Tentang Pilihan-pilihan

image

‘Maaf ya, kita temenan aja.’

Reaksi yang berbeda-beda. Ada yang pura-pura tak mendengar, lalu melangkah menghindar. Yang lain menatap penuh amarah, menebar murka. Aku bergeming. Untung tak kuterima jadi pacar.

Yang satu ini…berbeda.

Ia tak jua beranjak. Berdiri terpekur, mata menatap jauh ke belakang, hingga kukira ada sesuatu di sana. Lalu ia mengusap pipinya dengan punggung tangan.

Hei! Ia…menangis?

Untung tak kuterima jadi pacar.

‘Cowok kok cengeng?’ kataku berusaha ceria. Setengah menghina, setengah bercanda.

Ia diam sejenak. Hampir kukira ia akan tersedu-sedu, tak mampu menyusun kata.

‘Bahkan hingga saat ini…’ katanya pelan, ‘kau tak jua mencintaiku…’

‘Memangnya kenapa?’ tantangku. Enak saja, aku tak pernah menyesali keputusanku. Apalagi ini soal hati…

‘Ah tidak!’ katanya tergagap. ‘Aku hanya ingin…membantumu…menetapkan pilihan…’

‘Terima kasih. Aku baik-baik saja,’ kataku sinis. Berbalik pergi, membiarkan ia yang (entah, mungkin) masih saja berdiri.

*
Ia kira semudah itu membuatku menyesal? Pada tahun berikutnya setelah pernyataan itu, secara tak sengaja aku mengetahui, bahwa ia masuk dalam daftar siswa yang dapat masuk perguruan tinggi tanpa tes.

Ia tersenyum saat melihatku. Kami bertemu di depan papan pengumuman, yang sedang ramai dibicarakan.

Aku cemberut. Pasti ia pikir aku menyesal sekarang! Huh, tak usah ya!

‘Reina, sudah putuskan mau kuliah dimana?’ tanyanya ramah.

Dengan terpaksa aku tersenyum. Dimanapun, asal tidak di satu kota denganmu! ‘Sudah. Di Yogya. Orang tuaku yang tentukan,’ kataku berbohong. Dan melihatnya berlama-lama menatapku, tak tahan juga aku berbasa-basi, ‘Selamat ya, keterima langsung.’

Ia tersenyum.

Aku tak akan menyesaaal! Diterima di perguruan tinggi favorit, bukan berarti ia layak jadi pacar!

‘Makasih Reina. Semoga kamu juga diterima yah di Yogya,’ katanya (terdengar) tulus.

Aku buru-buru meninggalkannya.

*
‘Kemarin pas ke Bandung aku ketemu Aryo, Rein,’ kata Sasha sambil tidur-tiduran di kosku. Kami sedang belajar bersama untuk mid hari pertama.

‘Eh, apa urusannya aku sama dia?’ kataku sengit. Nama itu lagi…setelah sekian lama tak terdengar, tak berhubungan, tiba-tiba Sasha mengingatkanku pada peristiwa bertahun-tahun lalu.

‘Kasihan dia,’ mata Sasha tak beranjak dari textbook yang harus dihapalnya. ‘Dia harus kerja untuk biayai hidupnya. Selama ini kan kuliahnya ditopang beasiswa. Tau sendiri dong Rein, beasiswa aja ngga cukup buat makan, bayar kos-kosan, kerja tugas. Jadi dia nyambi jadi pelayan kafe.’

Aku tak bisa menyembunyikan ketertarikanku atas cerita Sasha. Atau mungkin..kasihan. Teringat olehku Aryo yang termasuk top student di SMA, yang selalu percaya diri saat presentasi kelompok, harus melayani tamu-tamu kafe sedemikian rupa. Mengumpulkan dan mencuci gelas-gelas kotor.

‘Trus..dia lebay gitu curhat-curhat ke kamu?’ tanyaku berusaha mengembalikan sikap obyektifku.

