Makan Apa di Makassar? (2)

Makassar hebat euy, bisa membuat saya memutuskan, lain kali mesti dikunjungi lagi dengan keluarga. Tempat makannya maunya beda dengan yang dulu (baca: Makan Apa di Makassar), sayang ngga bisa semua berhasil karena pada tutup lagi libur Natal. Karena kunjungan kedua kali, yang saya perhatiin ngga cuma makanan, tapi bagaimana perlakuan para pegawai terhadap pelanggannya.

Yang pertama Konro Karebosi, letaknya dekat dengan lapangan Karebosi (‘ini ada mallnya di bawah, bu!’ kata driver kami dengan bangga). Restoran dua tingkat ini agak nyelempit ya, daerahnya seperti pasar dan pasti rame banget kalau ngga libur.

Soal rasa bisa diandalkan, mesti saya sudah biasa dengan rasa konro ala Depot Aroma di Tanjung Perak Surabaya, yang lebih spicy dan salty. Sama seperti bebek yang cocok ya seperti Sinjay yang asin soro 😀 Ada dua macam konro, yang pertama konro bakar dengan bumbu seperti sate, lalu ada kuahnya terpisah. Kemudian ada sop konro, ini yang berkuah. Oya konro itu tulang sapi yang masih ada dagingnya dikit, nah dikerokoti tuh tulangnya, dengan rasa seperti kuahnya karena ngerebusnya lama hingga empuk begitu. Makannya sama nasi hangat atau krupuk uyel..hmm lezaat…

Sayang pegawainya kurang proaktif gitu. Ditanya ada krupuk lain ngga, dia cuma liat sekeliling, dan bilang ngga ada. Ngga ada inisiatif untuk lihat ke lantai satu (waktu itu saya makan di lantai dua). Begitu saya ke bawah mau cari krupuk, ditanya sudah bayar belum. Duileee…. segitunya takut pelanggan lari. Beberapa pegawai sibuk sama HPnya. Trust me, gadget should be prohibited for your employees. Selain memecah konsentrasi, mereka juga jadi ogah-ogahan melayani pembeli. Anak saya minta garpu dijawab dengan cuek. Untung dia lapor ke saya bukan karena sakit hati tapi perkara, ‘Aku ngga ngerti bahasanya!’ 😀

Malamnya, tanya ke pak driver restoran seafood yang terkenal di Makassar apa. Dia bawa kita ke Lae-lae, depot di pojok jalan yang ruame. Depotnya seperti halaman depan rumah seseorang yang dipasangi kanopi. Begitu masuk disambut dengan panggangan ikan yang besar, dengan jejeran ikan di atasnya. Ikannya dibelah, dioles saus, dan dibalik-balik posisinya. Sebelum masuk pengunjung harus pesan dulu. Ikannya cuma ada baronang, kakap dan kerapu. Ada juga cumi yang besar-besar, dan juga otak-otak. Ikannya sendiri sudah mati dan ditempatkan dalam freezer.

Baronang, kerapu, cumi dan sambal yg sama sekali ngga pedes, dgn rasa lebih mirip petis 😄 #laelae #makassar

A post shared by Indri Hapsari (@hapsari.indri) on

Selesai pesan (yang dihapal doang sama pegawainya) kita nyari meja. Buset deh, meja kotornya banyak banget. Memang ramai sih depot ini, dan mungkin saking sibuknya ngga ada yang sempat beresin meja. Tau sendiri ikan baunya gimana, mana mejanya ngga pake plastik dan segala duri ngumpul di sana. Untung kita nemuin meja yang belum ditempatin jadi masih bersih.

Nyari pegawainya untuk pesan minuman, ngga nemu juga. Akhirnya saya ngambil aja dari lemari pendingin minuman botolan. Tapi karena bapaknya mau jeruk hangat, terpaksa cari pegawai yang ternyata pada ngumpul di belakang. Pesanan saya cuma diteriakkan ke bagian belakang, tapi ngga datang-datang juga. Akhirnya muncul satu orang khusus bawa nasi yang sudah di piring-piring. Trus satu orang lagi khusus ngasih tiga macam sambal. Trus satu orang lagi baru nanya kita mau minum apa, sama mau sayur apa. Setelah lamaaa baru dia balik lagi dan bilang semua pesanan kita ngga ada. Duileee….

Akhirnya ikan kita selesai, yang ini sih waktunya wajar lah. Rasanya dibikin plain, jadi kalau mau berasa ya dimakan sama sambal yang sama sekali ngga pedes itu. Rasanya malah lebih mirip petis. Cuminya kekenyalannya pas, dan dimasak dengan tintanya. Pengunjung datang silih berganti, ada juga yang kebagian meja kotor karena ngga bisa dihindari.

Soal keramahan di tempat makan, kayanya saya kok jarang nemu di Makassar ini yah. Kecentok dua kali, eh kecentok lagi di Otak-otak Ibu Elly. Otak-otaknya sudah ready gitu, tinggal bilang aja mau yang paket 10, 15, 20, 25, 30, 40 atau 50. Harganya sama 5500 rupiah per biji. Rasanya gurih dan tinggal makan. Kalau mau digoreng, disteam atau dibakar juga bisa. Bisa tahan sebulan kalau di freezer, sehari kalau di luar. Makannya dicocol di saus kecoklatan yang uenak.

