Usaha 24 Jam, Menjamin Loyalitas Pelanggan

Teman seperti apa yang paling Anda ingat? Yang menemani dalam suka atau duka? Kalau saya memilih yang menemani dalam duka. Karena selain pasti teman saya mendadak jadi sedikit, jarang lho ada orang yang mau kecipratan dukanya orang lain. Jadi suatu saat nanti, kalau keadaan saya menjadi suka, maka teman inilah yang akan saya undang untuk merayakannya.

Demikian juga dengan usaha 24 jam. Usaha yang selalu ada di saat saya membutuhkannya secara darurat, dialah yang menjadi Top of Mind Awareness bagi saya jika suatu saat saya membutuhkan usaha yang sama, meskipun keadannya sudah tidak darurat. Saya tidak peduli akan harganya yang lebih mahal, pelayanannya yang malas-malasan (bayangkan melayani orang jam 12 malam!) atau barangnya yang tidak lengkap. Mungkin sebagian karena rasa terima kasih, yang menyebabkan saya menjadi pelanggan loyal.  Menurut Levy dan Weitz, dalam bukunya Retailing Management, loyalitas seorang pelanggan dapat dibangun dari perhatian secara personal, pengalaman positif dan komunikasi untuk pembangunan merk. Fokus artikel ini adalah pengalaman positif pada toko fisik, meskipun tentu saja hal ini tidak dapat dilepaskan dari perhatian kepada pelanggan dan program komunikasi.

Usaha 24 jam yang jamak kita temui adalah pom bensin, bank yang diwakili oleh ATM, dan apotek. Apotek 24 jam ini sangat membantu bagi mereka yang kesakitan di tengah malam dan harus mendapat penanganan. Mendadak apoteker pun dapat menjadi dokter dengan menyarankan obat apa yang harus dibeli dalam keadaan darurat tersebut.

Saat saya kuliah, usaha fotokopi, rental komputer dan warung internet menjadi tempat pelarian kami saat dikejar – kejar deadline tugas. Cirinya pengguna biasanya datang beramai – ramai, karena kami mengerjakan tugas kelompok. Lagian, ngga seru kalau ngga ramai 🙂  Tempat nongkrong kami lainnya adalah restoran cepat saji 24 jam. Belinya sih cuma minuman soda, tapi nongkrongnya bisa berjam-jam. Karena sekarang jadi ibu – ibu sih paling banter pesan lewat delivery 24 jam.

Saya juga pernah membaca di Kompas, usaha cuci dan perawatan mobil 24 jam mendapat sambutan yang baik dari pelanggan. Biasanya karena siang hari mereka sedang sibuk di kantor, rapat sampai malam hari atau malah dugem, yang membuat mereka tidak sempat untuk merawat mobil. Karena itu usaha ini memiliki pasarnya sendiri, dan yang menyenangkan menurut pengakuan para pelaku usaha, pelanggan mereka secara sadar atau tanpa sadar sering memberikan tips yang banyak. Yah…namanya saja baru pulang dugem :

Usaha lain yang diminati oleh pelaku usaha dan kriminal, adalah minimarket 24 jam. Sebenarnya usaha ini sangat bagus, karena bagi mereka yang pulang malam dan merasa lapar, atau membutuhkan perlengkapan mandi, mau isi pulsa atau lainnya, minimarket merupakan solusi yang selalu dicari. Misal saat kita sedang dinas dan barang tidak lengkap atau sekadar ingin mencicipi kopi panas, minimarketlah tujuan kita. Mungkin itu sebabnya banyak minimarket 24 jam menyediakan tempat nongkrong bagi anak malam. Sayangnya, pelaku kriminal juga melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan uang. Belum pernah melihat secara langsung sih, tapi kalau melihat CCTV dari penyerangan terhadap minimarket di Amerika Serikat, ceritanya kurang lebih sama.

Yang saya tentang adalah usaha game online 24 jam, karena tidak ada urgensinya dan cenderung banyak kerugiannya. Anak – anak usia belia mengorbankan waktu istirahatnya untuk bermain game terlalu lama, yang pasti akan merugikan kegiatan belajar, kesehatan mata dan pikiran.

Sementara yang rasanya belum ada di Indonesia, adalah tempat fitness 24 jam (contoh www.24hourfitness.com). Jadi mereka yang seharian terlalu sibuk bekerja, dapat memanfaatkan tempat fitness ini untuk menjaga kebugaran. Entah cocok atau tidak ya, karena kalau saya pulang malam mending pulang ke rumah dan tidur nyenyak, persiapan kerja esok hari.

Kurir 24 jam (contoh www.parcel2go.com) juga sangat dibutuhkan, karena transaksi online mengalami peningkatan. Dan seperti ciri penjualan online seperti di artikel ini, pelanggan menginginkan respon yang cepat dari penjual, termasuk masalah pengiriman. Tentu saja biaya yang diterapkan lebih mahal, karena resiko perjalanan yang lebih tinggi pada kota besar di Indonesia.

Yang terakhir, bagaimana kalau ada angkot 24 jam? Naik taksi mahal, kalau saja ada angkot yang beroperasi dan aman, biarpun harus menunggu lama tetap dijalani deh, demi penghematan 🙂

 

Advertisements