Toleransi Di Bibir dan Hati

image

planetminecraft

Toleransi didengungkan sebagai wujud memperkecil friksi akibat perbedaan. Ngga usah jauh-jauh ngomong soal kehidupan beragama yang biasanya jadi pemicu keributan, maya dan nyata, di masyarakat Indonesia yang ‘agamis’ ini. Anak kembar, sahabat karib, saudara kandung, apalagi suami istri, pasti lah ada beda. Paling tidak beda gendernya 🙂

Sebenarnya kalau mau cari perbedaan, pasti ada bedanya. Wong cara kentut aja beda kok. Yang jadi masalah adalah kalau salah satu pihak merasa kentutnya lebih baik daripada yang lain. Padahal definisi kentut yang baik (dan benar deh, saya tambahi :P) patut dipertanyakan. Baik versi siapa? Apakah ada kriterianya? Kalau dibawa ke kumpulan kentut, masih berlaku ngga standar itu? Trus kalau sudah disepakati memang itu kentut yang baik, berlaku untuk kelas lokal, apa dunia? Bisakah standar yang sama diterapkan di masa depan?

Begitulah kalau satu pihak memperdalam perbedaan, emang bikin pusing. Lama-lama mereka jadi ahli kentut, dan entah julukan eh keahlian itu, bakal bikin bangga keluarga mungkin, pencapaian ego pribadi, atau emang cita-citanya dari dulu mau jadi ahli kentut? Mungkin profesi baru, karena jadi dokter sama polisi sudah terlalu mainstream. Atau mungkin kena distorsi? Maunya ke Jakarta malah berlama-lama di Garut?

Sebenarnya cara paling mudah menghadapi perbedaan adalah lepas kacamata kudanya, piknik. Ngga jalan-jalan doang, tapi live together. Kalau punya pasangan yang kentutnya beda, kita tinggal pilih kan:

A. Mau nerima dengan ikhlas dengan berpikir wajarlah wong cetakannya beda, dan ngga ada aturannya yang menyebabkan ia masuk neraka gara-gara kentut (sekali lagi, kita kan ‘agamis’ banget)
B. Nerima dengan nelangsa alias berat hati, cobaaa tau dari dulu. Mestinya perkentutan ini masuk sebagai salah satu daftar fit n proper test calon pasangan
C. Ngomelin dan berusaha membuat kentut dia sama, dengan menunjukkan keburukan kentut dia dan efeknya bagi global warming. Bisa dengan paksaan, bisa dengan sindiran.
D. Menceraikannya. Habis perkara.

Jangan jadi kaya orang susah deh, kesannya didzolimi, diintimidasi, sehingga selalu merasa insecure dengan semua perbedaan yang ada. Lalu jadi pahlawan pembela kebenaran tapi ngga ngeh kalau sebenarnya keberadaannya ngga diperlukan. Toleransi itu memang ada batasnya, dan semakin ketat batasannya, semakin kecil lingkup kita bisa menerima dan diterima dalam pergaulan. Orang-orang yang suka maksa standarnya yang paling benar, teman gaulnya ya itu-itu aja. Gapapa sih, tapi jangan teriak-teriak dong kalau diperlakukan beda. Lah situ yang sok eksklusif duluan.

Batas toleransi itu apa? Coba cek lagi, sampai seberapa jauh sih perbedaan itu does matter dan doesn’t matter. Kalau kentut itu masalah besar buat lo, sampe ngga bisa makan tidur karena baper, ya sudah selesaikan. Teriak di media maya bukan solusi, karena kentut l baru terasa di kehidupan nyata. Jadi, datengin aja tu orang yang kentutnya ngga standar, bujuk atau paksa biar dianya  sama. Kalau ngga mau, ya dia yang mesti disingkirkan atau elo yang menyingkir. Sadis? Bisa jadi meskipun kita bisa comot aturan sana sini, atau ayat kitab suci sepenggal-sepenggal (oh yeah, kita emang ‘agamis’) untuk melegitimasi intoleransi kita. Ngga sadar justru hukum yang paling hakiki sedang dilanggar.

Toleransi makin sulit dilakukan saat pengorbanan harus disertakan. Menghargai perbedaan sampai terasa sakit. Level ‘kesakitan’nya bisa beda-beda, ya itu tadi, tergantung sering piknik apa ngga, seberapa dalam dan luas pemahamannya soal aturan. Ngga cuma dalam, tapi juga luas, karena aturan itu seperti puzzle, semua nyambung hingga membentuk gambar yang indah. Kalau sudah mentok ngga bisa toleransi lagi, daripada teriak-teriak golek bolo (cari teman) karena ngga bisa ngadepin sendiri, kok kata saya mending pindah aja ya, jangan dekat-dekat pada mereka yang berpotensi memancing emosi. Kita punya kuasa kok untuk melakukannya, jangan mau jadi korban perasaan, emang eike apaan 😛 Kalau kita punya kapabilitas maka lama-lama orang bisa lihat kok ke-eksis-an kita. Kecuali kalau alasannya biar tenar doang ya, pasti makan ati bener deh selama ini.

Ah yang pasti, yuk turun ke pasar, tempat semua datang untuk satu tujuan. Lihat aja deh ngga ada satu orangpun yang persis sama, dicetaknya emang sudah beda-beda dari asal. Trus kita ini apa kalau belum-belum sudah mempermasalahkan perbedaan? Pembuat cetakan? 😀

image

languangelens.wordpress.com

***
IndriHapsari

Advertisements