, yah model-model gitu lah. Trus alih-alih nanggapin artikel ituh, mereka malah jadi inget sama masalahnya sendiri, dan curhat deh di komen.

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Tulisannya juga macam-macam tipenya, tergantung yang nulis. Ada yang to the point, langsung ke intinya, karena dia tahu akar masalahnya apa. Ada yang ceritaaaa dulu latar belakang dan kejadiannya secara rinci, lalu pertanyaannya ada di akhir. Atau ada yang belum-belum nanya dulu di awal, lalu ceritaaa, dan ditutup dengan pertanyaan yang sama. Kenapa saya tulis ‘ceritaaa’? Karena biasanya panjaaaang sampai saya jadi tahu detail keluarga si cowok, teman-teman si cowok dan kebiasaan si cowok 😀 Cerita panjang ngga apa, yang masalah kalau dia sudah pakai singkatan yang ngga lazim, atau merepet tanpa tanda baca dan paragraf. Itu perlu perjuangan sungguh, dan itu juga yang sering bikin saya males baca.

Jadi meski saya tahu ada notif komen masuk, ngga serta merta saya balas setelah saya intip komennya lebih dari sepuluh baris. Nanti, kalau saya lagi kumat rajinnya, bisa puluhan komen saya balas sekaligus, dan hebatnya (iya, saya juga kagum nih :P) ngga ada yang copas! Semua saya jawab langsung dari HP saya 😀 Tetapi biasanya untuk menyingkat waktu, yang keliatan mbulet panjang dan nyiksa mata, saya lempar ke teman-teman saya di grup WA, lalu mereka dengan telatennya baca apa masalahnya, plus nawarin solusi (puk puk teman-teman yang baik hati :D). Biasanya malah saya yang nanya-nanya inti masalahnya apa, mereka bisa tuh menganalisis dan menyimpulkan. Sungguh menghemat waktu, meski ngga semua juga saya pakai usulannya, terutama kalau teman-teman saya lagi kumat ngasalnya 😀 Oya, yang komen sudah menyamarkan identitasnya, karena dia sadar ini masalah pribadi yang akan tayang di blog. Jadinya yang tau siapa yang nulis ya cuma dia dan Tuhan 🙂

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Di antara problem dia naksir-ngga-naksir-ngga, terselip beberapa problem serius yang sudah ngga bisa saya becandain jawabnya. Saya punya kecenderungan untuk jawab dengan ringan, karena yang dihadapi remaja (bahkan ada yang SD!) hingga para lajang yang sudah bekerja. Setidaknya saya lebih tua jadi saya yang ngalah dengan sok muda 😀 Tapi untuk persoalan mencintai istri orang lain, bersama laki-laki yang bukan suaminya, masih teringat mantan meski telah berkeluarga, menikah dengan orang yang tidak dicintai, saya mesti jawab dengan serius. Karena ini bukan lagi menyangkut dua orang yang sedang di mabuk cinta, tapi ada anak dan pasangan resmi yang akan merasakan akibat dari ketidakdewasaan sang komentator, yamg mungkin akan diperparah dengan saya yang ngasih nasehat ngasal. Daripade nambahin dosa, mending diseriusin dah 😀

Tapi dibalik ke-‘halah gitu aja kok ditanyain sih’ mereka ini lucu-lucu loh. Mereka manggil saya ‘kak’ untuk menghormati sekaligus menganggap saya orang yang mereka percaya untuk dicurhatin. Mereka juga ngga mau cek ada komen sama sebelumnya ngga yang sama dengan problem mereka (yang mestinya banyak yang sama itu). Mereka cukup PD untuk merasa hanya mereka yang merana, diombang ambing cinta dan hanya mereka yang punya persoalan yang sedemikian parahnya. Meski sudah menuliskannya panjang lebar dan kelihatan berbeban berat bener, ngga ada yang protes tuh meski saya ngga jawab-jawab. Jadi aslinya mereka tuh cuma pengen cerita aja, sedang jawabannya mah bodo teuing, wong sebenarnya mereka sudah punya jawaban di kepala masing-masing. Selain cuma ingin cerita, mereka juga mengharapkan dukungan atau pembenaran atas apa yang mereka rasakan.

‘Kak dia suka ngelirik aku kalau aku lewat di depannya. Maksudnya apa ya??’ kira-kira gitu dah tipe pertanyaannya. Harapannya sih supaya saya jawab ‘Oh itu artinya dia naksir dek!’ meski dengan teganya saya balas, ‘Masih terlalu dini untuk bilang dia naksir kamu. Banyak-banyak bergaul ya…’ Nah kan…saya jahap…sudah nebak isi pikirannya, pake menghancurkan harapannya lagi 😀

Namun kemudian saya menyadari, mereka ini sumber inspirasi saya, sumber penyemangat saya, dan tentu sumber traffic saya 😀 Seperti yang saya ungkap di atas, mereka mendorong artikel ini jadi top posting di sepanjang tahun. Mereka ngga segan masuk mengisi form yang diperlukan saat mau komen. Yang mengharukan, mereka mempercayai saya bisa memberikan nasehat untuk masalah mereka, atau at least, mengingat kayanya mereka ngga menanti jawaban saya (:P), mereka percaya saya mau mendengarkan (aka membaca) curhat mereka. Bukankah itu indah? Buat saya pribadi sekarang jadi paham, bahwa saya (mungkin) dibutuhkan oleh mereka yang lagi punya masalah percintaan ala layang-layang (tarik ulur). Satu ucapan teman jauh (selain dari lokasi juga dari kejarangan kita saling komen) yang saya ingat, ‘Kamu ditempatkan Tuhan untuk membantu mereka’. Saya waktu itu berpikir, ah masa segitunya. Tapi lama-lama jadi percaya diri bahwa mungkin memang begitu adanya.

