Gemuk Itu Dosa (?)

healthyceleb.com

healthyceleb.com

Saya ngga terlalu suka orang gemuk. Kalau jadi pegawai, sering saya temui pegawai yang gemuk itu sulit bergerak, kurang lincah gitu deh. Apalagi yang ngga bisa nahan nafsu makan, bukannya melayani pelanggan, malah ngomong sambil ngunyah, mata menatap makanan, dan bersikap seolah pelanggan yang ganggu dia. Dulu saya punya mbak badannya jumbo juga, dilaporin sama sus yang badannya mungil, tu mbak hobinya bongkar kulkas tiap saya berangkat kerja. Nyari-nyari apa lagi yang bisa diolah jadi makanan, seolah masakan yang tadi pagi ia buat untuk kami dan mbak-mbaknya itu kurang.

Kalau jadi teman seperjalanan orang gemuk itu ganggu banget. Saya pernah naik kereta dari Yogya ke Surabaya. Dari sejak naik sampai mendarat di Gubeng, bapak gemuk itu sibuuuk ngorok. Ngoroknya juga yang model seru gitu, kaya orang kumur-kumur, tersedak (berkali-kali!), seperti orang persiapan ngeludah…sampai satu gerbong ngga bisa tidur semua.

Begitu nyampe, kami semua melihat ke bangku tukang ngorok tadi, orangnya kaya apa sih. Ternyata ukurannya jumbo, dengan kaos yang makin menonjolkan perutnya, celana jeans yang bisa dua orang masuk, jaket lusuh, secara penampilan ngga menarik. Emang kelemahan orang gemuk lainnya adalah soal baju, susah nyari yang ukurannya besar dan sesuai bodi, karena pastilah ada yang menonjol di sana sini.

Nah saya nulis ini, apa karena saya langsing?

Kalau langsung, iya 🙂

Saya sama saja dengan yang diceritakan di atas, overweight menuju obesitas. Dari kecil memang sudah kelihatan ‘sehat’ sih, makin menjadi ketika punya 2 anak. Ukuran pinggang makin melebar, sudah menuju ke bahaya karena lingkar pinggang yang besar menunjukkan potensi penyakit yang juga besar. Beragam olahraga dan diet sudah dicoba, tetap aja ngga bisa slim jaman masa lajang dulu (yang waktu itu saya merasa sudah gemuk, tapi kalau sekarang saya lihat foto dulu, eh eike dulu slim juga :P. Manusia memang ngga ada puasnya).

Apa maksud saya menjelek-jelekkan orang gemuk di atas? Begini, bagaimanapun proporsi tubuh yang sesuai itu idaman, berat massa index yang normal itu artinya kesehatan. Jadi, berusaha untuk tidak terlalu gemuk itu jadi PR bagi semua. Orang jadi gemuk karena asupan makan besar dan malas, karena itu kuncinya adalah pengendalian. Makan itu ngga dosa, asal teratur dan cukup nutrisinya. Makan 3 kali sehari itu harus, tambah ngemil buah 2 kali, pasti ngga sengsara. Yang bikin kacau kalau makan lebih dari itu, banyak gula, gorengan, dan tidak jelas antara benar lapar atau hanya memuaskan lidah saja. Lainnya adalah pengendalian rasa malas, biar terus bergerak. Memilih tangga daripada lift, ngga malas berjalan di dispenser untuk minum 8 gelas sehari, dan yang pasti ngga malas olahraga. Excuse untuk olahraga emang banyak, yang capek kerja lah, badan rada ngga enak lah, sampai sibuk ngurusin anak (tunjuk diri sendiri :P).

Inti dari mengubah kegemukan menuju lebih ideal itu proses, bukan hasil. Dengan berproses, kita terbiasa menjalani pola hidup sehat, yang lebih bertahan lama daripada diet instan. Banyak produk ditawarkan, sesat semua iklannya. Ada yang sambil duduk nonton TV pake ikat pinggang yang bisa getar, trus jadi langsing. Ada yang ngemil chip dan makan steak, minum obat, jadi langsing. Ada yang mengganti makan dengan suplemen, wah gimanapun juga itu bahan kimia, masih kalah dengan yang alami. Atau kena masalah dulu supaya kurus? Itu juga jangan, karena bener sih kita jadi langsing, tapi wajah jadi kuyu dan kelihatan tua, karena hati yang gembira adalah obat. Jadi gimana muka bisa segar kalau mikir masalah terus, meski lemak-lemak pada ilang?

