Gereja Tak Laku Lagi

Habis ini paling dikepruk Pak Pendeta 😛

Selain mungkin menyinggung Pak Pendeta, ada resiko juga bicara seperti ini di forum umum. Untuk mereka yang berpikiran, maaf, picik, mungkin akan menyambut gembira atau sinis mengenai penurunan jumlah jemaat di kalangan umat Kristen ini. Namun yang berpikiran terbuka akan melihatnya sebagai suatu masalah bersama, berkurangnya nilai-nilai religius pada masyarakat modern.

image

Sebuah foto dari teman saya memperlihatkan keadaan di kota Utrecth Belanda. Sebuah gereja yang dijadikan cafe. Bangunannya mungkin kesepian ngga ada yang ngunjungin, sehingga diubahlah menjadi sebuah kafe yang menjual bir, demi mendatangkan pengunjung. Organ gede khas gereja tetap nangkring disana, seakan menjadi saksi bisu transformasi rumah Tuhan menjadi tempat hiburan.

image

Sedih? Pasti. Tapi mari kita lihat sebabnya kenapa gereja tak laku lagi.

Perubahan dalam masyarakat membuat mereka berpikir ngga ada agama juga ngga apa. Malahan kok kayanya lebih tentram, ngga ribut dengan para kaum fundamentalis atau yang fanatik terhadap agamanya sendiri, yang lainnya wajib diperangi. Di negara-negara yang tingkat religiusnya rendah, justru masyarakatnya hidup saling menghormati hak-hak orang lain, dan ngga hobi berantem. Jadi, buat apa punya agama kalau bikin ribet aja?

Yah emang sih kalau dilihat aman damainya memang bikin sirik kok negara-negara sekuler itu. Tapi kalau mau mendasarkan diri pada kitab suci, dalam hal ini Alkitab, serem loh. Seks bebas makin merajalela, meski karena terdidik ngga sampe nularin penyakit sama hamil. Tapi tetap aja ada yang gitu, dan penyakit-penyakit itu tetap saja ada, bukan menurun. Lainnya masalah gay lesbian yang makin banyak dan direstui negara. Haduuh…ngga takut ada Sodom Gomora jilid 2? Lalu kualitas manusianya jadi gimana kalau fokusnya justru ke kenikmatan pribadi?

Belum lagi masalah depresi, yang karena ngga ada pegangan jadi berujung ke bunuh diri. Ya iyalah, orang-orang ini biasa mendasarkan diri pada kekuatan pribadi…trus begitu can’t handle it, mulailah pelampiasan ke miras, drug, kriminalitas dan ujungnya ya bunuh diri itu. Gimanapun baik-baik sajanya, mereka tetap manusia…

Jadi karena saya percaya ada kekuatan yang lebih besar dari manusia, makanya beragama itu tetap perlu. Pilih agama yang bisa membuat kita jadi manusia yang lebih baik, baik bagi diri sendiri maupun sesama, bukan yang malah menjerumuskan, atau malah cuma peduli Tuhan, ngga peduli manusia lainnya. Keajaiban proses penciptaan saja seharusnya sudah menyadarkan kita, ini bukan sulapan.

Lalu bagaimana gereja dapat menyikapi hal ini?

Mau ngga mau, gereja harus dekat dengan masyarakat. Istilahnya, jemput bola. Soalnya jemaatnya sudah menjauh, perlu ditarik kembali biar mau beribadah lagi, mendekatkan diri pada Tuhan. Jemaat akan tahu kemana mesti mengadu, dan bagaimana mereka dapat membaktikan diri pada sesama dan gereja. Gereja harus menjadi teladan, yang membuat jemaat merasa perlu menyokongnya.

Untuk para lansia, karena fisik lemah, ya antara mereka dijemput untuk ke gereja, atau pendetanya yang datang untuk berdoa bagi mereka,. Untuk anak muda karena mereka pembosan, bisa dibuat kegiatan yang menarik, terutama terkait dengan studi, pekerjaan, dan…jodoh. Pasti tambah semangat ke gereja kalau ada gebetannya. Meski bukan motivasi yang benar, tapi setidaknya rajin dulu. Kalau anak-anak sih senangnya yang sambil main…jadi merasa asyik dengan gerejanya, mereka juga akan senang datang.

Yah pastilah ngga sesederhana itu untuk membuat gereja menjadi laku. Tapi kefleksibelan ini yang diharapkan ada pada sebuah gereja. Gereja sudah cukup masalah eksternalnya dengan dihambatnya ijin pendirian, penolakan dari masyarakat sekitar, sentimen agama, dan masalah lainnya. Jika gereja sangat berhati-hati dengan hubungan dengan masyarakat sekitar, kenapa tidak hati-hati juga menjaga hubungan dengan jemaat?

Karena itu saya merasa kerja pendeta ini berat loh. Selain memimpin jemaatnya yang bandel, berhadapan dengan dunia luar yang ngga selalu manis, pendeta juga terancam keselamatannya karena sikap lurus yang dimilikinya. Memang ada juga pendeta yang belok-belok, wajib diingatkan jemaatnya, jadi jemaat jangan pasrah aja.

Kewajiban kita sebagai jemaat adalah, jangan nakal-nakal. Dukung semua kegiatan gereja, bisa dengan dana, tenaga, waktu dan doa. Jangan lupa doakan pak pendeta, biar bisa terus ngingetin kita dan diberkati tindakannya, biar gereja bisa menarik lebih banyak pengunjung, yang merasa rindu bertemu Tuhan.

***
IndriHapsari
Foto courtesy Darmawan C. Rianto

Advertisements