Mungkin Ini Saatnya

– Dea –
Aku mematung. Hampir saja berkilah Rio tidak sengaja datang ke kos. Namun mengingat Riska dengan cepat menghubungkan kedatangan Rio ke kos pasti ada hubungannya denganku, membuatku urung melakukannya. Sepertinya…Riska sudah menebak…kalau Rio…

‘Itu sebabnya kan…kau mengantarkan Dea saat tempo hari ke kos? Aku bingung apakah memang sudah sifatmu baik pada semua wanita. Tapi aku berusaha mempercayaimu…sampai aku melihat kau masih saja menyimpan foto-foto Dea di laptopmu…’ kata Riska dengan pedih.

Aku membelalakkan mata. Bahkan akupun baru tahu, Rio mengambil fotoku diam-diam.

‘Lalu karena itu kau rela menciumku, hanya untuk mengalihkan perhatianku dari Dea..’ kini buliran air mata mengalir di pipinya. Aku bisa merasakan kesedihannya.

‘Buat apa kau lakukan itu, Rio! Aku tak perlu semua itu jika itu hanya kamuflase! Kau menciumku bukan karena kau sayang aku! Kau sayang…Dea!’ isaknya.

Aku memandang Rio yang masih saja berdiri tegak. Memohon padanya dengan pandangan mataku…katakan Rio…katakan ini bohong belaka!

‘Riska…aku minta maaf…telah..melakukannya..aku hanya ingin…kau tak membenci Dea…hanya karena…ketidaktegasanku…’ kata Rio pelan.

Aku memandang Rio tak percaya. Dulu…katanya…suka Riska…aku kembali memutar memoriku…Ah tidak, ia tak pernah mengatakannya, hanya titip salam saja.

Riska menutupi wajahnya dengan kedua tangan. ‘Sudah kuduga…Riooo…kenapa kau buat aku jatuh cinta padamu..sementara kau hanya berpura-pura mencintaiku…’ katanya sambil tersedu. Aku sudah bergerak mendekatinya, berusaha memeluk bahunya. Tapi ia menepis dan menjauh dariku.

‘Riska..bukan maksudku…’ kata Rio tersendat, ‘Aku sudah berusaha…namun…sulit untuk tidak menunjukkan…perasaanku yang sebenarnya ke Dea…’

Aku tertegun. Riska tak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan pergi. Aku memandang Rio dengan marah. ‘Rio! Jelaskan semua! Kau sudah membuatku kehilangan sahabat!’ teriakku. Tak peduli dengan wajah-wajah teman kos baruku yang mulai mengintip dari jendela ruang tamu.

Mata Rio bergantian menatapku dan wajah teman-temanku. Ia mengeluarkan kunci motornya, dan bergerak mendekatiku.

‘Aku jelaskan. Tapi ngga disini.’ Dengan lembut ia menggenggam tanganku, dan mengantarkanku ke motornya. Bersikukuh tak mau memeluk pinggangnya, ia melarikan motornya ke arah danau.

*

Bagaimana harus kugambarkan suasana saat ini? Air danau itu tenang saja. Matahari memancarkan lembut sinarnya, sinar penghabisan sebelum ia sendiri tenggelam. Namun yang paling indah dari semua, tentu Rio.

Kerah kausnya agak naik sedikit, menghiasi lehernya yang jenjang. Meski sedang diam seperti ini, matanya menatapku dengan ceria. Berulang kali aku membuang pandangan ke danau, merasa tidak kuat menatapnya lama.

‘Jadi…sampai juga akhirnya…’ katanya sambil mendekatiku. Ia duduk di sebelahku. Badannya ia condongkan ke depan, dan kedua sikunya bertumpu pada kedua lututnya.

‘Sampai apa, Rio?’ tanyaku ingin tahu.

‘Sampai engkau tahu, siapa yang sebenarnya ada dalam hatiku…’ katanya tetap memandang lurus ke depan.

