Enak(n)ya Jadi Orang Kaya

‘Lebih baik menangis di dalam sebuah BMW daripada menangis di atas sepeda’

Pepatah Cina yang sekarang beralih menjadi negara kapitalis tersebut mengingatkan, dalam keadaan yang sama, jauh lebih enak menjadi orang kaya daripada orang miskin. Orang (sirik) mungkin akan berkata ‘ngapain kaya kalau sakit-sakitan’, atau ‘kekayaan tidak menjamin kehangatan keluarga’ tapi hei, kalau keadaannya SAMA, Anda pilih yang mana?

Kekayaan tentu bisa memberikan apa yang anda mau, tapi tidak hanya barang saja. Tanpa sadar, banyak manfaat lain yang bisa dirasakan.
1. Kesehatan

Sama-sama sakit, si miskin mesti keluar masuk instansi untuk mengurus surat miskin, mengajukan pengobatan ke rumah sakit umum, mengantri karena sudah banyak yang mendaftar, ditemui dokter yang prinsip kerjanya efisiensi, menebus obat di apotik-mungkin hanya setengah saja. Persoalan tambah runyam kalau pasien miskin harus rawat inap. Berjejalan dalam satu bangsal, kalau lagi penuh silakan menempati lorong yang ada.
Orang kaya? Melenggang ke luar negeri mencari rumah sakit terbaik. Mulai dari dokter, suster hingga kepala rumah sakit menyambut dengan ramah, yang terpenting adalah kepuasan dan kesembuhan pasien. Obat datang sendiri, kalau perlu dokternya yang datang ke rumah, lengkap dengan peralatan canggih, termasuk untuk cuci darah. Jangan tanya soal fasilitas rumah sakit, jika tidak ada bed khusus pasien mungkin sukar dibedakan dengan kamar hotel.

2. Pendidikan

Mulai TK hingga SMA, syukurlah mendaat bantuan. Selesai sekolah, langsung pulang ke rumah membantu orang tua. Buku, cukup pinjam dari sekolah. Dipelajari benar-benar, karena itulah satu-satunya sumber informasi. Mau masuk perguruan tinggi, mesti bersaing dengan jatah yang semakin kecil di luar jalur undangan, dan begitu banyaknya yang berminat masuk ke universitas tersebut. Baru dapat pinjaman untuk bayar pendaftaran, baru ketahuan ada uang pangkal berjuta-juta yang harus disediakan.
Untuk anak orang kaya, pendidikan sudah dimulai sejak usia 6 bulan. Dimulai dengan baby class, dimana para bayi sibuk memperhatikan sang nanny yang bergoyang mengikuti arahan Miss. Pendidikan multi language menjadi pilihan, dengan fasilitas multimedia yang lengkap hingga kolam renang. Les tambahan pastilah diperlukan: les Inggris, piano dan matematika. Les inggris? Bukannya sekolahnya sudah dual language?
‘Oh, kami mencari guru yang native, bukan India atau Filipin’.
Saat memasuki perkuliahan, tinggal kirim anak ke negara pilihan, lengkap dengan apartemen dan mobil berplat lokal, supaya menunjang kegiatan belajar (atau jalan-jalan?).

3. Pergaulan

Sebagai orang miskin, harap tahu diri bahwa Anda tidak punya suara di rapat ini. Anda itu pelaksana, mengikuti maunya orang-orang saja. Malah mungkin Anda terpaksa tidak bisa mengikutinya, karena tidak ada biaya. Mau bergaul dengan orang kaya, nanti dikiranya cari muka. Kalau sudah begini susah deh mau menjalin kerjasama, karena beda rasa beda selera.
Orang kaya punya kuasa, semua menghormati pendapatnya, mengikuti nasehatnya tanpa bertanya-tanya, dan penentu kebijakan. Orang kaya harus bergaul dengan orang kaya. Bergaul dengan orang miskin malah ikut susah, salah-salah malah harus meminjamkan uang. Kalau bergaul dengan orang kaya, prospek pekerjaan lebih cerah karena jaringan yang ada. Minjem uang juga lebih mudah, kan koneksi saya orang berkuasa!

4. Penampilan

Rajin bekerja memang membuat berat badan dan postur tubuh terjaga. Bedanya, kulitnya hitam legam dan kasar karena pekerjaanya di bawah terik matahari. Mau sekeren apapun, tetap saja terasa bedanya antara si miskin dan si kaya. Si miskin akan bergaya dengan baju tiruan merek ternama, yang sungguh kasar bahannya, tidak pas jahitannya. Parfum yang mirip dengan merek ternama juga bisa disemprotkannya, tapi aduh, baunya kok jadi beda ya? Dari jauh baunya sudah menyengat, hidung jadi bersin waktu dia mendekat. Si miskin akan berkeliaran pada pasar senggol, dan membeli jajanan batagor.
Kalau kaya, olahraga adalah bagian dari gaya hidup. Pulang kerja mampir ke pusat kebugaran di pusat perbelanjaan, sekalian hanging out dengan teman-teman. Kulit tetap putih bersih dan halus, karena seharian berada di ruangan berAC-rumah, mobil, kantor. Personal trainer akan membimbing latihannya, dan jangan lupa diet makanan sehat tapi enaknya (dan mahal tentu saja). Produk penunjang penampilan dapat dibeli dengan mudah, sampai sepatu peninggi badan untuk pria, operasi plastik dan sedot lemak, atau cangkok bulu mata.

5. Percintaan

Cinta itu dari mata turun ke hati. Jadi semisal si miskin sudah lolos dari poin 4 tentang penampilan, maka berikutnya adalah memperjuangkan kekasih hati agar memilihnya. Yah, jaman sekarang gitu loh…siapa sih yang mau hidup susah? Maka memilih pasangan yang mapan, termasuk para suami orang, menjadi suatu pilihan.
Perlu usaha keras dari si miskin untuk menyakinkan mertua, bahwa ia akan menikah dengan anak mereka atas dasar cinta, sehingga ia akan bertanggung jawab terhadap semua beban keluarga. Memang sih sekarang belum ada kerja, tapi cukuplah modal bila untuk akad saja.
Orang kaya sih tinggal jalan saja. Lupakan semua cerita orang kaya norak, tak beretika dan maunya seks saja. Kalau itu sih orang miskin juga bisa. Tapi bayangkan dalam kondisi yang sama. Seseorang yang serius dengan cintanya, menunjukkan perhatian dan sayang keluarga. Itu, ditambah dengan penampilan khas eksekutif muda, mobil aneka warna, dan tentu saja memberangkatkan ke Bali seluruh keluarga. Tidak perlu melamar, malah sudah ditanya,
‘jadi, kapan nih diresmikan hubungannya?’
Saya kurang ajar? Ah, hanya mengatakan apa adanya.
Saya mengada-ada? Ah, ini hasil pengamatan lho.
Jadi, siapa bilang jadi orang kaya itu susah? Tetap enak kok! 🙂

Advertisements