Pelayannya praktis aja nanya kita mau berapa, nulis di nota, dan bayar deh. Trus sementara dia sibuk bungkusin, kita bayar di kasir, yang waktu itu dilayani Ibu Elly sendiri. Kemaren sempet nanya, pake kartu kredit bisa ngga. Sama mbaknya dibilang bisa. Ya udah saya kasih aja kartu saya. Eh baru ibunya bilang kena charge 2%. Lah, kirain ngga, seperti di toko oleh-oleh lainnya. Trus mau minta plastik untuk barang lain yang saya beli disuruh nunggu pegawainya nyelesein pesanan. Padahal tinggal ngambilin 😛

Contoh yang rada bagusan benernya ada di Nyuknyang Roya di jalan Sangir. Nyuknyang itu ternyata bakso babi, saya cuma tau istilahnya tapi ngga tau artinya. Ngga beramah-ramah gitu sih orang-orangnya, tapi cepet ngambilin pesanan kita, naro minuman kemasan, pokoknya efisien gitu. Rasa baksonya agak plain yah, tapi baksonya emang daging tok. Kuahnya sedep, mirip-mirip Bakwan Kapasari di Surabaya. Bakso tipe-tipe gini nih yang bikin licin tandas sampe ke kuah-kuahnya 🙂

Ada juga satu tempat makan durian Palopo namanya Aroma Durian. Durennya yang kecil-kecil gitu tapi legit. Mau yang gede khas Montong juga ada, tapai kurang seru 😛 Disini durennya dipilihin, langsung dibuka, kalau udah dicicip berasa kurang manis bisa minta tukar. Per 3 biji seratus ribu. Begitu datang tempatin aja meja kursi yang sudah disediakan, langsung masnya bawain duren, aqua, kobokan, tempat sampah dan tisu. Di tempat lain ada yang sambil jualan es dan jus durian.

Yang pegawainya juga sigap ada Toko oleh-oleh Cahaya. Bertempat di jalan Sulawesi, toko oleh-oleh ini lengkap dan modern. Terdiri dari dua lantai, lantai satu mayoritas berisi makanan, terutama kacang. Sistemnya kayanya dikemas sendiri oleh tokonya, kacang serupa kacang disko Bali. Ada penganan lain khas Makassar, ada juga dari daerah lain. Ada juga otak-otak yang dalam keadaan beku di freezer. Kalau mau mencicipi bisa nyoba di cafe depan, yang berfungsi untuk ruang tunggu bapak-bapak yang menanti istri yang kalap belanja 🙂 Agak di ujung ada souvenir non-makanan, sedang di atas semua kaos, kain khas Sulawesi beragam harga ada di sana.

Mbak-mbaknya sih cenderung agak cuek, tapi masih komunikatif kalau ditanyain. Kasirnya ramah, yang mengemas belanjaan kita (bisa dikardusin siap ditenteng pulang) lebih ke efisien kerjanya. Yang di cafe depan tuh ramahnya cukup, pake senyum. Oya selain mencicip otak-otak, ada es markisa, es kedondong dan es sabasa (mirip jahe) yang patut dicoba. Kalau belanja 300 ribu rupiah dapat gratis satu minuman.

Pisgor dan hot choco di 1200 dpl #malinohighlands

A post shared by Indri Hapsari (@hapsari.indri) on

Contoh keramahan lain malah ketemunya di cafe yang mucuk di ketinggian 1200 dpl, Malino Highland. Di tengah jajaran kebun teh, ada Green Pekoe Cafe yang menyajikan makanan dan minuman, terutama Yabukita Green Tea dari Jepang. Disajikannya pakai teko bening, lalu baru bisa diminum kalau daun teh ya sudah ngembang. Disediain gula bagi yang mau. Hot chocolatenya ok juga, banyak susunya. Makanan pisang goreng biasa, terutama karena pisangnya masih kesat dan coklatnya yang biasa. Sop buntutnya di luar perkiraan enak juga. Habis datangnya tuh kaya sop merah, kuahnya serba merah dan tomatnya pada ngambang.

Sop buntut #greenpekoecafe #malinohighlands #makassar

A post shared by Indri Hapsari (@hapsari.indri) on

Pelayanannya bagus. Masnya melayani dengan sigap, ngga lupa senyum. Lalu dia juga ngga style teraniaya gitu meski naik turun (tiga tingkat loh) melayani pengunjung yang di dalam dan di luar. Di luar meski dingin dan angin kencang jadi incaran orang, karena pemandangan indah menghampar hingga kejauhan.

Australia Lamb Chop #roomservice #astonmakassar

A post shared by Indri Hapsari (@hapsari.indri) on

Room service di hotel juga sigap dan ramah. Kan laper nih malam-malam, jam sepuluhan kayanya. Kita pesan Australian Lamb Chop, ngga lama datanglah pesanan itu. Cukup enak dan yang pasti sangat mengenyangkan kalau dimakan sendiri. Satu yang saya kurang suka adalah sausnya, maunya saus steak biasa, ini ada rasa masamnya. Kali emang itu paduannya ya, tapi seandainya bisa milih pengen deh pakai saus mushroom 🙂

Mau pulang, di bandara ya gitu lagi. Di kedai Roti O, ketemu mbak-mbak yang sigap tapi kurang senyum. Kayanya sesekali perlu belajar senyum biar pembeli merasa nyaman. Eh tapi ntar kalau nyaman jadi terlanjur sayang… 😛

***
IndriHapsari

Advertisements