Mencegah Lupa dengan LUPA

 

Lupa yang saya derita makin parah. Saya lupa kalau seharusnya menjemput kakak, bukan malah ke sekolah adik. Saya lupa masih membawa anak saya dalam mobil, padahal saya sedang menuju kantor. Berpindah ruangan di rumah, yang hanya terdiri dari beberapa ruang saja, tidak lepas dari rasa heran ‘lo saya ke sini mau ngapain ya?’. Suami kadang protes ‘Kamu SELALU lupa dengan apa yang kukatakan!’. OK, kalau yang ini lebay. Dari ratusan kata-katanya, tidak sampai 10 yang saya lupa. Tapi penggunaan kata SELALU ini memang favoritnya 🙂
Di kantor sama saja. Saya pernah duduk sendirian di ruang rapat, heran kok belum ada yang datang. Ternyata saya salah ruang! Dengan terburu-buru saya menuju ruang rapat lain, yang untunglah masih sepi, karena ternyata saya juga salah jam! Saya juga lupa tadi parkir di mana, lupa mobil saya yang mana. Maklumlah, mobil sejuta umat, dengan warna yang sejuta umat juga. Tahunya karena sudah berkali-kali menekan alarm mobil, pintu tetap tidak bisa dibuka. Untung ngga disangka maling.
Tapi anehnya, untuk urusan mengajar saya tidak pernah lupa tentang materi yang saya bawakan. Selain dibantu dengan power point dan buku teks, saya selalu mempersiapkan diri seminggu sebelum ’show’. Ditambah rasa malu kalau sampai speechless di depan mahasiswa, jadilah saya konsentrasi penuh terhadap ‘penampilan’ saya.
Jadi, ternyata saya bisa memilih mana yang mau diingat dan mana yang (tidak) sengaja terlupa. Menurut Dr. Hermawan Suryadi, Sp.S untuk menanggulangi penyakit lupa`ini harus dilawan juga dengan LUPA, yaitu :
L (atihan)
Sepuluh tahun sudah saya mengajar, tapi tak henti-hentinya saya berlatih presentasi. Kenapa? Karena faktor jaim tadi (jaga image tidak boleh salah), juga tertantang kalau ada mahasiswa yang tidak perhatian terhadap materi ajar. Latihan berarti selalu melakukan aktivitas, terutama yang melibatkan otak, entah itu menulis, melukis, menyanyi, menari, atau aktivitas lain misalnya menghafal nomor telepon teman. Dengan beraktivitas, organ-organ tubuh terutama otak tetap terasah dan terjaga staminanya.
U (langan).
Saya selalu membaca ulang dulu handout yang ada, meskipun berulang kali saya telah mengajarkannya. Kalau ada yang lupa, saatnya membuka text book atau mencari sumber lain. Intinya, seringlah mengulang-ulang apa yang hendak diingat atau dihafal. Langkah ini membantu memudahkan ingatan dalam memperhatikan hal-hal yang penting. Misalnya sejak pagi saya harus menghafal urutan kegiatan saya hari ini apa, agar tidak lupa.
P (erhatian).
Kebiasaan buruk saya, melewatkan jam dan tempat rapat. Hanya menghafalkan hari dan topik saja. Rasanya saya mesti menambah poin yang harus diperhatikan yaitu waktu dan ruang rapat. Seperti saya perhatian kapan jadwal mengajar dan materi yang harus diajarkan. Konsentrasi pada hal-hal
tertentu yang menjadi perhatian memudahkan kita dalam mengingat sesuatu.
A (sosiasi).
Ini teknik mengkait-kaitkan segala sesuatu yang berhubungan dengan yang hendak kita ingat. Gunakan hal-hal yang menyenangkan atau mengesankan untuk mengingat sesuatu. Teknik ini biasa disebut `jembatan keledai. Misal saya ingin mengingat plat mobil dengan nomor 5758, maka yang saya hafalkan adalah (li)MA(tu)JU(h)(li)MA(dela)PAN. Atau mengingat letak parkir dihubungkan dengan hari. Hari Kamis ini saya parkir di belaKang, saat saya parkir di depan saya teringat hari ini adalah hari senin (jumlah hurufnya sama).
Seorang teman menyarankan agar daftar kegiatan saya catat di handphone. Didn’t work for me, karena saya malah lupa handphonenya!

***
Referensi:
http://a0z0ra.blogspot.com/2004/04/pertajam-daya-ingat-anda.html

Advertisements