Amnesia  

 

Bruk!

Badanku menjorok ke setir.

Waduh, ditabrak!

Dari kaca spion tengah aku melihat ke belakang. Sedan hitam. Kaca gelap. Kelihatannya dari pertigaan tadi dia hendak berbelok masuk ke jalurku. Tapi di depan ada lampu merah dan semua kendaraan berhenti. Entah apa yang dia lakukan hingga telat mengerem seperti ini. Untung saja kendaraan di depanku tidak ikut tertabrak, karena jarakku dengannya cukup besar.

Haduh, urusan ngga ya?

Paling malas kalau sudah begini. Buat perempuan, ditabrak di jalan itu simalakama. Kita turun dimaki-maki, kalau tidak turun, mobil bonyok, siapa yang ganti?

Bocah tukang koran menunjuk-nunjuk bagian belakang mobilku. Kalau sampai dia lihat, berarti cukup parah kerusakannya.

Lampu berganti hijau. Kendaraan pelan-pelan beringsut di sisi kiri dan depanku. Rencanaku berbelok ke kanan, kemudian menepi di sisi jalan, untuk melihat seberapa parah kerusakan.

Kulihat dari kaca spion, si sedan hitam juga menyalakan lampu seinnya, mengikuti arahku.

OK, mungkin ini saatnya. Memperjuangkan hakku. Entah ia akan memaki atau mengancamku, urusan nanti. Yang penting tampang sangar, dan siap menggertak balik kalau dia macam-macam.

Setelah menutup pintu mobil, aku bergegas ke belakang. Sisi kanan belakang penyok. Mungkin harus ke ketok magic untuk perbaikan.

‘Kamu ngga apa?’

Aku mendelik ke arah suara. Menyesal di detik berikutnya. Pengemudi sedan hitam adalah seorang pemuda, yang kalau tidak disebut tampan entah apa istilahnya. Bercelana selutut dengan kaus polos berwarna abu-abu, penampilannya nampak sangat casual bagiku.

‘Maaf tadi tak sengaja menabrakmu,’ katanya sambil melepas kacamata hitamnya. Matanya yang ramah menatapku. ‘Aku harap kamu tak apa,’ ulangnya lagi.

Dan tinggallah aku bengong menghadapinya. Lupa dengan semua strategi yang sudah kurancang.

‘Mobilmu penyok ya,’ katanya lagi sambil memeriksa bagian belakang. Aku tersadar. ‘Uhm…iya…harus…ke bengkel.’ Mulai waspada jangan-jangan ini hanya caranya untuk memperdaya agar aku lupa.

‘Aku punya bengkel langganan,’ katanya sambil membuka dompetnya. ‘Ini alamatnya. Ke sana saja. Bilang, nanti Tony yang bayar.’ Diserahkannya satu kartu nama padaku.

Aku melihat kartu nama itu. Tapi terus terang aku tak paham rangkaian hurufnya. Tony? Jadi itu namanya…

‘Kau kuliah?’ tebaknya sambil memandangku dengan penuh perhatian. Aku kembali tergagap. ‘Ehm…iya…’ jawabku mulai berani memandangnya.

‘Selama mobil di bengkel, kau kuantar jemput saja,’ katanya santai.

Hah?

‘Nomormu?’ katanya sambil mengusap layar ponselnya.

‘Euh…nol delapan satu…’ kataku pelan sambil berusaha mengingat, berapa ya nomor ponselku? Mendadak amnesia melandaku!

 

pinterest.com

pinterest.com


***

IndriHapsari

Advertisements