Kelak Semua Akan Jelas

– Dea –

Aku memalingkan muka. Menutupi wajahku dengan kedua tangan. Berusaha kuat…kuat…kuat…namun tak bisa. Tetap saja pemandangan itu tersaji lagi…lagi…dan lagi…Dan kini air mata itu mengalir lagi..membasahi pipi…tanpa ada yang mampu menghapusnya.

Rio…aku mesti gimana…

Sebuah pertanyaan yang lucu. Melintas di benakku. Bertanya pada sumber masalah, apa yang sebaiknya kulakukan. Sudah pasti Rio suka Riska, kecupan itu membuktikannya…

Dan aku yang masih memendam rasa..memang sebaiknya menyingkir…pergi…

*
‘Yaaah..kok pindah siih?’ seru Riska kaget ketika melihat teman-teman merubungi pintu kamarku, melihatku mengepak barang-barang.

‘Biar dekat kampus katanya,’ kata Amy si tetangga kamar mewakiliku. Aku tersenyum saja, sambil membuat simpul di tumpukan buku-buku.

‘Kan ke kampus bisa bareng..ngga perlu pindah gini…’ kata Riska masih ngotot. Aku menghentikan dulu aktivitasku. Bagaimanapun..bukan salah Riska….aku yang salah, berada di antara mereka.

‘Ngga mau ngerepotin orang ah Ris…lagian aku bakal sering ke kampus, mau bimbingan,’ jawabku berusaha tenang.

‘Yaaah..sayang bangeeet…’ katanya sedih. ‘Mmm..kalau sudah beres…aku anterin deh boyongan ke kosmu,’ katanya menawarkan.

‘Ngga usah Ris,’ kataku buru-buru mencegah. ‘Ntar aku sewa angkotnya pak Timan, udah aku bilangin kemarin.’ Aku memandangnya dengan serius, agar ia tak mengkhawatirkan keadaanku.

‘Ya udah lah Ris..mending kita bikin farewell party aja yuk..buat Dea? Gimana kalau..rujakan?’ kata Amy mengusulkan. Teman-temanku langsung bersorak, dan mereka segera membagi tugas siapa melakukan apa, dan juga segera belanja buahnya. Pelan-pelan mereka membubarkan diri. Meninggalkanku yang sangat merasa kehilangan semua keakraban ini…

*
‘Ngapain pindah?’

Aku terjebak. Tahu-tahu Rio sudah muncul di kos baruku. Polo shirt putihnya membuatnya nampak segar. Matanya memandangku dengan tajam.

‘Kok…tahu aku disini?’ tanyaku balik.

‘Ngga sengaja lewat sini..pas kamu masuk gerbang. Makanya aku langsung turun, kejar kamu. Ketemu deh!’ katanya ceria.

Aku mengeluh. Jadi begitu ceritanya, sampai aku terjebak begini rupa. Setelah menarik tanganku, ia memaksa masuk melewati gerbang. Dan disinilah kami, berhadap-hadapan.

‘Riska juga ngga bisa ngejelasin…’ katanya pelan.

Hah? Riska?

‘Iya..dia bilang kamu pindah…katanya biar tambah dekat ke kampus…mau bimbingan…padahal setahuku, kamu belum ambil Metodologi Penelitian,’ katanya santai.

Aku melotot. Rio! Masih saja…hapal mata kuliah yang kuambil…

‘Jadi ngga tau…sebenarnya apa alasanmu pindah kos. Kenapa? Ada yang menganggumu?’ tanyanya perhatian.

Kepalaku sibuk mengarang jawaban. Belum lagi kudapat jawabannya, pintu gerbang berayun kembali. Kali ini…Riska..muncul di hadapan kami berdua.

‘Jadi memang benar kecurigaanku. Rio, kamu menyukai Dea!’ katanya dengan sendu.

Kami berdua saling berpandangan.

*

Lanjutan dari Maka Aku Berjanji

Advertisements