Berantem di Arisan

20130301-234804.jpg

Emang ngga ada yah, kegiatan yang lebih penting daripada yang tersebut pada judul di atas?

Sebelum saya jawab, saya uraikan dulunya kenapa saya selalu berusaha ikut arisan.

Kalau untuk alasan pribadi sih, karena kesempatan saya untuk berkumpul dengan ibu-ibu sungguh langka. Anak-anak saya tipe drop-dropan, maksudnya antar, lalu tinggal. Berlaku sejak umur dua tahun karena semua masuk child care, sampai saat ini bisa dihitung dengan sebelah jari tangan berapa kali saya kumpul dan kongkow dengan sesama ibu teman anak saya.

Di rumah, sama saja. Setelah pagi hari selesai mengurus keluarga, sosialisasi sebentar di Kompasiana dan tayangkan tulisan tadi malam, berikutnya adalah berangkat kerja. Biasanya tukang sayur baru muncul, mengingat ibu-ibu juga baru pulang dari mengantar anaknya.

Arisan, menjadi tempat saya untuk berkumpul dengan sesama ibu, dan saling bersabar satu sama lain. Mereka sabar terhadap saya yang suka datang telat dan masih kumus-kumus belum mandi, saya juga sabar terhadap pembicaraan mereka yang ‘haduuh, cepetan dong putusin!’ itu.

Alasan lain adalah meneruskan tradisi keluarga. Ibu saya dulu mengikuti tiga arisan, arisan dasawisma, arisan RT dan arisan PKK. Cukup aktif juga, dan kegiatannya ngga cuma ngambil undian siapa yang ketempatan, tapi ada juga simpan pinjam, menjenguk teman yang sakit dan menghadiri pembukaan usaha salah satu angota. Menunggu Ibu pulang dari arisan, dengan kotak kue putihnya, sungguh masa kecil yang menyenangkan buat saya. Kebiasaan itupun saya tularkan ke anak-anak, yang menyambut dengan gembira setiap saya pulang dari arisan.

Pengaruhnya secara keuangan, tergantung dari besaran berapa rupiah arisan yang kita ikuti. Saya pernah mengikuti arisan yang iuran perbulannya sekedarnya, bahkan kalau dikurangi dengan uang konsumsi, ya pak puk lah, alias balik modal. Dapatnya X, keluarnya juga X. Ada juga yang lumayan besar, jadi lumayan dapat rejeki nomplok kalau namanya keluar di awal-awal. Udah gitu malesss banget mau bayar iuran lanjutan tiap bulannya..hehehe.

Kalau secara kebangsaan (yup, ngga salah baca kok! :>) ikut arisan saya ibaratkan pengabdian pada lingkungan. Yah mulai pada hal-hal kecil dulu deh, sebelum melangkah ke yang lebih besar. Biasanya di arisan dapat info terbaru mengenai lingkungan, misal si ibu ini mengalami kecurian. Nah kita sebagai agent of change (iyak, bener, matanya ngga salah kok..) wajib menyebarkannya pada tetangga yang ngga ikut arisan, agar berhati-hati.

Ibu-ibu arisan juga yang biasanya pertama bergerak untuk menyambangi warga yang sakit, mengunjungi ibu yang baru melahirkan, melayat warga yang meninggal. Jadi meskipun tidak tiap hari bertegur sapa, tapi ada usaha untuk menunjukkan perhatian. Apalagi kalau sama-sama urban, perhatian-perhatian kecil macam begini yang dirindukan.

Nah, tersebutlah kisah, kadang di arisan itu ada berantemnya.

Arisan pertama yang saya ikuti, ketua arisan yang juga istri ketua RT ini tipe leader banget. Jadi dia yang punya inisiatif, banyak ide, dan aktif mendorong anggotanya untuk mengikuti jejaknya. Masalahnya berhadapan dengan ibu-ibu itu ngga gampang. Ada yang gampang tersinggung karena omongan, ada yang bertengkar antar tetangga jadi saling sindir, ada yang ngomongin ibu ketua sebagai sok kuasa. Waduh, kalau saya sih malah beruntung banget ada yang sempat memikirkan ini itu untuk kepentingan lingkungan, jadi lebih banyak ho-oh saja dengan keputusan yang secara sepihak diambil. Hidup sudah cukup ruwet, untuk urusan yang simpel ngapain dipersulit lagi.

Arisan kedua, di lingkungan yang baru, anggotanya banyak yang senior, dengan anak-anak yang sudah pada besar-besar. Berhadapan dengan sebagian kecil ibu-ibu muda yang baru melahirkan. Biasanya berantem awal mulanya ya dari omongan. Yang senior suka nostalgia dengan menceritakan ‘kalau dulu seperti ini’, sementara yang muda punya pendapat sendiri, dan mungkin cara bicaranya kurang bisa diterima. Akhirnya merembet kemana-mana, sampai menyentuh masalah uang, masalah ‘jangan ngomong di belakang’, dan berakhir dengan mundurnya sebagian anggota. Saya cuma geleng kepala, ketika diceritain, dan dimintai pendapatnya. Maklum, sudah agak jarang bisa ikut arisan, dan ngga tergabung pula dalam grup BBM mereka (untung ngga punya BB *grin*).

Apakah saya jadi kapok ikut arisan yang pasti ada intrik dan konfliknya? Meskipun arisan ini ‘sama sinetron, ngga kalah’, saya termasuk anggota yang bertahan. Dukungan suami untuk mengikuti arisan juga menjadi salah satu pertimbangan. Bukan, bukan karena saya ibu pengurus RW yang menginginkan suaminya jadi RI 1 (jauh amat yak! LOL), tapi bapak-bapak itu juga suka ngegosip lho! Dan curhatan saya biasanya jadi bahan diskusi di rapat RW, sebagai perwakilan suara dari warga.

Yang penting dalam arisan, jangan terlibat dalam perseteruan. Ambil hikmah dan asyiknya saja.

***

sumber gambar : kolomkita.detik.com

Advertisements