Waktunya Berinvestasi Pada Kekekalan

Apa yang kita cari di dunia ini, semua bisa dijelaskan dengan mudah. Cara mencapainya pun semua orang telah mengetahuinya. Ingin terkenal? Beranilah berbeda. Ingin kaya? Teruslah berusaha. Ingin bahagia? Tunggu dulu. Jika yang diinginkan adalah bahagia di dunia, kita tinggal melihat ke diri masing-masing. Saya bahagia bila mendapat suami kaya. Saya bahagia bila saya bisa menjadi bos. Ya, kita bisa bahagia karena berbagai hal. Tapi bagaimana jika yang saya inginkan adalah bahagia di akhirat?

Bagi orang yang percaya Tuhan, ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Berbeda dengan mudahnya menjelaskan kebahagiaan semu yang ada di dunia, mencapai kebahagiaan kekal di akhirat sangatlah sulit untuk memahaminya, apalagi untuk mencapainya. Namun hari ini saya membaca sebuah ayat yang bisa menjadi panduan saya dalam mencapainya, berasal dari Surat Petrus yang Kedua, pasal 1, ayat 5 hingga 7.

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”

Jadi yang pertama adalah iman, yang merupakan ketetapan hati dan percaya segala sesuatu ada yang mengatur. Jika masih terdapat penyangkalan terhadap hal ini, sebaiknya tidak perlu melanjutkan ke panduan berikutnya, karena tanpa iman, kehidupan hanyalah musnah di dunia, tidak ada kekekalan.

Setelah iman, berikutnya adalah kebajikan atau kebijaksanaan. Kebijaksanaan berbeda dengan kepintaran. Itu sebabnya kita sering dengar istilah ‘pinter kok keblinger’. Berarti orang tersebut tidak dapat mempergunakan kepintarannya untuk hal-hal yang positif. Seharusnya kepintaran harus dibangun di atas kebajikan, agar kita tahu akan digunakan untuk apa kepintaran tersebut.

Dan memang bicara tentang kebajikan, tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan. Kita tahu apa yang baik, dan harus berusaha untuk mencapainya. Caranya adalah dengan meningkatkan pengetahuan. Misalnya kita tahu energi alternatif itu penting, kita akan belajar untuk menciptakan energi terbarukan.

Jika telah mencapai tingkat berpengetahuan yang tinggi, berikutnya adalah pengendalian diri. Seperti pepatah ’semakin berisi semakin merunduk’. Hendaknya seseorang yang menyadari dirinya sudah yang ‘ter-’, dia akan semakin rendah hati, dan berusaha untuk tidak mudah berbangga hati atas semua prestasi yang telah diraihnya. Lebih gawat lagi bila dia tergoda untuk melakukan hal-hal tertentu untuk kepentingan pribadi, bukan masyarakat. Misal kita menemukan formula untuk bom atom. Karena ditawari sejumlah besar uang, kita jual formula tersebut ke pihak yang akan mempergunakannya untuk mengancam pihak lain.

Ketekunan diperlukan untuk menjaga pengetahuan tetap berkembang, tidak berhenti pada titik tertentu. Jangan berhenti belajar, apapun pencapaian yang telah kita taklukan. Lakukan segala sesuatu dengan perbaikan, selalu lebih baik.

Kesalehan merupakan tahap berikutnya. Selalu menjalankan perintah Tuhan. Hal ini akan menjaga kita tetap berada di jalurnya, tidak melenceng ke jalur lain, apalagi membuat jalur sendiri. Kita berusaha menyeimbangkan semua pencapaian di dunia, dengan tetap melaksanakan perintah Tuhan.

Kasih terhadap saudara merupakan keluaran dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Kita punya kemampuan dan kemauan untuk memberikan hal yang positif, selanjutnya kita berusaha empati dengan saudara-saudara kita. Siapakah yang disebut saudara di sini? Saudara adalah mereka yang melakukan kehendak Tuhan. Tentu saja sebelum melakukan, mereka harus mengenalNya dan memahami kehendakNya.

Yang terakhir adalah kasih terhadap semua orang. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Ibu Teresa. Beliau meninggalkan kehidupannya yang nyaman di Irlandia, dan menolong orang miskin dan berpenyakit di India. Mereka tidak mengenalNya, Tuhan yang dipercaya oleh Ibu Teresa. Tetapi Ibu Teresa tidak mempersoalkan hal itu. Kasihnya membuatnya tegar menghadapi semua kesulitan, mengulurkan tangan tanpa mempermasalahkan kepercayaan, tanpa mengharapkan balasan.

Kekekalan tercapai bukanlah karena hubungan tunggal kita dengan Sang Pencipta. Tapi bagaimana kita mempergunakan semua anugrahnya demi kasih terhadap sesama.

 

Advertisements