‘Eh? Ya ngga lah!’ Sasha membantahku. ‘Aku dengar cerita ini dari sepupuku, kan dia sejurusan sama Aryo. Pas ke kafe bareng dia,’ katanya menjelaskan. ‘Kenapa sih Rein, sinis gitu? Kasian kan…’

Aku terdiam. Sejumput penyesalan. Ah, haruskah aku menyesal, karena tak bisa mendampinginya di saat-saat prihatin? Atau…menghiburnya saat terpaksa ia putus kuliah? Bisa apa aku dengan penyesalan…

*
Aku menatap dari balik kaca, tubuh-tubuh bayi yang bergolek lemah. Salah satunya, yang berbalut kain biru, adalah Soka, anakku. Ayahnya yang menamainya, jauh sebelum ia dilahirkan. Ayahnya yang berjanji akan pulang, namun ia cukup pengecut bahkan untuk mendampingiku saat melahirkan, apalagi mendampingi Soka hingga besar. Bahkan menemui orang tuaku saja ia tak mau, meski untuk sekadar (kalau ia ingin menguatkan hatinya) minta ijin menikahiku.

Aku masih berharap keajaiban, ia akan tiba-tiba datang. Menggenggam tanganku erat, menguatkanku untuk bertahan. Hingga detik suster mencoba mengalihkan rasa sakit di perutku, dengan menanyakan akan diberi nama apa anaknya, aku masih berharap…

Bahkan ketika Soka telah menyapa dunia, aku masih berharap…ia akan datang..mengucapkan selamat. Atas kelahiran bayi kami, anak kami berdua.

Bahkan, penyesalanpun enggan hadir dalam pengharapan…

*
‘Soka! Ayo kemasi kue-kuenya! Kita antar sekarang!’

Aku berganti baju. Memoleskan sedikit bedak pada pipi tirusku. Mengintip sedikit di celah pintu. Soka. Anak itu memasukkan kue satu persatu ke plastik. Menutupnya dengan hati-hati. ‘Kalo lusak nanti Mama lugi,’ katanya lirih ketika ditanya tetangga kenapa mesti diplastiki satu-satu. Anak sekecil itu..harus membantu ibunya agar bisa mandiri, tidak menggantungkan hidup ke Yang Kung dan Yang Ti, apalagi mengemis ke ayahnya.

Aku abaikan perasaanku. Segera aku membantu Soka mengemas. Lalu memasukkan semua ke kotak, dan mengeluarkan sepeda motorku. Soka duduk di belakang, menghimpit kotak kue dengan badannya yang mungil. Aku harus berkali-kali memastikan, tangannya yang kecil masih berpegangan di jaketku.

Pelanggan baru. Katanya ia suka dengan kue-kue yang dibawa suaminya dari kantor. ‘Bapak suka dengan kue buatan mbak. Selalu minta sekretarisnya untuk memesan lebih untuk dibawa pulang. Kami semua menikmatinya,’ kata ibu yang meneleponku. Katanya daripada ia menunggu kue saat hari kerja, lebih baik memesan sendiri dan diantar ke rumah, kapanpun ia mau.

Aku menyanggupi. Termasuk ketika ia memintaku mengantar pada hari libur. Dan ketika aku memencet bel gerbang itu, seorang ibu muda menyambutku.

‘Eeh..ada adik! Ayo masuk, ini mbaknya yang nganter kue kan?’ katanya ramah. Aku mengangguk. Setelah menurunkan Soka, aku menyerahkan kotak kue itu.

‘Ayo mbak masuk dulu. Saya ambilkan uangnya ya. Eh adik, tante punya coklat. Mau ya?’ Ia tertawa ramah. Dengan sungkan aku tetap berdiri di beranda.

‘Eeeh…ayooo…’ tuan rumah sudah menarik lenganku. Terpaksa aku mengikutinya. Soka membuntutiku.

