Mrs. Doubtfire, Film Komedi Sarat Pesan

20140622-164424-60264745.jpg

Memang susah ya menilai suatu film bagus atau bermutunya, saat hanya satu kali melihatnya. Menghibur, mungkin strata terendahnya. Berikutnya adalah kita masih mengingatnya. Namun kemudian menganggapnya sebagai berkualitas, saya kira perlu beberapa kali melihatnya.

Gara-gara HBO lagi running film Mrs. Doubtifre, film yang sempat saya lihat di bioskop pada tahun 93 atau 94 ini membuat saya yakin, seyakin-yakinnya, ini pasti dari novel. Soalnya karakternya jelas, plot rapi, bahkan semua pemanisnya seakan menyatu dengan plot utama, dan detailnya juga juara.

Sulit memang menemukan aktor yang sesuai dengan karakter yang kita inginkan, apalagi kalau masih meraba-raba. Aktor yang bertalenta sekalipun tak akan keluar sinarnya kalau karakternya tidak kuat. Proses casting MD ini entah berapa lama untuk menemukan aktor yang tepat, meski saya yakin khusus untuk pemeran MD Chris Columbus sudah mengincar Robin Williams. Sampai sekarang rasanya belum ada aktor yang bisa memerankan tokoh-tokoh aneh dengan manis, sesuai untuk tontonan keluarga. Yang bisa menyamainya adalah Johny Deep, untuk sisi aneh lainnya.

Yang menarik adalah, begitu dalamnya karakter setiap pemeran yang hanya diperkenalkan sebentar. Ada Uncle Frank dan Aunty Jack, pasangan gay, dimana Frank adalah kakaknya MD. Pekerjaan, kehidupan, sifat, diperkenalkan dengan gaya yang kahs, hingga meskipun film ini bukan kisah mereka, kita masih mengingat mereka meski film sudah tidak ditonton. Karakter lainnya rata-rata mengambil porsi yang cukup besar. Kalau bisa disusun stratanya, pertama tentu MD dengan ketiga anak dan istrinya. Lainnya ya si Stu pacar mamanya, pegawai pemerintah, boss program di tivi, dan ya Uncle Frank itu.

Kalau cerita saya rasa semua orang sudah memahaminya. Plotnya dijaga ketat dari novel karya Anne Fine berjudul Alias Madame Doubtfire. Pesannya sudah jelas, perceraian itu akan memberi efek ke anak-anak, sebaik apapun penampakan mereka. Namun di sisi lain, ada juga makna yang tertangkap. Bahwa yang terpenting adalah orang tua yang menyayangi anak-anak. Meski mungkin terpisah, tapi mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua itu yang utama. Suatu saat, jika akhirnya istri MD jadian sama Stu, semoga anak-anak ini ngga berkurang limpahan kasihnya.

Kemudian kembali ke pasangan gay tadi, sepertinya ini contoh yang terjadi di Amerika Serikat dimana beberapa negara bagian sudah melegalkan hubungan tersebut dalam pernikahan. Yah selama ngga mengganggu, ngga gangguan jiwa, dan bisa berkontribusi, mereka bisa diterima di masyarakat. Kalau ngomongin aturan agama tentu lain lagi ya. Masalah muncul kan kalau gay ini tega menyakiti orang-orang yang membutanya marah, patah hati mungkin, sampai membunuh, apalagi sampai jadi pedofil. Memang kok, tipis sekali batas antara waras dan gila kalau jadi gay, karena itu berarti mereka sudah di daerah abu-abu. Mungkin, dengan punya pasangan sehidup semati seperti Uncle Frank dan Aunty Jack, mereka bisa hidup selayak manusia normal di pergaulan.

Ada juga kisah boss TV yang ngga sengaja melihat waktu MD memberi contoh bagaimana program TV yang menarik bagi anak-anak itu. Meski namanya kebetulan, tapi hal berikutnya yang menarik. Ia memberi kesempatan pada MD untuk menceritakan idenya. Bukannya nyuruh ini itu sesuai maunya, dia mau dengarkan pegawai rendahan macam MD, dan begitu cocok, mewujudkannya. Indahnya kalau setiap orang menghargai ide orang lain, siapapun itu.

Adegan lucu lainnya ya waktu program TV itu, tentang dinosaurus, dibawakan oleh pembawa acara yang hampir jadi fosil saking lamanya, ada dalam proses rekaman. Semua orang terkantuk-kantuk, menatap dengan tidak bersemangat, bahkan cameramannya sampai hampir melepaskan kameranya saking ngantuknya. Mengingatkan saya juga sebagai pengajar, jangan menyiksa anak didik dengan penjelasan yang membosankan. Pada akhirnya, saat MD yang diserahi proam tersebut, ia tetap menyertakan si pembawa acara lama untuk jadi pendampingnya. How sweet! Dengan mudah MD bisa menyingkirkan yang lama supaya hanya dia yang jadi bintangnya, namun tidak ia lakukan.

Akan halnya MD sendiri, pergeseran sikap saat sebelum dan sesuah jadi MD diceritakan dengan cepat, tapi penonton jadi tahu betapa ia telah berusaha. Siang jaga anak-anak, malam kerja, pulang dia masih belajar masak supaya ngga delivery catering terus. Awalnya ia adalah orang yang berantakan, namun sejak disuruh beres-beres di rumahnya sendiri, apartemennya jadi rapi. Kebiasaan itu terbawa ke kehidupan awalnya.

MD sendiri masuk 100 film komedi Amerika terbaik dalam 100 tahun terakhir, yang dirilis tahun 2000 oleh American Film Institute. Sekuelnya berulang kali disiarkan akan dibuat, tapi Robin Williams tidak sreg dengan skenarionya. Tebakan saya sih novelnya tidak ada sekuelnya, dan skenarionya tidak kuat. Bahkan hingga tahun 2013 masih ada pembicaraan tentang ini, memberikan sinyal bahwa film ini mewarnai sejarah perfilman komedi yang ngga cuma menghibur, tapi sarat pesan dan bisa ditonton seluruh anggota keluarga.
***
IndriHapsari

Advertisements