A Hundred Miles

Kami sedang duduk berhadapan di kafe, terdengar lagu yang mengalun lembut, ketika ia mengatakan,

‘Kau tak sungguh-sungguh tahu apa yang kau tuliskan.’

Aku berjengit mendengar pernyataannya. Tuan sinis ini memaksaku mengalihkan pandangan dari layar laptop. Ia duduk dengan gelisah, jarinya mengetuk-ketuk meja, tanda bahwa ia sebenarnya sangat terpaksa duduk di sana, di area non-smoking. Aku bilang untuk mulai menulis novelku, aku harus full konsentrasi. Dan itu tak bisa kulakukan dengan ruangan penuh asap rokok.

‘Bagian mana?’ Satu gerakan mengambil french friesnya, tergeletak pasrah di samping kopi hitamnya.

‘Semuanya. Plot cerita yang kau buat sesuai keinginanmu, karakter yang kau ciptakan, konflik yang…kau selesaikan dengan caramu.’ Ia menghela napas. ‘Tapi bukan itu sesungguhnya yang akan seorang pria lakukan.’

‘Hei…’ kataku sambil tertawa, ‘berarti…selama ini kau baca juga karya-karyaku? Yang katamu galau dan mellow abis itu?’ Aku terbahak bahagia. Setelah ber-style cuek ngga mau baca, darimana ia tahu detail plot dan sebagainya?

‘Ah..eh…ya..gitulah..’ katanya salah tingkah. ‘Apapun itu,’ ia berdehem, ‘yang kau tuliskan adalah kisah dari sudut pandang wanita.’

‘Maksudmu?’ aku mulai menopangkan tangan di dagu.

‘Bayangkan, pria yang ada dalam kisahmu, adalah pria yang mampu meneteskan air mata di depan wanita pujaannya. Hellooo…’ katanya menyebalkan, ‘satu banding seribu, mungkin kali ya. Kami para pria, biasanya tak akan mau memperlihatkannya ke orang lain, apalagi pada wanita yang disukainya. Terlebih lagi,’ katanya sambil mengernyit, ‘menangis karena ditolak. Wooo…haram!’

Aku tertawa melihat semangatnya.

‘Ada lagi?’ kataku menantang. Lumayan, dapat editor gratisan…

‘Plotmu biasanya bercerita, si pria ini rela menunggu si wanita. Meski wanitanya sudah punya pasangan, meski wanitanya pernah melakukan kesalahan, meski wanitanya pernah menolaknya, namun priamu ini,’ katanya sambil menghela napas, ‘selalu rela menunggu.  Maaf ya…kami ini sudah cukup sibuk, dan ngga kengangguran nungguin wanita sok laku yang sukanya PHP!’ katanya ketus.

‘Dih. Dia ngambeeek…’ kataku menggoda.

‘Seriously, Dian. Kamu pikir cowok mau nungguin begitu lama, tanpa kepastian? Lalu merendahkan diri jadi yang kedua, karena jelas-jelas si wanita sudah pilih yang lainnya? Dan soal kesalahan…pria itu cuek, tapi lebih pendendam. Kalau dia sudah kepentok satu kali, bakal diingat terus supaya ngga kepentok lagi. Jadi menyebalkan pokoknya!’

Iya, seperti kamu. Hampir saja aku nyeletuk gemas. Tapi kali ini aku berusaha sabar, meski mungkin telingaku sudah memerah.

‘Lalu gini ya Dian, ngga ada yang namanya pria sempurna. Tokohmu tuh, sudah ganteng, gagah, kaya, pintar, gaul…ckckck…sayang kamu ngga berimbang dengan ngga nyeritain dia penyakitan kek, koruptor kek, atau direkrut jadi teroris!’

‘Astaga, Sandy…’ kataku sambil melotot, ‘ini novel romantis!’

‘Marah?’ katanya segera. Aku merengut.

‘Satu lagi ya Dian,’ katanya seolah tak rela membuatku hanya merengut saja.

‘Dalam pandangan kaum wanita,’ katanya sok bijaksana, ‘mereka mengira pria itu hanya tertarik pada wanita yang cantik, seksi, pintar, kaya, feminin..yah seperti kau menggambarkan pria yang sempurna. Kedua hal itu sama langkanya.’ Ia menghela napas. ‘Aslinya ngga begitu Dian. Pria itu hanya perlu satu wanita yang membuatnya bertekuk lutut, ngga bisa apa-apa. Meskipun mereka menghindarinya, meskipun mereka mengingkarinya, meskipun mungkin nasib berkata lain, mereka yang biasanya begitu bersemangat jadi mendadak lumpuh.’ Pandangannya dialihkan keluar. Sejenak, aku merasa ada kesan sendu dalam suaranya.

‘Hmm…Boleh ngasih pendapat ngga?’ tanyaku hati-hati.

‘Silakan,’ katanya, lagi-lagi sambil menyeruput kopi.

