House Of Sampoerna, Wisata Sejarah di Surabaya

 

Kalau ngebandingin kemudahan akses wisata di Indonesia sama luar negeri yang lebih beradab, hmm…mending jangan dibandingin kalau ngga mau ngenes sendiri. Wisata di Indonesia itu sama saja harus nyewa kendaraan pribadi, karena transportasi umumnya merata minimnya, telatnya, bobroknya dan kotornya di seluruh lini. Tercatat yang paling baik ya pesawat sama kereta api. Tapi itu sih ngga mengantar kita ke tujuan, hanya ke kota tujuan, atau daerah terdekat.

 

Belum lagi masalah keamanan. Ah entah ya, bilangnya bangsa kita ramah, tapi di jalan ada yang dipalak. Pemalakan ngga berhenti sampai situ saja, di tempat wisata, sepulang dari tempat wisata, rumah makan, semua dihiasi wajah-wajah tak ramah, atau wajah ramah yang ada maunya. Pokonya bawaannya curigaaa aja, sama biaya tak terduga atau maksud terselubung di dalamnya.

 

Padahal potensi wisata Indonesia ini banyak, keren-keren, unik, dan ngga kalah dengan negara lain. Setiap ke luar, pasti bawaannya getun kalo orang Jawa bilang. ‘Yah, yang beginian sih di Indo lebih bagus.’ Beneran. Mau wisata belanja, pegunungan, pantai, religi, kuliner, name it. Semua bisa dijual, kalau bisa mengemasnya. Dan salah satu yang penting ya soal transportasi dan keamanan tadi.

 

Surabaya sebagai kota yang selalu berbenah, menyadari akan potensi tersebut. Pemerintah Kota di bawah pimpinan Ibu Risma, berusaha memoles tempat – tempat publik terutama, agar masyarakat dapat mengaksesnya, gratis. Sepanjang yang saya tahu, taman-taman kota, perpustakaan, dan penataan pasar menjadi bukti apa yang dilakukan Pemkot selama ini. Keamanan di Surabaya lumayan, kejahatan tetap ada, tapi dilakukan tersembunyi. Kini yang kita tunggu adalah wujud transportasi massal berupa Suro Train Boyo Rail.

 

Pihak swasta jarang yang mau ikut berperan dalam hal pariwisata. Andaipun sebagai wujud Corporate Social Responsibility program, mereka lebih memilih bidang lainnya seperti pemberdayaan masyarakat, pemberian bantuan, pendidikan atau kesehatan. Untuk wisata biasanya dilakukan oleh perusahaan yang memang berada di daerah wisata, atau bergerak dalam bidang pariwisata, di Bali contohnya.

 

Maka ketika keluarga Sampoerna memutuskan untuk membuka museum rokok di Surabaya sebagai salah satu obyek wisata, keputusan yang tidak popular ini sempat mengherankan saya. Surabaya selama ini dikenal sebagai kota perdagangan dan kota industri, lalu apa bisa sebuah museum menjadi target wisata turis? Terlebih lagi terkait kebiasaan orang Indonesia yang tidak biasa jalan-jalan ke museum. Museum bagi kita, dan memang begitu kenyataannya, adalah tempat menyimpan benda-benda tua yang tidak menarik, kusam, menyedihkan, seakan waktu berhenti di masa lampau.

 

Namun ternyata Sampoerna menunjukkan keseriusannya untuk memulai dan menjaga apa yang telah perusahaan ini canangkan sejak awal. Berkesempatan tiga kali mendatangi museum ini, akhirnya saya bisa mengacungkan jempol pada salah satu icon wisata di Surabaya ini.

Screen Shot 2014-05-27 at 7.17.41 PM

Bertempat di belakang penjara legendaris Kalisosok yang dibangun tahun 1850-an, Museum House Of Sampoerna (HOS) menempati bangunan pabrik pertama sebelum pindah ke daerah Rungkut, yang lebih awal lagi merupakan gedung bioskop. Museumnya kecil saja, terdiri dari dua lantai, tapi bagus dan terawat. Begitu masuk kita disambut oleh petugas yang masih muda-muda, yang bersedia menjelaskan pada kita sejarah masing-masing benda. Mereka juga siap menjelaskannya pada turis asing, dengan bahasa Inggris yang baik dan pembawaannya ramah. Jadi pengunjung ngga dilepas begitu saja melihat foto-foto lama, benda antik, komputer layar sentuh, dan peralatan drum band Sampoerna yang mewakili Indonesia di Amerika Serikat.

museum

Menyadari kebiasaan orang Indonesia yang suka foto-foto, ada warung rokok lengkap dengan barang dagangannya yang menjadi obyek foto mereka yang ingin berpose sebagai penjual rokok. Pada lantai dua terdapat toko souvenir tempat kita membeli beragam kaos, gantungan kunci, mug, batik dan lainnya. Dari lantai yang sama kita dapat melihat lantai satu bagian pabrik, tempat kita melihat wanita-wanita perkasa Indonesia melinting rokok kretek, dengan kecepatan tinggi. Untuk melihat proses ini waktunya sampai jam 13.00 setiap harinya. Museum sendiri buka jam 9 pagi.

warung

Meskipun kecil, wisata di HOS tidak berhenti sampai di situ saja. Di sisi kiri museum terdapat rumah pribadi yang terlarang bagi kita untuk masuk, namun terdapat dua mobil antik yang bisa jadi sasaran foto. Halamannyapun luas, dan ada beberapa satpam yang siap mengarahkan kendaraan yang akan parkir maupun memberikan keterangan dengan ramah. Halaman yang luas dan tertata rapi ini, menjadi obyek sasaran para calon pengantin untuk melakukan sesi pemotretan pre wedding.

