Wisata Palembang, Kemana Saja?

Penerbangan dari Surabaya direct saja, butuh waktu 1,5 jam sampai Palembang. Baguslah, karena waktu ke Padang kapan hari, mesti transit Jakarta dulu, check in lagi, trus pas naik pesawat, lah ini kan pesawat yang tadi šŸ˜› Untunglah kabut asap sudah mereda, jadi lancar dan cerah langitnya. Pas mau mendarat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, terlihat hamparan perkebunan sawit yang teratur dan tertata.

Palembang memang terkenal sebagai penghasil karet dan sawit, hasilnya dipakai untuk domestik dan diekspor. Hasil ngobrol dengan sopir taksi tentang ‘sawit itu yang diambil apanya’ dia menjelaskan yang diambil buahnya. Makin lama pohonnya makin tinggi, batangnya makin kosong, maka itulah saat pohon sawit harus diremajakan. Kabut asap tempo hari katanya terjadi karena lahan gambut yang sulit dipadamkan apinya, lalu menghilang karena Palembang sudah sering hujan.

Kalau melihat sepintas kotanya cukup datar meski ada turunan tanjakan di beberapa bagian. Jalannya lebar-lebar, lalu lintas ramai. Pada hari berikutnya saya mulai menyusuri jalan-jalan kecil, lalu blusukan dan macet-macetan dengan angkot yang melewati pasar. Sangat ramai dan yang pasti cepetan jalan kaki. Sayang trotoarnya kurang terawat, cukup kecil padahal harus berbagi dengan pohon dan PKL yang ikutan nongkrong.

Terkenal dengan sebutan kota sungai, masyarakatnya cukup beragam. Kalau lihat dari caranya bersikap, seperti orang Jawa Timur yang blak-blakan. Kalau lihat dari tariannya, cara bicaranya, rasa makanan tertentu, lebih mirip Jawa Tengah yang halus, lembut dan suka yang manis-manis. Nah kalau lihat orangnya, putih-putih seperti orang Jawa Barat šŸ˜€ Sayangnya, selama saya berada disini yang cuma sebentar banget itu, sudah banyak kasus penjambretan yang terdengar yang mengakibatkan korbannya kehilangan harta benda, bahkan harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit saking parahnya. Nasehat yang selalu saya terima adalah tasnya dijaga dengan hati-hati. Paling aman memang ngga usah pake tas aja atau pakai secret body bag yang ditutupi baju luar.

Jalan-jalan di Palembang ada banyak pilihan transportasi. Angkot dibedakan sesuai warna, cukup nyaman untuk dinaiki. Bisa masuk 10 orang, dengan 3 pintu jadi ngga saling melewati. Angkot cukup banyak dan beroperasi sampai malam. Lalu ada bis Trans Musi. Bisnya kecil saja, bahkan lebih kecil dari yang di Solo yang saya anggap sudah paling kecil. Bisnya lumayan sih, kursinya cuma sedikit dan saling menyamping. Ada juga bis kota yang muatnya dikit juga dan kondisinya ngga bagus. Lalu ada becak motor, becak biasa, taxi biru beragro (IYKWIM :D) dan Gojek yang baru masuk Palembang.

image

Wisata dalam kota Palembang

Wisata dalam kota Palembang bisa mengunjungi Mesjid Agung, lalu depnnya ada tugu air mancur yang pasti bagus kalau dinyalakan. Lalu ada Monumen Ampera lengkap dengan museumnya. Ngga jauh dari sana ada lahan luas di tepi sungai Musi, tempat orang-orang jualan dan melihat aktivitas lalu lalang kapal besar. Dari kejauhan terlihat Jembatan Ampera yang megah menjulang meski ngga bisa menyembunyikan ketuaannya. Lalu lintas di atas jembatan dan bawah jembatan rame juga. Di atas segala jenis kendaraan melintasi jembatan, termasuk pejalan kaki yang disediakan jalurnya. Lalu di bawah kapal tongkang segede gaban melintas juga, nampaknya bawa pasir atau batubara. Biasanya kapal ini ditarik dan diikuti dua kapal kecil lainnya. Lalu kapal biasa dengan motor, melewati eceng gondok yang ikut terbawa arus. Secara umum airnya yang kecoklatan cukup bersih, dan mestinya bisa dimanfaatkan juga untuk turisme seperti di Thailand.

Semakin malam sisi sungai Musi ini makin ramai. Syukurlah cukup teratur dan aman. Selain penjual, ada performa dari musisi Palembang juga. Dari kejauhan terlihat tulisan Benteng Kuto Besar bersinar terang.

Itu cerita melihat Jembatan Ampera dari jauh ya, kalau mau melihat dari bawah, bisa juga. Sewa saja kapal motor yang banyak di sana, sekalian ke Pulau Kemarau atau Kemaro kalau orang Palembang bilang. Dermaganya ada beberapa jadi bisa milih, paling nyaman yang satu bangunan sama J-Co tapi biasanya untuk kapal besar.

image

Musi Tour - Palembang

Pulau Kemaro sendiri bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan naik kapal atau sebut saja Musi Tour. Melintasi jembatan Ampera, banyak pemandangan yang bisa dilihat. Dari kejauhan terlihat menara Masjid Agung, Pasar Ilir, kapal-kapal yang bersandar, aktivitas pelabuhan yang memindahkan kargo-kargo besar, dan pabrik pupuk Sriwijaya atau Pusri. Karena kapal yang saya tumpangi besar, maka mesti dijemput kapal kecilan supaya bisa merapat.

image

Pulau Kemaro - Palembang

Pulau Kemaro sendiri isinya tempat persembahyangan orang Cina, yang dibuka untuk umum. Ada tiga titik wisata yaitu kompleks persembahyangannya, pagoda naga dan patung Budha. Katanya sih ada juga pohon cinta, yang mencoret-coret bakal jadian selamanya. Isu yang menyesatkan kan, kasian pohonnya šŸ˜¦ Akhirnya pohonnya dipagari, dan nyoret-nyoretnya jadi di pagar. Legenda lainnya bisa dibaca di foto ini.

image

Legenda Pulau Kemaro

Pengrajin di Palembang ada banyak, tapi yang mengemasnya jadi wisata kayanya ngga banyak. Zainal Songket yang saya kunjungi bisa menyatukannya. Rumah panggung yang merupakan rumah adat Palembang menjelma menjadi museum songket. Seantero rumah dibuat dari kayu yang masih bertahan hingga sekarang. Banyak barang-barang jaman dulu, sayang display dan informasinya masih sangat sederhana. Lalu di rumah yang sama ada toko songket, terdiri dari dua lantai.  Lantai bawah menjual songket yang mahal karena kualitas bahan dan proses pengerjaannya yang rumit, di bagian atas ada songket yang gradenya lebih rendah, aneka batik palembang dan souvenir lainnya. Bagian bawah rumah panggung adalah area workshop, tempat para pengrajin mengerjakan kainnya. Sehari cuma dapat 2,5 cm lo, dan perlu waktu 3 bulan bagi 2 orang pengrajin menyelesaikan satu set bawahan dan selendang. Songket asli Palembang memang mahal, tapi kalau bayangin yang buatnya, bahannya, lamanya…brrr…ini memang bukan urusan harga lagi. Tapi urusan membantu pengrajin lokal, melestarikan budaya, dan nasionalisme.

image

Pengrajin Songket Palembang

***
IndriHapsari

Advertisements