Proses itu butuh waktu, karena itu mesti telaten dan sabar menunggu. Sebelum sibuk beli baju baru, tetap kuat-kuatin pakai baju yang kalau dipandang kayanya gede bener, tapi begitu dipake kok pas ya (malu). Kalau mau lebih sukses, masuk ke komunitas yang bisa saling mengingatkan. Paling gampang deh, minta bantuan keluarga untuk mengingatkan kalau mulai lepas kendali makan dan olahraga. Atau punya teman yang sama-sama berjuang menurunkan berat badan, atau bagus-bagusan hasil tes darah. Meski awalnya gengsi dan malu, tapi demi kebaikan kayanya ditelan dulu deh gengsinya.

Lalu, bagaimana dengan orang yang takdirnya sudah gemuk?

Mau ngga mau kita mesti melihat bahwa orang-orang seperti ini ada. Ngga ada sesuatu yang mustahil kan? Mau diet dan olahraga kaya apapun, tetap saja ngga bisa slim. Menurunkan bisa, tapi melangsingkan, eit…ngga semua lo ditakdirkan langsing (dibalik). Jadi ya sudah, segitu terus. Sehat sudah, pengendalian diri sudah, tapi penampilan masih yaaah…begitulah.

Di Indonesia terutama, orang gemuk itu rentan jadi korban pembullyan, apalagi pas masa remaja tuh…beugh. Semua yang dinilai adalah penampilan, bukan isi kepala. Begitu orang gemuk jadi pengusaha sukses, atau menteri misalnya, langsung bungkam semua, dan bilangnya penampilan itu tidak penting. Preet…money talks. Jadi buat yang dibully, sabar aja, dan buktikan bahwa you’are more than a bunch of fat. Perlu dukungan dari orang-orang terdekat, jangan ikut sedih, tapi mendukung supaya kepercayaan dirinya tumbuh. Remaja yang rentan ini jangan sampai cari pelarian lain yang membahayakan. Buat yang membully, ngga malu ya, kaya situ paling sempurna 😛

Supaya adil, saya cerita aja nih apa kelebihan orang gemuk. Mereka itu lebih ramah dan tulus. Beneran ini. Kalau dibandingkan dengan sifatnya yang sukar mengendalikan diri, terutama dalam hal makanan, mereka ini senang berbagi kesenangan. Trus perhatian, suka membantu memecahkan persoalan, apa adanya. Mungkin karena sukar bergerak ya, jadi kata-kata adalah utama. Liat mereka jadinya semangat, karena rata-rata wajahnya segar dan sumringah, ngga gengsian pula. Apa yang terluncur dari mulutnya adalah kejujuran, karena ya itu tadi, sukar mengendalikan. Siapa sangka yang ngebelain saya di antara para tetangga adalah mbak gemuk tadi, yang saya ceritain di awal. Sebal mendengar saya disindir, eh malah dia yang membalas dengan pedas 🙂

Akhirnya, bagaimana dengan penampilan? Orang gemuk sering dikatain, kok kemana-mana bawa tas pinggang. Ah, itu hanya masalah trik saja. Gunakan baju jangan yang ngepres alias ketat, sadar dirilah badan ngga seksoy. Jangan pula yang longgar, itu malah memperbesar ukuran body. Tutupi yang menonjol, perlihatkan kelebihan. Misal perut gendut lengan langsing, pakai baju you can see my ketiak yang berumbai di perutnya, maksudnya biar keliatannya perut gede karena rumbai, bukan emang dari sononya. Kalau semua gede? Pakai blazer atau jas berbahan ringan, dan mari perhatikan wajah. Wajah harus segar dan cerah, kalau wanita bisa pakai anting gede, kalau pria potongan rambut spike khas anak muda pasti cocok. Itu semua untuk mengalihkan perhatian orang dari badan yang seperti model, kalau dua dijejer 🙂

Menerima diri sendiri dan pengendalian diri, itu aja sih resep buat yang mengeluh ini dan itu soal badannya. Gemuk, atau kurus itu bukan dosa dan ngga perlu merasa terhina gara-gara itu. Pada akhirnya yang dipentingkan teman-teman kita bukan penampilan kok, but what’s inside you 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements