Lho, Sampeyan Ini Straight Toh?

Di tempat senam.

Ibu-ibu asyik mengikuti gerakan instruktur yang bergerak lincah di depan. Jika dulu instruktur senam adalah gadis mungil nan sexy, sekarang yang mendominasi adalah pria-pria berotot dengan kaki yang kecil, dan ketiak yang licin. Soal kelenturan dan stamina sama saja, bedanya suara lebih keras saat memerintah ibu-ibu supaya gerakannya lebih semangat. Pakaiannya bukan pakaian senam, hanya kaus you can see gombrong sampai pantat, lalu disambung mini hot pants yang lentur. Rambutnya ada yang dicat pirang dengan model terbaru, ada yang gondrong berkuncir, dan selalu sibuk menyibakkan poninya. Dengan ramah mereka akan menyapa para ibu-ibu yang sejak tadi menunggu, menanyakan kabar sebelum memulai acara senam. Salah satu yang diajarkan apalagi kalau bukan body languange, senam favorit wanita.
Seorang ibu pernah bertanya, tak sengaja tertangkap kuping saya ‘gimana mas kabar ANAKnya, sudah liburan?’ Saya memandangnya dari atas ke bawah, ‘lo, sudah punya anak toh?’
***
Di salon.

Penata rambut di salon kebanyakan laki-laki. Entah kenapa ya, apa mungkin alasan yang sama seperti seorang koki. Mungkin karena laki-laki lebih berani bereksperimen. Penata rambut ini orangnya kecil, rambut dihighlight kecoklatan, dan tentu saja, melambai. Baik dalam gerakan, tutur kata, dan istilah ‘rempong’, ‘makarena’ dan ‘cucok’ yang biasa digunakan kaum waria. Orangnya sabar mengikuti keinginan pelanggan, lembut memperlakukan rambut di tiap kepala, sehingga menjadi favorit pelanggan. Seru cerita-cerita sama dia, karena dia selalu menanggapi dengan perhatian.
Waktu saya kesana, dia tidak ada. Asistennya mengatakan, bahwa ISTRInya sakit. Saya mikir, ‘lo, sudah nikah, toh?’
***
Teman satu ini memang istimewa. Hobinya nge-gym, istilah jaman sekarang untuk mereka yang pergi ke pusat kebugaran. Berkat keseriusannya berlatih, otot kekarlah yang dia dapatkan, plus perut six pack yang bikin iri semua orang, termasuk perempuan. Selalu menjaga penampilan, berkaus polo shirt ketat, tampil segar dan wangi setiap saat, membuat he is a very good looking man. Namun hanya sampai di situ. Teman wanita mendekat ke dia karena dia asyik buat dipamerkan, enak diajak sahabatan, dan sama ‘bocornya’ dengan kaum perempuan. Diajak ngegosip, hayo. Diajak jalan nonton film romantis, hayo. Kompakan pakai baju pink, hayo. He is every girl’s best friends.

Sampai suatu saat dia mengeluh ke saya ‘aku padahal sudah mau nembak dia. Tapi yang dia ceritakan malah cowok-cowok yang ditaksirnya’. Pusinglah kepala saya, bukankah saya juga melakukan hal yang sama, menceritakan rahasia-rahasia terdalam saya? Ternyata dia pria normal!

‘Don’t judge book by its cover’

Advertisements