Yuk Ke Pasar Tradisional! (3)

PERSONNEL

Personnel, atau dalam hal ini pemilik kios, merupakan faktor penting keberhasilan sebuah pasar tradisional. Bayangin, semua fungsi dalam perusahaan dilakukan oleh sang pemilik. Mulai dari berhubungan dengan supplier, nyari barang yang bagus, merencanakan harga, menata di kiosnya, melayani konsumen yang maunya banyak tapi harganya ngotot murah, termasuk menjaga kebersihan kios, komplain ke pengelola mengenai fasilitas, dan merencanakan perputaran modal.

Jam kerja dimulai sejak subuh. Pemilik akan mendatangi pasar induk atau tempat pemotongan hewan untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Memilih barang di pagi buta sungguh bukan hal yang gampang. Namun karena mungkin sudah biasa ya, hawa dingin dilawan saja dan penerangan seadanya tak menghalangi mata awasnya untuk memilih barang. Setelah negosiasi yang cukup alot dengan tengkulak atau pedagang besar, selanjutnya ia akan berpindah ke kios lain, atau langsung pulang karena semua barang sudah didapat. Kebanyakan pemilik meminta kuli pasar untuk mengangkutnya ke kendaraan yang ia punyai atau sewa.

Pemilik juga bertanggungjawab pada barang yang akan dibelinya. Selain memilih pedagang yang menjual barang bagus dengan harga bersaing, ia juga akan memperhatikan kesesuaian prosedur, misal sertifikat halal untuk pemotongn hewan. Memang sih ada juga yang ngga peduli pokoknya murah, malah ada yang jual barang ilegal. Misal yang masuk berita seperti daging gelonggongan, ikan berformalin, tahu berformalin…tapi percaya deh yang begitu-begitu ngga akan tahan lama. Pembelipun sekarang sudah pintar-pintar untuk membedakan. Tinggal diedukasi lagi supaya ngga mupeng sama harga murah, dan ada hotline pelaporan untuk pedagang-pedagang yang bermasalah.

Sesampai di pasarnya, perjuangan belum berakhir. Pasar tradisional fasilitasnya minim, sehingga pintu unloading tidak ada, menjadi satu dengan pintu masuk pengunjung. Daripada mengganggu pengunjung, maka persiapan dilakukan sebelum pengunjung datang. Setelah berhasil menyeret belanjaannya ke kios, maka mulailah tugas menata. Karena produk yang segar merupakan idaman pelanggan, mengambil dari karung belanjaannya harus hati-hati. Beberapa pedagang bahkan membersihkannya terlebih dahulu, ada juga yang memotongnya kecil-kecil, atau dikemas lebih mungil. Aktivitas lain adalah mengelompokkan, lauk dengan lauk, sayur dengan sayur, buah biasanya campur dengan sayur.

IMG_4061-3.JPG
Semua tujuan pengelompokan ini adalah untuk memudahkan pengunjung. Sebenarnya aktivitas ini bisa digunakan untuk menarik pengunjung. Misal dengan memadukan warna sayuran, atau mencampurkan bentuk. Selama ini sayuran yang diikat dikelompokkan bersama, dan agak sulit dibedakan kalau ternyata di dekat kangkung ada bayam. Karena sama-sama hijaunya, bisa dikontraskan warnanya, atau diberi pemisah yang jelas.

Pemilik juga yang berusaha menawarkan dagangannya pada pelanggan. Butuh mental yang kuat semisal sudah nawarin dengan ramah eh dilewatin begitu saja oleh pengunjung. Atau pengunjung yang nanya – nanya harga mulu trus ngeloyor tanpa bilang apapun. Panjang sabar ya…dan mungkin kegiatan menawarkan bisa diganti dengan display dan sign yang menarik.

Kalau pelanggan sudah tertarik mampir, tugas pemilik untuk menahan pelanggan agar mau membeli di kiosnya, kalau bisa sambil lihat-lihat tertarik beli yang lain, atau membeli lebih banyak. Maka disinilah keramahan, kepiawaian pedagang berjualan diuji. Pembeli di pasar ada dua, yang uangnya mepet dan yang tidak. Untuk yang uangnya mepet, mungkin kali ini ngga dulu deh, tapi tawaran yang menarik akan diingatnya untuk kunjungan berikutnya. Sedang yang uangnya agak senggang, bisa saja dia tertarik, bisa juga ngga. Intinya sih kalau dibutuhkan, atau harga akan naik, pasti tertarik deh.

Menjaga kesegaran barang dagangan juga dilakukan sepanjang kios belum tutup. Singkirkan lalat-lalat yang mengerubungi, ciprati dengan air sayur-sayur yang mulai layu. Lainnya bisa dengan mengelap buah atau membersihkan kios. Kios yang bersih dan cerah lebih menarik untuk dikunjungi daripada dilewati. Apalagi yang penataan barangnya rapi, pengunjung jadi bisa bereksplorasi.

Jika barang dagangan tak laku, karena barangnya termasuk perishable item alias cepat rusak, maka pedagang biasanya sudah tahu kemana harus mengobralnya. Pemilik warung makan atau depot, biasanya suka membeli dalam jumlah banyak dan harga murah. Bisa juga ke warung di kampung, atau sesama pemilik kios yang punya langganan beli sisa-sisa…atau paling apes ya dimasak sendiri. Ada barang-barang yang bisa dijual keesokan harinya, kalau yang ini sih simpan aja di kios untuk hari selanjutnya.

Manajemen pemilik kios biasanya sederhana. Margin keuntungan merata untuk semua produk, sembari mengamati berapa harga kompetitor, karena persaingannya cukup ketat. Paling yang membedakan antar kios adalah kepiawaian pedagang dan layanan yang diberikan. Kalau ada yang bisa memotongkan dan membersihkan, lebih bagus. Kalau ada yang bisa mengantar ke kendaraan atau kirim ke rumah, lebih bagus. Karena itu keramahan dan kepedulian terhadap pelanggan adalah syarat utama. Siapa juga yang mau belanja ke pedagang yang judes, meski harga dan barangnya sama.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah saat yang megang kios orang lain, stafnya atau anaknya misalnya. Mempekerjakan orang yang punya prinsip berbeda itu susah. Misalnya pemilik mengharuskan keramahan sebagai hal utama, sementara pegawainya pokok menjual sebanyak-banyaknya sehingga ia melayani pelanggan sambil cemberut atau kurang ramah misalnya, maka selanjutnya pembeli ngga mau datang lagi. Itu sebabnya perlu on the job training, sekali-kali disidak dan cek ke pelanggan gimana pelayanan yang diberikan.

Jam sepuluh, biasanya pasar tradisional mulai sepi. Sambil menunggu pelanggan lain datang satu demi satu, pemilik kios membereskan barang dagangannya dan bersiap untuk pulang. Berjualan lagi, di hari yang baru.

(Bersambung)
***
IndriHapsari
Foto : pinterest.com

Advertisements