Aku terdiam. Ingin kutanyakan…sungguh ingin kutanyakan…

‘Meski sudah berusaha…melupakanmu…tapi…kamu hebat ya…’ kini Rio menatapku lekat-lekat, ‘makin berusaha, makin terjerat dalam pesonamu.’

Lagi-lagi aku terdiam. Detak jantung ini ingin kuredam…

‘Sampai aku harus selalu ingatkan diri terus menerus…aku harus hentikan semua ketertarikan ini, sebelum seseorang terluka. Entah aku, kamu…atau…Riska..’ katanya pelan.

Menghentikan? ‘Kenapa?’ tanya mulutku menyampaikan kata hati, syarafnya tak mau mampir ke kepala.

Rio memandangku sambil tersenyum. ‘Alasan klise Dea…dan aku belum menemukan jalan keluarnya…tentang…kita yang berbeda.’

Mataku mengerjap. Hanya…itu saja?

‘Entah bagaimana kau memandang masalah keyakinan Rio, tapi aku menganggap…biarlah semua kembali pada pilihannya masing-masing. Kalau aku yang terkena kasus itu…’ aku menghela nafas, mencoba menyamarkan harapanku, ‘aku ngga akan mempermasalahkannya.’ Aku mengakhirinya dengan senyuman. Rio…it’s not a big deal…

Rio memandangku sambil tersenyum. Wajahnya yang bersih terlihat segar saat mendengarku mengucapkan kata-kata itu. ‘Yah, mungkin hanya ketakutanku saja, saat makin jatuh cinta padamu, sementara aku tahu kisah kita ini ngga akan ada ujungnya. Lalu dimana tanggungjawabku telah menarikmu dalam pusaran pelik ini…’

Jangan takut…Rio…

‘Aku lega!’ kata Rio sambil tertawa. Aku menatapnya dengan heran.

‘Ternyata kalau perasaan disimpan-simpan, ditutup-tutupi, jadinya kacau begini ya. Namun setelah mengungkapkan semua padamu…ya, aku sayang kamu Dea…dan ya, aku yang harus berusaha mengendalikannya…aku merasa lebih…tenang sekarang.’

Aku yang…ngga, Rio…

‘Dea…setelah mengantarkanmu pulang, aku akan minta maaf pada Riska, telah membuatnya menjadi pengalih perhatian, tanpa bisa tumbuhkan rasa untuknya. Lalu…aku akan pindah kuliah…ke luar kota,’ katanya sambil memandangku lagi.

‘Eh? Segitunya?’ Kini perasaanku jadi kalang kabut.

‘Harus, Dea,’ Rio mengangguk yakin. ‘Demi kebaikanku…dan kamu,’ katanya sambil tersenyum.

Rio..apakah ada yang bisa…menggoyahkan niatmu…?

‘Ayuk Dea, kuantar pulang,’ katanya sambil menarik tanganku lembut.

Rasanya kaki ini bagai melayang, tak menjejak tanah. Otakku masih mencerna apa yang harus kulakukan…kukatakan…sementara kami makin mendekati jalan pulang.

‘Rio…kamu ngga kepingin tahu…perasaanku…padamu?’ tanyaku ragu.

Rio menghentikan langkahnya. Ia berpaling, dan bibirnya mendarat lembut di keningku.

‘Aku tahu,’ katanya sambil tersenyum. Dan kemudian ia membiarkanku mematung…

*

– Rio –

Aku memasukkan baju terakhir ke dalam tas ranselku. Sejenak kutatap kamarku yang mulai kosong. Abang besok akan mengantarku ke stasiun. Telah kuselesaikan urusanku selama beberapa minggu ini.

Dea. Yang terbaik memang mengakuinya. Mungkin Dea, suatu saat kita akan bertemu, dalam kondisi yang berbeda. Aku yakin kau akan tetap sama mempesonanya. Mungkin saat itu, aku akan lebih siap menghadapimu…

IMG_3886.JPG

***
FIN

Lanjutan dari Kelak Semua Akan Jelas

Advertisements