The Age of Adaline dan Jumanji, Ide Sama Hasil Beda

image

The Age of Adaline

Apa persamaan The Age of Adaline (TAA), film tahun 2015 ini dengan Jumanji yang tayang 20 tahun yang lalu?

Sama-sama mengusung ide melintasi waktu. Jumanji menceritakan Robin Williams yang terseret ke papan permainan Jumanji, ngga bisa keluar hingga puluhan tahun kemudian, dia mendapati dirinya sendirian. Menemui orang-orang baru, yang karena lompatan waktu membuat dia kelabakan menyesuaikan diri.

Kalau TAA, Blake Lively dapat keajaiban muda terus, sampai dia bisa berada pada berbagai waktu, dengan tampang (dan bodi) yang masih kinyis-kinyis. Ketemu pria-pria baru, yang tentu saja terkagum-kagum dengan kecantikannya. Karena ngga mau kehilangan terus-terusan ditinggal mati pasangan, kaburlah Lively dari jaman ke jaman, dengan seluruh pesonanya.

Persamaan lainnya, kedua film ini dinilai separo hati oleh para kritikus, maksudnya nilainya lebih dari 50%, tapi lebihnya dikit, kaya ngga rela gitu :D. Apapun, kenikmatan menonton kayanya bukan melulu soal rating.

Masalahnya, yang TAA ini ngga seasyik Jumanji. Untung aja Trans TV lagi menayangkan ulang yang kesekianpuluh kali, film berdubbing Indonesia ini, sehingga saya punya pembanding. Dan pada tontonan yang kesekianpuluh kali itu, saya juga merasakan keasyikan yang sama, meski lebih asyik lihat versi dubbing aslinya. Selalu terkaget-kaget dengan apa yang muncul berikutnya, ngga bisa nebak lanjutannya, bahkan ngga kebayang ini selametnya gimana. Pokoknya seru abis, idenya segar dan abadi (mulai dah, lebay :P)

image

Review The Jakarta Post

Kalau TAA, semua scenenya bisa ditebak. Oh oke ntar cowok yang ketemu ngga sengaja itu pasti jatuh cinta (how lucky you are!). Oh ntar mulai deh paket pengiriman, yang ONS itu beraksi (bukan one night service, tapi one night stand) 😛 Berikutnya, si cowok patah hati. La ni film jadi parade cewek laris manis tanjung kimpul, mbaknya manis mas-mas pada kumpul. Ngga ketauan juga kenapa dia mesti lari terus, kenapa ngga jujur aja ke salah satu cowok (katanya cintaaa) sekalian bisa lari sama-sama menghindari FBI yang curiga. Lagian kalau FBInya serius, pantengin aja telepon anaknya, wong ibunya rajin nelpon kabarin dia lagi dimana.

Padahal idenya bagus dan menarik loh. Kisah seorang wanita yang melampaui jamannya, pasti keren deh. Pas perang dunia II dia gimana, pas masa pesta-pesta di New York gimana, atau pas kumpul di Washington menentang perbudakan. Sayangnya yang difokuskan cuma ketemu cowok – pacaran (padahal katanya takut kehilangan. I think it’s as simple as not in a relationship) – dan kabur. Sampe akhirnya dia berani jujur ke pacarnya sekarang yang adalah anak dari pacarnya yang dahulu (mbulet toh) juga karena kecelakaan. Wih, (sinetron) Indonesia banget 😀

Tapi gimanapun juga komentator tetap komentator, disuruh bikin ya ngga bakal bisa. Cuma memang harus belajar dari film-film terdahulu, gimana film sejenis bisa bertahan lama.

***
IndriHapsari
Sumber foto: jakartapost, wikipedia

Advertisements