Yuk Ke Pasar Tradisional! (1)  

Pasar tradisional bagi saya seperti kenangan di masa kecil. Naik becak atau jalan kaki, mengikuti langkah Ibu yang sepertinya hapal benar dimana mesti membeli bahan pangan, membantu membawa belanjaan, dan diakhiri dengan membeli ketan dengan bubuk kedelai, atau pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.

Namun lama kelamaan pergi ke pasar tradisional tidak menjadi suatu kebiasaan. Merantau ke kota besar, dengan kesibukan yang lebih tinggi dan jumlah penduduk yang lebih besar, menjadikan pasar tradisional bukan tempat yang menarik untuk berbelanja, kecuali tujuannya untuk mengejar harga.

Harga di pasar tradisional lebih murah, karena harga jual dari petani atau peternaknya memang lebih murah. Mungkin terkait dengan faktor sudah kenal lama, marginnya tipis saja, atau kualitas barang yang sekenanya. Transportasi dipilih yang murah dan bisa mengirim tepat waktu, belum memperhatikan keamanan pangannya. Di pasar, penjualnya menjual dengan margin tipis, yang penting barang habis. Karena hal itulah, kalau sudah langganan atau membeli dalam jumlah banyak, pedagang tak segan memberi potongan harga yang lumayan.

Namun harga yang murah juga menyebabkan fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung juga seadanya. Tempat pasar berada, ada yang hanya berupa pinggiran jalan yang disesaki dengan penjual, pembeli, pengantar barang dan kendaraan. Pasar tumpah penyebab kemacetan, dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Kalaupun pasar terletak di gedung, pengaturannya belum baik sehingga menyulitkan pengunjung. Apalagi kalau lebih dari 1 lantai, ada saja penjual yang memaksa jualan di lantai 1, karena pengunjung juga malas naik ke lantai berikutnya. Mempunyai gedung sudah termasuk beruntung, ada yang lantainya masih tanah, dan basah jika hari hujan.

Akhirnya pasar tradisional mungkin menjadi tempat pengunjung yang panjang sabar atau mempertahankan kenangan, atau pengunjung yang mengejar harga murah tadi, atau tempat para mbak-mbak asisten rumah tangga berbelanja karena disuruh majikannya. Alternatif berbelanja beralih ke mlijo, pedagang sayur yang mengunjungi kompleks perumahan setiap pagi, atau ke supermarket yang lebih nyaman, lengkap, dan tentu lebih mahal.

Hal lain yang bisa didapat dari supermarket adalah kepastian harga. Pengunjung tidak merasa dibohongi, saat sudah melakukan transaksi dan eh ternyata kios sebelah lebih murah. Supermarket juga membuat semua proses belanja menjadi cepat, dengan pengunjung tinggal mengambil barang yang diinginkan, dan memasukkannya ke troli. Bandingkan dengan pasar dimana pembeli harus menanti penjual melayaninya.

Bisa dibayangkan berapa waktu yang dihabiskan untuk itu. Saat kios ramai dikunjungi pembeli, anggaplah lima orang, orang pertama akan bertanya soal barang yang diminatinya. Setelah itu ia akan memastikan lagi soal kualitas barangnya. Lalu bertanya harga, dan proses wajib yang harus dilakukan di pasar adalah negosiasi harga. Setelah disetujui harga dan jumlah yang akan dibeli, penjual harus menimbang belanjaan atau menghitungnya, memasukkannya dalam plastik dan menyerahkannya pada pembeli. Belum cukup, proses pembayaran dan pengembalian uang juga akan membuat calon pembeli kedua, ketiga, keempat dan kelima harus sabar menunggu. Itu bagi pembeli yang sudah jelas mau beli apa. Lainnya tinggal bilang ke penjual, ‘Mau bikin sayur asem!’ dan penjual akan memilih dan menyatukan semua bahan pembuat sayur asem dalam satu wadah. Penjual ikan dan ayam sama serunya. Setelah menimbang ada proses membersihkan sisik ikan atau membagi ayam menjadi potongan yang diinginkan pelanggan.

Namun harus diakui, ketrampilan yang dimiliki para pedagang ini sungguh menakjubkan. Dibanding dengan para pegawai di supermarket yang masih lambat dan kaku dalam melakukannya, pedagang di pasar sangat luwes melakukan berbagai ketrampilan menjual dan memperlakukan barang dagangan. Tambahan lagi karena merekalah pemilik kios, sense of belongingnya tinggi. Mereka berharap pembeli akan datang lagi dengan memperhatikan berbagai aspek saat berhubungan dengan pelanggan.

Penjual menguasai product knowledge, bahkan bisa menjadi advisor bagi pembelinya. Sesuatu yang tidak dikuasai pasar modern, dan kadang diberikan dengan segan oleh para pegawainya. Penjual memperhatikan benar kualitas barangnya dan berusaha mendapatkan harga termurah bagi pelanggannya. Hal ini terkait dengan persaingan yang ketat di kios pasar, dimana satu kios dengan yang lain saling berdekatan. Penjual juga tak segan memberikan diskon untuk pelanggan yang potensial. Satu hal yang menakjubkan, mereka hapal para pelanggannya!

Bagi pelanggan baru mereka menyapa kok baru kelihatan, dan menanyakan hal-hal lain lebih lanjut. Jangan menganggap mereka kepo ya, mereka hanya ingin menjalin keakraban. Lalu pembicaraan mengalir begitu saja, tentang apa saja, terutama kalau kios sedang sepi. Untuk pelanggan lama mereka sudah hapal apa yang biasanya dibeli, sehingga langsung menawarkan begitu yang bersangkutan datang.

Jika ingin menemui penjual yang ramah-ramah ini, pagi hari adalah waktu bertransaksi. Sekitar jam 6 pagi mereka sudah menempati kios-kiosnya, mempersiapkan barang dagangannya. Meskipun begitu, mereka tetap melayani pembeli. Jam 9 pagi saat pasar mulai sepi, pedagang mengemas dagangannya, terutama untuk pangan. Untuk non pangan punya masa buka yang lebih panjang, paling tidak sampai sore hari.

Tidak dapat dipungkiri, di tengah fasilitas pasar yang menyedihkan, peranan pedagang sangat besar karena merekalah yang berusaha mempertahankan kepuasan pembeli.

Lalu, apa yang bisa dilakukan pedagang dan pengelola pasar untuk meningkatkan jumlah pengunjung, sekaligus mendidik generasi muda untuk tidak segan berkunjung?

(Bersambung)

Advertisements