Rina Tri Lestari, Melestarikan Bahasa Jawa

‘Namanya Hapsari kok ndak bisa bahasa Jawa.’

Begitu tegur para Budhe dan Pakdhe kalau saya mudik, ke tempat Bapak saya berasal. Memang ada resikonya ya punya nama mirip orang terkenal jaman itu. Saya yakin Bapak saya ngga sibuk browsing internet, atau mengintip nama-nama bayi di toko buku, menjelang kelahiran saya. Ambil saja nama orang terkenal, yang saya bayangkan kalau saya lahir sekarang, nama saya mungkin sudah Mulan Jameelah, Dewi Persik, atau Zackya Gotik. Tapi tidak, nama saya Indri Hapsari, berasal dari wakil ajang putri-putrian kala itu, yang berasal dari Solo. Sepertinya banyak orang tua yang memberi nama putrinya dengan berbagai variannya, ada yang Hapsari-nya doang yang dipakai, atau persis sama dua kata, atau tiga kata, yang berarti ada tambahan namanya. Googling saja, pasti banyak deh yang bernama sama :). (Baca : Mengembangbiakan Nama)

Masalahnya, nama saya yang nJawani tersebut tidak otomatis menggambarkan kemampuan berbahasa pemiliknya. Merantau ke Jawa Timur, dengan salah satu orang tua bersuku Jawa Tengah, ya ngga membuat saya otomatis bisa tuh. Sehari-hari, di rumah ataupun sekolah saya berbahasa Indonesia. Sepertinya meski teman-teman ngobrolnya, plus guyonnya pakai bahasa Jawa, tapi setiap berbincang dengan saya baliknya ya ke Indonesia lagi.

Kata mereka ngomong Jawa saya aneh. Waktu ikut paduan suara yang lagunya bahasa Jawa, saya disuruh ngulang sendirian, sepuluh kali, di depan teman-teman, karena spell-nya belum beres. Jadi ngerusak yang lain, dan ngga boleh juga saya sengaja tak bersuara, hanya buka mulut saja. Pelajaran bahasa Jawa, yang didapat dari SD sampai SMA, biasanya berakhir di tangan Bapak kalau sudah bagian Jawa halus (kromo) dan menulis cerita. Anak saya gitu lagi nih, kalau ada PR ya tunggu suami aja, daripada salah.

Maka ketika mbak Jasmine menautkan link cerita milik mbak Rina Tri Lestari, waktu membaca pertama kali saya ingat pernah enggan membacanya karena pakai bahasa Jawa. Itu prosesnya sama seperti bahasa Inggris, berhubung bukan mother language. Dari bahasa Jawa, terjemahkan ke Indonesia, baru paham artinya. Tapi kok kayanya lucu, sehingga proses seperti membaca artikel bahasa Inggris juga saya terapkan. Baca aja terus, kata yang ngga ngerti abaikan, nanti ketebak sendiri artinya apa.

Dan syukurlah bisa. Bahasa yang dipakai mbak Rina adalah bahasa Jawa khas Suroboyoan. Terus terang, menuju sasaran, dan…apa adanya (tau sendiri deh 🙂 ) Namun itulah serunya, itulah khasnya. Dan sebagai bagian dari masyarakat Surabaya, sehari-hari ngomongnya ya pada gitu di sebagian besar masyarakat Surabaya. Mereka bangga atas bahasanya, dan terbukti mbak Rina bisa berkreasi dengan menggunakan bahasa tersebut. Sangat luwes, dan penguasaan kosakata bahasa Suroboyoannya melimpah.

Dari segi cerita, sungguh luar biasa. Cerita kehidupan sehari-hari sebuah keluarga, yang diceritakan apa adanya, namun sangat detil. Ada saja idenya, padahal penulisnya mengaku belum menikah. Bahkan saya yang sudah berkeluarga saja tidak mengamati sedetil itu, sampai semua penggambarannya terasa hidup. Ceritanya juga bisa terlepas satu dengan lainnya, loncat sana sini, bisa maju mundur, tergantung yang mau diceritakan apa. Sudah menikah – baru pacaran, sudah punya dan belum punya anak. Mbak Rina sudah membangun frame yang bisa ia ubah-ubah sesukanya, dengan karakter yang sudah melekat di otak pembaca.

Yang membuat saya kagum lagi, kemampuannya untuk menciptakan cerita lucu. Saya melihat hanya ada dua penulis yang bisa membuat cerita lucu tanpa kesan maksa, ujungnya ngga garing, atau ngga bertele-tele. Hilman Hariwijaya dan Raditya Dika, di sebagian buku pada awal karir mereka. Kali ini saya tambahkan penulis ketiga, mbak Rina, atas kekonsistenannya menampilkan cerita yang bikin ngakak di pagi hari, karena biasanya postingnya pagi-pagi.

20140219-050233.jpg

Saya jarang baca buku novel (baca : Kenapa Enggan Baca Novel?). Saya akan baca buku yang reviewnya bagus, atau bab pertama sudah bikin penasaran, atau saya tahu penulisnya jaminan mutu. Maka ketika mbak Rina menawarkan bukunya di Facebook, tanpa ragu saya langsung pesan. Oh, saya memang bisa membacanya di internet, karena mbak Rina berbaik hati masih memajang karyanya itu di sana. Tapi memiliki bukunya saya anggap sebagai koleksi yang bermanfaat, membuat saya tertawa dan memperbaiki kemampuan berbahasa Jawa.

***
IndriHapsari
Gambar : Rina Tri Lestari

Advertisements