Kami berdua duduk terdiam di ruang tamu yang terasa mewah ini. Lapang, lantai yang mengkilat, dan sofa kulit yang empuk. Soka asyik melihat kesana kemari ketika ia muncul.

Aryo!

Aku tergagap. Masih hapal tubuhnya, wajahnya, dan matanya. Ia, awalnya tak mengira itu aku yang berada di ruang tamu. Namun melihatku terperangah, akhirnya ia sadar.

‘Reina!’ sapanya gembira. Bergegas ia menghampiriku.

‘Apa kabar?’ masih dengan ceria yang sama. ‘Lebih..kurus ya?’ katanya. Kini matanya menatapku penuh selidik.

Salah tingkah, aku melirik Soka.

‘Ini…anakmu?’ katanya pelan.

Aku mengangguk. ‘Soka, salam sama Om.’

Soka mengangsurkan tangan kecilnya. Aryo menggenggam tangannya erat.

‘Waah…nemenin Mama ke rumah Om ya?’ katanya ramah. Soka mengangguk canggung.

‘Kok..ketemu disini, Rein?’ tanya Aryo. Ia duduk menghadap kami berdua.

‘Mm..mungkin istrimu ya? Bu Fenny. Ia memesan kue dariku…’ kataku menebak-nebak.

‘Astaga! Jadi selama ini, yang bikin kue itu kamu? Wah wah wah..dunia ini sempit ya!’ ia tertawa bahagia.

Aku tersenyum saja. Aryo hendak melanjutkan tanya jawabnya, ketika istrinya memasuki ruang tamu. Aryo segera memberitahu, bahwa aku adalah teman SMAnya. Fenny menyalamiku dengan ramah, sama ramahnya ketika ia menyambutku tadi.

Ketika aku pulang, aku tahu, babak baru akan dimulai.

*
Aryo sudah memberitahu sekretarisnya, untuk memberitahu ia jika aku datang. Maka dengan kikuk aku menemui dia di ruang kerjanya, di lobby kantornya, atau saat aku nekat kabur begitu saja, ia mencegatku di halaman parkirnya.

Ia dengan segera mengetahui perjalanan hidupku. Prihatin, bercampur kasihan mungkin. Rasa sayangnya pada Soka menjadi-jadi, apalagi ternyata meski telah lima tahun menikah mereka belum dikaruniai keturunan.

Aku tahu, aku akan terjebak dalam pusaran. Kata-kata Aryo kembali menerpaku.

‘Mari kita buat janji baru, Rein. Aku tak benar-benar mencintainya. Aku hanya perlu dukungan keluarganya dalam membangin bisnis ini. Kau dan aku bisa bersama, membesarkan Soka.’

Sungguh menarik. Sangat menarik. Namun yang keluar dari mulutku adalah,

‘Sekarang ini bukan saatnya lagi aku menetapkan pilihan. Aku hanya mengikuti, kemana nasib kan membawa. Harusnya, pilihan-pilihan itu telah kulakukan sejak usiaku belasan.’ Dengan kata-kata itu, kuharap ia menyerah. Tak menghamba pada impian, karena siapa yang bisa membalikkan waktu yang telah berjalan?

*
‘Papa, selamat ya! Perusahaan Papa berhasil jadi sponsor Laboratorium SpaceX,’ kata Fenny sambil mencium kening suaminya.

Aryo hanya tersenyum. Terpampang di halaman utama, foto dirinya dengan para ilmuwan berjubah putih.

‘Kenapa sih Pa, kok pada rebutan ingin menjadi sponsor SpaceX?’ tanya Fenny heran. Berbulan-bulan ia baca persaingan itu, yang akhirnya dimenangkan perusahaan suaminya.

‘Mereka merancang mesin waktu.’

***
IndriHapsari
Foto : yuzurusho.deviantart.com

Advertisements