Undercover Boss, Bisakah Dilakukan di Indonesia?

Salah satu tayangan favorit saya adalah Undercover Boss USA yang ditayangkan pada saluran BBC Knowledge. Isinya adalah reality show di dalam perusahaan. Sang boss besar menyamar menjadi pegawai magang yang bekerja pada level paling rendah. Kamerawan yang mengikutinya diakui sebagai tim dokumentasi perusahaan, sehingga para pegawai tidak curiga.

Para boss ini harus hidup seperti pegawai, bekerja seperti pegawai, dan makan seperti pegawai. Tujuannya agar para boss tahu apa sebenarnya yang para pegawai lakukan, bagian mana yang harus diperbaiki, fasilitas apa yang perlu ditambah dan pegawai mana yang berdedikasi tinggi. Intinya, penyamaran selama seminggu ini akan mempengaruhi keputusan-keputusan besar di masa datang.

Kita tentu berpikir, pasti para pegawainya akan cari muka, karena direkam kamera. Yang menarik, ternyata mereka bisa berlaku alami. Yang jutek ya jutek, yang malas ya ada, yang seenaknya sendiri juga ada, sampai sang boss ingin segera membuka penyamarannya  dan  memarahi pegawainya. Sebaliknya, bagi yang berdedikasi, sang boss berbaik hati memberikan dana untuk sekolah anak, rekreasi, memberi tawaran promosi, melanjutkan sekolah, atau membatalkan pemotongan gaji. Tidak semua memerlukan uang, karena ada yang hanya berupa kalimat pembangkit semangat, memasukkan pegawai ke tim pelatihan, atau memperbaiki sistem organisasi.

Saya hanya membayangkan, bisakah acara ini diterapkan di Indonesia? Kalau mendapat lisensi berarti judulnya menjadi ‘Undercover Boss Indonesia’, kalau tidak ya beri saja judul ‘Penyamaran Boss’ (menjual ngga ya?). Manfaatnya banyak, baik untuk pegawai, top management maupun para boss. Untuk pemirsa mereka mendapatkan hiburan ‘drama’ pegawai dan boss, sekaligus mendapat pengetahuan mengenai seluk beluk perusahaan. Pegawai perusahaan akan merasa diperhatikan oleh para top management, karena para petinggi itu berusaha memahami apa yang terjadi di bawah. Sedangkan boss yang menyamar juga dapat menyelamatkan perusahaannya dari kehancuran karena kehilangan pegawai yang berdedikasi.

Penghambatnya, ada beberapa hal.

1. Pemirsa

Stasiun televisi akan menayangkan acara yang peminatnya banyak. Ada demand ada supply. Karena itu perlu diciptakan demand yangtinggi dari masyarakat, agar acara ini dapat terus ditayangkan. Sementara ini tayangan reality show masih mengutamakan kemiskinan, kesedihan, dan kebodohan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sulit untuk memperkenalkan, apalagi mempengaruhi bahwa masih ada reality show jenis lain di luar genre yang telah disebutkan.

2. Stasiun televisi

Kalaupun acara ini bisa tayang dan tidak mendapat rating yang tinggi, maukah stasiun televisi mempertahankannya?

3. Perusahaan

Dari sisi boss, saya kok masih tidak yakin ada yang mau menyamar dan melakukan pekerjaan rendahan dan kotor, meninggalkan kantor dan rumahnya yang nyaman selama seminggu, untuk bergaul dengan para pegawai rendahan. Harus ada kerelaan yang besar untuk melakukannya, bukan sekedar sidak satu dua jam, marah-marah dan dipublikasikan ke media.

Dari sisi pegawai, saya melihat masyarakat Indonesia ini, termasuk saya, ’sadar kamera’. Jadi begitu ada yang melakukan syuting di dekatnya, mau buat dokumentasi kek, main film kek, kalau bisa harus nampang, dan kelihatan baik-baiknya saja. Jadi tidak natural lagi. Kecuali kalau menggunakan kamera tersembunyi ya, kalau yang ini pemirsanya yang kasihan, disuguhi tontonan tidak jelas.

Tentu saja poin 1 hingga 3 adalah opini saya semata. Semoga dugaan saya salah, dan akan ada lebih banyak lagi tayangan bermanfaat di stasiun televisi kita.

***

Advertisements