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Hal lain yang menyadarkan saya untuk lebih menghargai komen yang masuk adalah mereka begini ini karena tidak ada yang ngasih tau mereka harus gimana. Sama seperti anak-anak yang salah memegang garpu dan sendok di sisi yang salah karena ngga ada yang ngajarin mereka. Lalu kalau kita saling diem-dieman, yang ngga tau ngga mau nanya, sedang yang tau ngga mau ngajarin, ya bubar dunia persilatan. Saya beruntung ‘ketemu’ dengan para komentator yang punya keberanian untuk bertanya persoalan pribadinya. Karena itu sudah selayaknya kegundahannya itu saya jawab.

Pemicu saya menuliskan catatan ini juga karena rasa prihatin tentang hubungan cowok cewek era digital ini yang ternyata begitu rumit. Saya dulu berpikir persoalan ini remeh dan sepatutnya tak dipertanyakan. Tapi remehnya saya ternyata beda dengan yang lain, bahkan masalah GJ ini menjadi sumber kekacauan hidup mereka. Gawatnya, yang merasakan hal ini banyak. Sama seperti editan photoshop abang J yang ngga alus dan jelas-jelas didasari pemikiran yang salah, ternyata yang share banyak, jadi yang sesat juga banyak. Berarti ada yang salah dengan situasi penyebab kegalauan ini.

Hal tersebut entah karena cowok sekarang tambah cuek sehingga bikin cewek bingung, atau cowok sekarang kebanyakan TP (tebar pesona) sehingga cewek jadi bingung juga, atau cowok sekarang lebih plin plan sehingga sikap ‘kayanya naksir’ yang semula ditunjukkan sekejap bisa berubah ‘jadi teman aja deh!’ yang sekali lagi, bikin bingung para cewek. Cewek jaman sekarang juga mengalami perbedaan. Mereka lebih berani untuk menyatakan perasaan (artikel Tips Menembak Cowok jadi runner up top post dengan 179 komentar) tapi sering dilanda kecemasan akan kegagalan. Intinya mereka belum siap kalah perang, hal yang saya ngga temui di cowok. Kalau di cowok mungkin karena biasa ditolak…eh maksudnya ditolak itu biasa, mereka lebih bisa menerima keadaan dan cepat berbalik ke target berikutnya. Tapi kalau cewek..brrr…sudah baper karena ditolak, gagal move on, pake sedih setengah idup karena gengsinya jatuh ke titik nadir. Ketakutan-ketakutan seperti itu yang mendasari pertanyaan mereka di artikel Dia Naksir Ngga Sih?

Penggunaan internet untuk menjalin komunikasi juga marak digunakan, sampai dikirimin emoticon di BBM aja jadi muncul pertanyaan, dia naksir ngga tuh kalo kirim gambar melet, misalnya 😀 Ini beneran, jadi ati-ati buat para cowok jangan sembarangan pilih icon ya 😀 Perhatian dikit, misal ngirim chat untuk minum obat juga jadi indikasi para cewek kalau tu cowok naksir. Ckckck…ini entah karena ceweknya keGRan atau cowoknya emang perhatian. Komunikasi terjalin intens lewat chat, dan itu juga yang bolak balik saya jawab bahwa terlalu dini untuk bilang dia naksir kamu.

Gara-gara jaman teknologi informasi seperti gini, cowok yang caranya berbeda malah jadi pertanyaan. Satu komen yang saya ingat benar adalah cerita tentang cowok yang cool abis.

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Rasanya saya hampir berlinang air mata baca komen ini (iya, saya memang lebay :D). Di jaman sekarang, di tengah cowok-cowok mengandalkan cara murah(an), tidak beresiko, dan bisa menyebar pesona sekaligus ke banyak orang dengan semua chat-chat itu, ini ada cowok old school yang dengan gentle berani menunjukkan dirinya di depan keluarga si cewek, tau bahwa menyukai cewek itu berarti harus menghargai ayah ibu yang sudah merawat anak gadis mereka dengan baik.

Maka dengan terharu saya bilang, dan ini menjadi satu-satunya balasan yang bernada positif,

image

Dia Naksir Ngga Sih?

Akhir kata (ini udah kaya pidato aja ya) saya minta maaf telah memperlakukan dengan tidak serius komen curhatan sebelumnya. Ternyata dari komen curhatan itu saya jadi tahu hakekat hidup di dunia (untuk bermanfaat bagi yang lain), belajar mengenai personality dan problema hidup, menyadari standar saya berbeda dengan yang lain sehingga harus belajar menghadapi sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja…belajar sabar 🙂 Makasih ya semua, jangan kapok-kapok komen lo ya…pasti dijawab…sure…beneran… 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements