3 Idiots : Makna Kebebasan Berpikir

220px-3_idiots_poster

Meski tahu 3 Idiots ini dipuji-puji sebagai film komedi yang bagus, seperti perasaan saya terhadap semua film India lainnya adalah tidak percaya. 3 Idiots? Yang bener aja, paling jatuhnya sama seperti 3 Stooges (aduh jadul banget yah). Apalagi ditambah ‘India’nya, berarti sudah isinya komedi slapstick, bonus nyanyian dan tarian ngga penting, dan ekspresi lebay khas sinetron kita.

Setelah dapat kesempatan menonton film yang dirilis tahun 2009 ini, memang sih ada tarian dan nyanyian yang ngga nyumbang apapun pada alur cerita, cuma meningkatkan ekspresi aja, tapi yang lainnya pada film ini sangat berharga untuk ditonton.

Seperti kebiasaan saya pada review lainnya, ngga ada alur cerita yang akan saya ceritakan. Kalau itu mah wiki-ing saja pasti review manapun kalah lengkap dengan web ensiklopedi keroyokan tersebut. Namun kesan yang bisa ditangkap dalam sebuah film adalah yang menjadi bahan review saya.

3 Idiots terdiri dari 3 orang mahasiswa teknik, ada Farhan yang pengennya jadi fotografer alam tapi dipaksa orang tua jadi insinyur. Raju orang tuanya miskin, ayahnya mantang tukang pos yang kena stroke, ibunya guru biasa, dan punya banyak beban harapan di pundaknya karena kondisi tersebut. Makanya dia pengen jadi insinyur dari institut ternama, biar gampang cari kerja dan menyelamatkan hidup keluarganya. Trus ada Rancho yang misterius, ngga ketauan dari mana, selalu punya uang, ceria, penyemangat buat teman-temannya, pintar, pokoknya manusia sempurna deh!

Namun jenis yang begini tidak disukai para dosen, pengawas ujian, termasuk rektornya yang namanya kalau disingkat jadi Virus :D. Senang mengintimidasi, terutama pada mahasiswa ‘mokong’ dan banyak tanya macam Rancho, beberapa kali Rancho berusaha disingkirkan, termasuk Raju dan Farhan juga yang satu kamar dengan dia. Cuma namanya manusia sempurna, loloslah dia meski ketegangan tetap terasa.

Film ini menawarkan banyak kejutan kecil sepanjang durasi 2 jamnya. Ada kejadian, lalu dipecahkan dengan cara yang cerdik. Pantes aja skenarionya begitu kuat, karena film ini adaptasi dari novel. Alur ceritanya sih seperti kebanyakan film India lainnya, tapi lebih istimewa karena antar kejadian ternyata saling berhubungan. Sejak awal penonton sudah dibikin bertanya-tanya ini film apa, ketika Farhan yang sudah lulus kuliah mendaratkan darurat sebuah pesawat, dengan berpura-pura pingsan. Alurnya memang dari tengah, lalu mundur, lalu tengah lagi, dan maju. Di tengah-tengahnya juga maju mundur cantik gitu.

Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa film ini kaya makna, tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata. Ada kisah persahabatan, ada kepercayaan pada dewa yang berlebihan, ada kisah pengorbanan anak untuk menuruti kemauan orang tuanya, kekasih yang super keren tapi cuma peduli dengan harta, pemalsuan nama demi dapat sertifikat untuk syarat tender, kisah bunuh diri banyak mahasiswa karena depresi, dan harapan.

Rancho yang serba bisa ini mampu memikat hati Phia yang calon doktor, tapi ngga menye-menye kisah cintanya. Dia juga membantu kelahiran bayi kakaknya Phia, dengan menciptakan mesin vacuum yang pakai tenaga aki. Keren banget ya, mahasiswa teknik berubah jadi dokter. Persaingannya dengan Chatur yang textbooker banget memberikan satu pesan, jalanilah pekerjaanmu karena passion, bukan karena gaji gede atau demi mendulang kesuksesan. Cinta akan membuat kita seperti bermain saat bekerja, tidak punya rasa takut untuk menjalaninya dengan idealis, dan mendorong kita untuk melakukan inovasi agar pekerjaan lebih mudah dan berguna bagi banyak orang.

Sungguh, 3 Idiots telah menyampaikan banyak hal dengan cara yang sama sekali tidak membosankan.

***

IndriHapsari

Advertisements