Korupsi Itu…Jahat!

image

Seorang teman mengusik pikiran saya, saat ia bertanya  tentang Panama Papers.

‘Memangnya ngaruh ya, sama kamu?’

Secara logika, otak ini akan menjawab: tidak. La kenal aja kagak. Dia ngga ngutang ke saya. Dia juga ngga saya utangin. Apa yang dia lakukan tidak merugikan saya.

Tapi hati ini berontak. This is not right! Dan mulailah saya memilah wawasan saya soal korupsi, kenapa sih korupsi itu…jahat?

Kita bisa tinjau dari pemasukan dan pengeluaran, kenapa dari segala sisi kita bisa mengharamkan kegiatan ini. Jadi bukan babi aja yang haram, itupun kalau dimakan. Korupsi harusnya juga sama haramnya, bonus menyengsarakan hidup orang.

Duit yang buat korupsi itu saudara-saudara, kebanyakan adalah duit haram. Duit halalnya ada, meski dikamuflase dengan money laundering, ada sebagian kecil yang memang dari usaha yang beneran. Kenapa kok saya bilang dapetnya dari sumber ngga bener, pertama karena duit itu uang panas, gampang dapet gampang pula lepasnya. Dapet dengan sedikit usaha tapi dapetnya melimpah, jadi membuat ngga sayang untuk segera dilepas, bahkan untuk hal-hal yang haram sekalipun. Kedua kalau dapetnya halal, ya sayang atuh bikin dosa dengan korupsi. Itu sudah rumus umum kok. Orang yang kerjanya ngerampok atau menindas orang lain, trus jadi sinterklas bagi orang yang membutuhkan, cuma ada di cerita Robin Hood. Itupun kita tidak bisa mengkategorikan pekerjaan dia sebagai haram, karena yang direbut hartanya adalah orang-orang kaya yang mengambil paksa dari orang miskin. Buat yang duitnya panas tapi rajin nongol di acara sosial, jangan nyamain diri sama Robin Hood deh! šŸ™‚

Trus, pengeluaran haram itu ada banyak tipenya. Intinya sih melanggar agama, etika dan merendahkan akal budi yang kita punya. Ngeluarin duit buat maksiat misalnya, haram tuh wong istri juga nungguin di rumah. Dopping pake narkoba, haram juga karena jadi tergantung dan kecanduan. Bayar orang untuk ganggu usaha pesaing, apanya kalau bukan menyembunyikan kepengecutan dan ketidakberdayaannya? Nah, di antara kegiatan itu semua, ada yang namanya korupsi.

Korupsi menurut Wikipedia adalah adalah tindakan pejabat publik, baikĀ politisiĀ maupunĀ pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidakĀ legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Misalnya nih, minta hadiah atas program yang disetujui, atau malah sudah minta persekot di depan sebelum program disetujui. Yang rugi siapa? Secara langsung ya pasti yang dimintain hadiah, kan dia yang keluar duit. Secara ngga langsung ya rakyat, karena pertama: si pemberi hadiah akan memasukkan biaya ‘service’ itu ke penawarannya, dengan menaikkan nilai programnya jadi plus plus. Kedua, kalau modelnya yang ngasih itu yang menang, kinerja mah forget it. Iyalah, yng menang bukan yang terbaik tapi yang berani nyervis si pembeli. Trus rakyat ya dapetnya barang yang jelek-jelek, jembatan yang cepet rusak, atau pelatihan yang hanya formalitas untuk menghabiskan anggaran.

image

Jenis korupsi berikutnya adalah penggelapan. Sengaja gitu, naruh usahanya di tempat gelap-gelap biar ngga ditarik pajak. Kejadiannya ya Panama Papers itu. Jadi kalau dibilang ngga ada niatan jahat, pret! Berhubungan dengan pihak Mossack FonsecaĀ itu kan jadi pertanyaan, di antara ribuan firma usaha, kenapa kok mereka yang dipilih? Sampai hampir 3000 nama di Indonesia lagi yang memilih #larismanis.

Pemerasan dalam jabatan rawan terjadi di pengadaan. Kalau mau dapat proyek, mesti nyervis bapak ini itu, trus jangan lupa dong uang muka, uang jasa, sama uang terima kasih. Mau urusan lancar? Sini sini wani piro. Mau usaha ngga dipersulit? Ya sebaiknya Anda ‘mendukung’ program kami. Rawan memang, karena koruptor melihatnya jabatan sebagai sapi perah, bukan keledai layanan.

Gratifikasi juga termasuk meski kaitannya ngga secara langsung. Misal karena pas ngawinin anak supplier itu ngasi kunci mobil BMW (dengan setirnya tentu…eh mobilnya), dikhawatirkan untuk tender berikutnya jadi mempengaruhi bapak yang abis mantu. Belum lagi kalau gratifikasinya sudah ditarget sebelumnya, tambah kacau dunia persilatan. Karena ingat, seharusnya tanpa imbuh apa-apa, produk atau jasa itu bisa kita beli dengan lebih murah. Tanpa syarat apapun, jabatan yang berhasil didapatnya ngga akan diperah demi balas budi ke orang-orang yang mengusahakan. Belum lagi kalau yang dapet promosi ngga kompeten, beugh orang kaya gini kok bisa diangkat sih.

Jadi, pertanyaan emangnya ngaruh itu jawabannya ya emang ngaruh banget. Kalau semua kecurangan dianggap biasa karena toh ngga merugikan kita secara langsung, maka yang kita saksikan adalah semua bisa dibeli dengan korupsi, dan ngga ada sistem yang jalan dengan bener. Percuma bikin aturan atau prosedur njlimet, wong selalu ada shortcut. Semua pasal jadi ada jalan tikusnya supaya ngga berlaku, lengkap sama tikusnya yang makin lama makin gendut.

***
IndriHapsari

Advertisements