Jack Reacher, Film Misteri Rasa Tom Cruise

20140622-164307-60187145.jpg

Pertama saat melihat film yang dibintangi Tom Cruise tahun 2012 ini, bayangan saya langsung ke tokoh jagoan yang ganteng, dan tetep ganteng meski abis digebukin sekalipun, bahkan dilolosin dari gebukan demi menjaga kegantengan wajahnya. Lalu aksi super heroik, sekali tembak kena, tapi begitu dia yang ditembakin berkali-kali selalu lolos. Kisahnya sendiri bisa ditebak, persis seperti film-filmnya Bruce Willis. Sepuluh menit pertama, langsung ketahuan siapa yang jadi penjahatnya. Sekarang tinggal bagaimana TC membereskan penjahatnya.

Ternyata sampai sepuluh menit pertama nonton Jack Reacher ini, saya blas ngga bisa menebak siapa otak dibalik pembunuhan lima orang yang saling tak terkait ini. Ada dugaan teman RC pas di Baghdad yang melakukannya, tapi sampai satu jam berikutnya malah dugaan itu dipatahkan. Dan yang pasti, film ini ngga seperti film-film TC yang biasanya. Hingga akhirnya saya membuka Wikipedia, dan bergumam ‘Pantesss…’ begitu lihat film ini hasil olahan novelnya Lee Child yang berjudul One Shoot. Filmnya TC ini bukan satu-satunya yang mengangkat novel tentang Jack Reacher, yang ternyata ada beberapa novel. Berbagai film pendek dan serial telah dibuat, menceritakan kisah pensiunan polisi militer yang sekarang menjadi penyelidik swasta, jago berantem dan ngga bisa digertak.

Jadi tumben sekarang TC memecahkan misteri pakai analisis. Biasanya kan dia dapat petunjuk, somewhere, atau dapat inpisrasi, sehingga adegan bag big bug sama tebar pesonanya yang lebih banyak. Yang ada disini adalah tentang TC yang terlibat dalam kejadian-kejadian kecil, lalu pengamatannya yang teliti, ingatannya yang tajam dan analisisnya yang mendalam, sampai saya curiga itu, bahwa ini pasti dari novel yang dia adopsi. Eh, bener aja. Meski diprotes sama penggemarnya Jack Reacher karena TC ini ngga sesuai bayangan mereka tentang Jack, tapi namanya juga produser ya, boleh juga dong dia yang meranin sendiri.

Tentu saja usaha TC kali ini boleh diacungi jempol. Bayangin usianya sudah 50, perutnya masih rata, wajah masih ganteng dan adegan berantemnya juga masih jago. Pertanda dia jaga betul stamina buat main film. Lalu meski sempat tebar pesona pada tokoh pengacaranya, Helene Rodin, adegannya paling lima persen deh. Bayangin keromantisan yang ada di Top Gun sama Mission Impossible, film ini sih ngga ada apa-apanya. Yang banyak adegan berantem, kebut-kebutan, dan tembak-tembakan. Khas Hollywood lah, agak kejam juga, karena ada adegan gigit jari sendiri.

Namun adegan yang lain patut dicermati. Bagaimana TC menggambar lokasi agar tahu kejadian penembakan seperti apa. Lalu bagaimana ia menganalisis ada yang terusik dengan kehadirannya. Trus kisah dia melawan gertakan penjahat yang sudah menawan Helene, waduh, kesannya nothing to lose banget. Begitu penjahatnya menggertak, dia langsung banting teleponnya, seakan ngga butuh diancam. Tapi sudah gitu telpon lagi bolak balik, karena begitu penjahatnya ngomong, langsung ditutup lagi. Apa ngga bingung tuh penjahatnya. Kesannya cuek sih, meski sebenarnya dia lagi cemas mikirin Helene (dan siapa sih yang rela mengorbakan nyawanya dengan datang ke sarang penjahat, selain ia yang mencintaimu? 😛 )

Pas Helenenya bisa diselamatkan, teman TC aja ngegodain, ‘Oh ini ya gadismu?’ Duile..udah sama-sama tuwir padahal. Trus blas ngga ada adegan ciumannya (#eh) yang ada malah TC yang pamitan, trus dicegah Helene karena bingung kalau Helene mau menghubungi gimana. Si TC tetep keukeuh ngga mau ngasih nomornya (eh emang ngga punya ding, dia selalu pake telepon umum untuk menelepon ke BBnya Helene). Udah, gitu aja, TCnya pergi, penonton kecewa…hahaha 😀

***
IndriHapsari

Advertisements