Arisan!

 

Grup arisan saya beda dengan yang ada di film ‘Arisan!’. Tidak ada pria atau gay, tidak ada konflik dan intrik, atau ajang pamer saat arisan. Semuanya wanita, berpenampilan sederhana, rela menempuh banjir untuk datang ke rumah tetangga yang menjadi tuan rumah. Kasihan ah, sudah mempersiapkan macam-macam jika yang datang sedikit.

Kenapa ya saya selalu berusaha tergabung dengan grup arisan yang ada?

1. Pergaulan

Maklum, saat tetangga sedang belanja di tukang sayur, saya sudah melesat ke kantor. Saat ibu-ibu bertemu untuk menyapu halaman di sore hari, saya belum pulang. Begitu pulang, saya berada di dalam rumah saja terus mengurus keluarga.

Arisan bagi saya sebagai ajang berkumpul, mengenal satu sama lain, mendapat informasi terbaru (tidak hanya gossip). Kesempatan juga bagi mereka untuk lebih mengenal saya, bahwa saya tidaklah se-anti pergaulan yang mungkin dikira orang. Buat apa sih beramah-ramah dengan tetangga? Karena mereka adalah keluarga terdekat, yang akan siap membantu jika kita mengalami kesulitan. Namun hal sebaliknya juga berlaku lho, harus siap membantu jika tetangga kesulitan.

2.  Fresh money

Kalau menabung di bank, baru di ujung hari kita dapat sejumlah uang yang diinginkan. Itupun kalau belum dipotong pajak dan biaya administrasi di sana – sini. Tapi kalau nama kita yang keluar di awal, anggap saja seperti cicilan 0%. Lumayan, dapat fresh money untuk bayar sekolah dan bayar makanan karena berikutnya kitalah yang menjadi tuan rumah. Besarannya tergantung dari jumlah orang yang ikut dan nilai yang harus disetor per orang. Kalau ingin lebih ‘terasa’, ya harus besar. Enaknya arisan dengan tetangga, kita sudah saling mengenal, bandar ditunjuk bersama, dan besaran nilai uang juga disepakati bersama.

3. Mencoba makanan baru

Namanya juga ibu-ibu, yang disajikan tidak boleh sama dengan yang terdahulu. Meskipun kita bilang kuenya enak, tanya belinya dimana, tetap kalau kita yang menajdi tuan rumah  tidak akan beli dari tempat yang sama.

Belum kalau tuan rumahnya rajin dan mau repot seperti Ibu saya. Beliau memasak sendiri sajiannya, demi memberikan yang terbaik bagi tamu-tamunya. Kalau saya sih pilihannya ada dua, pesan dari tempat makan terdekat, atau mendatangkan Ibu saya 🙂

Arisan kadang dipandang sebelah mata sebagai tempat gosip dan menghabiskan uang. Arisan yang mana dulu? Keputusan tetap di tangan kita kok, mau ikut yang mana dengan berbagai tujuannya.

***

Advertisements