‘Bisa jadi aku memang ngga tahu pola pikir laki-laki. Sehingga mengharapkan tokoh pria menunggu tokoh wanitanya, sampai kapanpun, dan  terasa absurd bagimu. Tapi Sandy, orang kayak gitu, ada loh…’ Ia sudah bersiap membantah, namun aku cegah, ‘meski satu banding seribu. Kisah begitu yang laku, Sandy. Menawarkan harapan. Kalau aku cerita yang biasa terjadi, misalnya begitu ditolak si cowok langsung kabur ngga tau juntrungannya, lalu aku bisa membangun konflik dimana? Soalnya pemeran utamanya sudah kabur.’

‘Ya ngga apa dong, kamu bisa munculin tokoh baru,’ sergahnya.

‘Aku ngga mau. Aku ngga mau ada begitu banyak nama mampir di ceritaku. Pusing juga mesti mikirin ragam karakternya.’

‘Iya ya, satu pria saja sudah membuatmu hilang arah, apalagi banyak,’ ia menyeringai. Haduh ingin kulempar sandal rasanya.

‘Mengenai pria sempurna, seriously Sandy,’ kataku meniru gayanya, ‘emang ngga ada ya di dunia ini yang punya spesifikasi seperti yang aku bilang?’

‘Emangnya kita barang?’ katanya terkekeh mendengar kata spesfikasi. ‘Kali ada ya Dian, tapi kalau ngga gay ya sudah diambil orang.’ Ia terbahak, memamerkan deretan giginya yang rapi namun kecoklatan.

‘Hih! Ditanyain beneran kok malah bercanda. Lalu, San, pria itu kan mahluk visual, wajar dong mereka jatuh cinta sama yang cantik jelita,’ ucapku yang membuatku kaget sendiri. Mengapa aku terdengar sinis seperti…dia ya…

‘Justru itu. Kalau untuk nafsu para pria mengandalkan visual, tidak begitu halnya dengan cinta. Cinta itu rasa, makanya ada yang bilang cinta itu buta. Soalnya begitu kena panahnya, yang dia lihat ya wanita itulah yang paling sempurna,’ katanya panjang lebar.

‘Ouuh…so sweet!’ kataku menggoda. Si tuan sinis tertawa.

‘Trus gimana dong San? Ini novel belum mulai-mulai nih,’ kataku merajuk.

Sandy terdiam. Lalu ia berkata pelan, ‘Coba Dian, resapi tokoh-tokohmu. Termasuk saat kau harus menjadi orang lain. Menjadi pria, dengan profesi yang terdengar aneh bagimu, dengan lingkungan yang sebelumnya ngga kebayang…dari sana kau bisa membayangkan, apa yang tokohmu bakal lakukan. Biarkan mereka yang mengatur jalan ceritanya, bukan kamu,’ katanya bersungguh-sungguh.

Aku tersipu. Mungkin sebagai pengarang aku sudah kebablasan, memperlakukan tokoh-tokoh fiksi sesukaku.

‘Biar jadi lebih hidup ya, San?’ tanyaku padanya. Ia mengangguk.

‘Terus, gimana caranya supaya bisa seperti itu?’ Aku mulai tertarik untuk mencoba.

‘Latihan dong, Dian. Selami seorang tokoh yang akan masuk dalam novelmu, kenali dia lebih jauh, cobalah berpikir seperti dia. Dapatkan chemistrynya.’ Ia menenggak lagi kopinya. Berusaha menghilangkan keinginan untuk menghisap rokoknya.

‘Oooh…’ aku mulai bersiap mengetikkan kata-kata berikutnya. ‘Siapa ya yang bisa kujadikan role model untuk cowoknya…’ gumamku. Ia diam saja. Kemudian bangkit dari duduknya, melangkah keluar kafe. Sekilas aku memandang bahunya yang tegap, ketika si empunya sedang menghisap rokoknya dalam-dalam.

*

Pernah merasakan déjà vu?

Saat ini aku merasa begitu. Berada di ruangan toko buku besar, bersiap menghadapi antrian pembeli novelku. Penerbit memintaku menandatangani buku mereka satu persatu.

Bukan, bukan suasana ini yang membuatku teringat sesuatu. Tapi lagunya, lagu yang mengalun lembut ke seantero ruangan. Lagu yang sama saat aku mulai mengetikkan kata-kata pertama dalam novel.

If you miss the train I’m on,

you will know that I am gone

You can hear the whistle blow

a hundred miles…

Seakan-akan lagu itu mengingatkanku atas sahabat baikku, Sandy, yang katanya ikut ekspedisi ini itu tanpa kejelasan ia ada dimana sekarang. Dia pergi begitu saja usai aku bertunangan dengan Fendi, yang menginginkanku segera menyusulnya ke luar negeri untuk studi.

Aku hanya bisa mendengar nasehatnya yang kuulang-ulang dalam hatiku saat menulis novel ini. Yang menjadi inspirasi, mungkin sudah a hundred miles pergi…

hanoverjunction.net

hanoverjunction.net

 ***

IndriHapsari

Advertisements