Tuhan dan Keran

Saya sering mendengar nasehat ‘Berbagilah. Tuhan mempercayakan rejeki kepadamu. Jika tidak kau bagi, berarti keran rejekimu kau tutup. Bak penampungan rejekimu menjadi penuh, sehingga Tuhan tidak bisa memberikanmu rejeki yang lain’

Terus terang saya tidak setuju dengan nasehat itu. Karena kalau ditarik kesimpulan, saya memberi karena nanti akan diberi. Saya membagi karena nanti akan diganti. Sejak kapan manusia bisa menyetir Tuhan untuk menuruti apa maunya?

Apalagi kalau dikaitkan dengan kegiatan sosial hasil korupsi. Saya membagi agar dijauhkan dari mara bahaya dosa. Agar saya didoakan oleh orang-orang yang saya bagi, sehingga dosa korupsi atau uang tak halal tersebut dijauhkan dari saya dan keluarga. Menurut saya, kok ngga bedanya dengan pencucian uang? Kalau dosa ya dosa saja, bisa diampuni kalau saya mengakuinya dan tidak melakukannya lagi. Bukan menyuruh orang lain berdoa agar kita bisa tetap berdosa.

Lalu, haruskah berbagi? Menurut saya tetap harus. Kita sudah diberi anugrah yang lebih dari orang lain. Kita diperlihatkan banyak orang yang lebih kekurangan daripada kita. Maka kita harus membantu mereka. Bukan untuk diganti anugrahnya, tapi hanya untuk menyalurkan. Kita adalah keran Tuhan, tapi bak penampungan biarlah tetap jadi rahasia Tuhan, mau diisi atau tidak. Mau penuh atau kosong. Karena Tuhan memberi sesuai kehendakNya. Tuhan punya rencana, yang kita tidak tahu apa. Sehingga kalau suatu saat kita sudah banyak berbagi tetapi tidak ada pengembaliannya, jangan marah. Karena kita tidak pernah punya kuasa untuk mengatur Tuhan.

***

Advertisements