 

Di sisi sebelah kanan, terdapat Café At HOS yang menempati bangunan hampir sama dengan bangunan museum, unik. Bersuasana temaram, pramusajinya kebanyakan cowok. Dulu saya pernah punya mahasiswa kerja part time disana, jadi pramusajinya ya terkesan prof gitu, bisa berbahasa Inggris, berpendidikan baik, dan sopan.

 

Waktu saya kesana hanya pesan minuman saja. Minuman dengan harga medium ini unik dan enak. Sepertinya makanan juga enak karena banyak yang menyempatkan diri datang untuk santap siang di sini, termasuk beberapa turis asing. Ruangannya terbagi tiga, yang di tengah sepertinya untuk perokok. Ada beberapa remaja sedang nongkrong dengan laptopnya masing-masing, sepertinya fakir wifi 😀

cafe

Di kompleks ini juga ada art gallery, yang saat saya ke sana sedang mengadakan pameran salah satu seniman. Berhubung rasa saya kurang terasah, setelah menyerah dengan berusaha memahami apa maksud lukisan surealis atau abstrak itu, akhirnya saya keluar juga. Art gallerynya sendiri kecil, berlantai dua, tapi nyaman dan dingin. Di HOS sih sampai toiletpun bercita rasa seni. Dindingnya adalah kemasan rokok yang berasal dari lempengan aluminium, bersih dan semua bisa berfungsi dengan baik. Di beberapa titik ada air mancur dan kolam ikan, semua jernih. Dan di tengah halaman, ada bis Surabaya Heritage Track berwarna merah.

bis

Sepintas jadi ingat bus Hop On Hop Off yang pernah saya ceritakan di sini. Tapi bis ini kecil saja, berpendingin udara, dan berkaca gelap. Kayanya adeem gitu di dalamnya. Bis ini yang akan mengantarkan para pengunjung berkeliling Surabaya setiap harinya. Ada jadwal weekday dan weekend, setiap hari jalan 3 kali. Masing-masing trip memuat 20 orang, sehingga sudah tahu dong, pasti banyak peminatnya. Sehingga cara paling pas adalah mengirim email ke hos.surabaya@sampoerna.com atau telepon ke 031-3539000 dan jangan khawatir, mereka rajin kok check emailnya. Pilih mau kesana tanggal dan jam berapa, lalu nantikan balasan dari mereka. Oya untuk lihat rutenya bisa cek disini : http://houseofsampoerna.museum/e_sht_main.htm. Kalau mau datang langsung bisa, mereka buka untuk 10 orang per tripnya. Mulai ngantri jam 8.30 untuk daftar dan mendapatkan tiketnya. Sementara jadwal tripnya jam 9, jam 13, dan jam 15.

 

Memasuki bisnya, beneran deh bagus. Ngga kalah bersih dan nyaman seperti di luar. Lalu sepanjang perjalanan ada pemandunya, menjelaskan bangunan dan jalan yang kita lewati, beserta tahun dan peristiwa penting yang terjadi. Dari situ baru saya tahu, Surabaya itu keren! Banyak bangunan tua masih ada meski kondisinya ngga terawat, tapi masih tegak berdiri. Lalu membayangkan Surabaya pada jaman itu, pasti ngiri deh. Ada transportasi sungai melalui Kali Mas, dengan sisi kiri dan kanan itu dermaga. Beneran! Tanpa pagar pembatas, kapal-kapal berlabuh di sepanjang sungai. Lalu Surabaya juga punya jembatan pethekan, atau jembatan angkat macam Tower Bridge di London. Ya di Kali Mas itu juga. Lalu ada lorong rahasia yang menghubungkan Penjara Kalisosok di Kantor Polisi (sekarang Polwiltabes) dan ke gedung lainnya (sekarang Gedung Pertamina). Huaaa…kalau bayangin jaman itu kayanya seru ya!

 

Trip yang saya jalani ke Klenteng Hong An Kiong dan Escompto Bank. Kami berhenti di kedua tempat ini, pemandunya juga ikut turun dan menjelaskan sejarah kedua tempat ini. Wah kalau ngga ikut tour ini, mana tahu saya kalau ada klenteng tahun 1800an ada di sini, atau kisah Belanda yang membedakan area untuk orang Cina, Arab, pribumi dan Belanda. Atau ada museum bank nyelip di jalanan Kembang Jepun. Baru tahu juga Kembang Jepun artinya perempuan Jepang, atau dulu menjadi red district area di Surabaya. Wow! @_@

museum

Total sekitar 1,5 jam kita keliling sebelum diantarkan kembali ke HOS. Dan tebak deh, untuk museum dan tur yang dikelola professional itu, kita sama sekali ngga dikenakan biaya! Padahal kalau sudah tahu sebagus ini, membayarpun aku rela *Dodit mode on* Tapi nampaknya sudah menjadi persembahan keluarga Sampoerna, untuk melestarikan sejarahnya, sekaligus menyumbangkan destination point bagi kota Surabaya.

 

Yang saya bayangkan adalah, kalau saja ada travel agent yang menyediakan trayek macam begini, atau perusahaan swasta yang berpikiran sama untuk memajukan sektor pariwisata, pasti asyik ya. Masyarakat jadi punya alternatif wisata yang bermuatan pendidikan, sedangkan Surabaya sendiri jadi makin lengkap sebagai kota yang nyaman. Sejak berkesempatan mengunjungi Melbourne yang bolak balik dinobatkan sebagai kota terbaik di dunia, saya menyimpulkan kota itu harus nyaman ditinggali baik untuk penduduk maupun turis, aman, bersih, transportasi tidak sulit, punya fasilitas publik yang bagus. Dan tujuan wisata menjadi salah satu fasilitas yang dapat dibanggakan.

 

***

IndriHapsari

Advertisements