Ada Apa di Banyuwangi?

Selama ini Banyuwangi selalu jadi tempat persinggahan kami sebelum nyebrang ke Bali. Kecuali naik pesawat, semua harus melewati Pelabuhan Ketapang untuk menyebrang ke Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Mau naik bis, motor, mobil, jalan kaki, becak bahkan kereta, semua stopnya di Ketapang. Misal naik kereta nih, maka berhentilah di stasiun Banyuwangi Baru, lalu naik bis yang sudah menunggu untuk mengantarkan kita sampai Denpasar. Semua biaya include dalam tiket yang judulnya Surabaya – Denpasar. Bisnya ngga gitu nyaman, dan cepet-cepetan. Kalau ngga pakai bis, naik aja becak yang sudah menunggu. Oya jangan lupa siapkan KTP karena begitu keluar dari pelabuhan Gilimanuk, ada pemeriksaan KTP.

image

Pondok Wina, 0333-412344

Oleh karena alasan itu, maka kami mampir paling cuma makan ayam goreng historis di Pondok Wina, sebelum melanjutkan perjalanan. Resto langganan saya sejak TK ini terkenal dengan ayam goreng Blambangan, ngga ada duanya. Namun berkat promosi Bupati Azwar Anaz tentang betapa indah kotanya, maka kami memutuskan stay one night di kota tersebut.

Selama perjalanan, kami dulu pernah mampir di rest area Gumitir. Tempat wisata dan resto ini terletak tepat sebelum kita masuk pegunungan Mrawan yang berkelok-kelok itu. Ada wahana ATV, berkunjung ke kebun dan pabrik kopi, lalu melihat kereta melewati terowongan jaman Belanda, semua pakai mobil sewa atau beramai-ramai pakai kereta kelinci. Makanannya biasa kita pesan camilan, lalu cobain deh kopinya di tengah udara sejuk. Dekat situ ada Kalibaru Cottage, hotel idaman para bule. Bagus juga sih, besar dan asri, menyenangkan mengetahui di tengah hutan ada tempat penginapan yang berstandar internasional.

image

Ketapang dan Pantai Pulau Merah

Tujuan kami ke Pantai Pulau Merah, berdasarkan hasil promosi teman-teman yang sudah berkunjung ke sana. Perjalanan cukup jauh, sekitar 33 km dari kecamatan Genteng. Kami mengandalkan Google Map dan papan petunjuk yang ada di setiap persimpangan. Google Map memang mencarikan jalan tercepat, tapi jeleknya suka ngga kira-kira, apalagi sepinya. Kalau ada apa-apa susah. Jadi kombinasikan saja dua info tersebut, biar bisa sampai dengan nyaman.

image

Tiket Pulau Merah

Pantai Pulau Merah dikelola dengan baik. Retribusi, pengatutan pedagang dan ketersediaan homestay membuktikannya. Pantainya bersih, dengan kursi santai berpayung yang disewakan. Menikmati horison pantai yang panjang, gundukan bukit di pantai, pasir putih dan angin yang berhembus, cocok banget buat bersantai sampai ketiduran. Toilet juga tersedia dan cukup bersih, meski penampakannya ya gitu deh.
Setelah mengikuti papan petunjuk arah kota Banyuwangi dan tentu Google Map, sampailah kami di hotel Santika, berada di tengah kota. Angin cukup kencang berhembus saat kami tiba, dan pihak hotel menawarkan masker karena Banyuwangi sedang terkena hujan abu dari erupsi gunung Raung. Saat sore hari, dari kejauhan terlihat kepulan abu tersebut berasal dari salah satu gunung yang berjejer tiga dan kelihatan dari jalanan kota Banyuwangi. Abunya terperangkap awan dan menyebabkan suasana kota menjadi kelam. Banyuwangi sendiri pusat keramaiannya hanya terpusat di area tertentu saja, sepertinya kalau malam pada masuk rumah semua, ngga nongkrong di tempat makan ataupun belanja. Nyari tempat oleh-olehpun bingung, untung ada teman dokter cantik yang bawain ke hotel.

image

Hotel Santika Banyuwangi


Esoknya Pelabuhan Ketapang cukup sepi, sehingga kami langsung memasuki kapal yang telah menunggu. Jaman sekarang kapal sudah jauh lebih baik kondisinya. Dulu tidak ada ruangan berAC, semua harus di luar menikmati angin laut. Toilet kecil dan penampilan tidak menarik, sekarang lumayanlah ada toilet dudut dan selang penyemprotnya. Hiburan berupa musik dan film juga tersedia, kentang benernya, karena menyebrang cuma setengah jam.

Selanjutnya, welcome to Bali! 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements