Suatu Hari di MRT

mrt

Pintu MRT membuka. Aku dan Mia bergegas masuk. Sibuk dengan setumpuk buku dan ransel di bahu, akhirnya kami dapat giliran masuk juga setelah penumpang di dalam bergegas keluar. Huf, semua bangku telah terisi. Kalau begitu terpaksa berdiri.

Wah, ada Xian!

Pria jangkung itu santai saja menggantungkan satu tangannya ke pegangan tangan di atas kepalanya, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel layar lebarnya. Kedua telinganya tertutupi earphone, sementara matanya tak lepas menatap layar ponsel. Mungkin ia sedang memutar video musik kesayangannya.

Tanpa menunggu Mia, kuhampiri Xian. Kujulurkan tanganku menutupi layar ponselnya, hingga ia terpaksa mengangkat mukanya, ingin tahu siapa yang dengan sengaja mengganggu acara nontonnya. Lalu dalam sekejap cengiran lebar nampak dari wajahnya yang tampan.

‘Ah…Lisa! Dari kampus?’ katanya sambil melirik buku-bukuku.

Aku mengangguk. ‘Kamu?’

Tidak menjawab, karena ia sibuk melepas earphone, menyimpan ponselnya di ranselnya, dan kemudian mengambil alih buku-bukuku. Tangan kami bersentuhan.

‘Eh…’ kataku ragu.

‘Ngga apa. Sini,’ katanya setengah memaksa. Akhirnya daripada tarik menarik buku, kuserahkan buku itu padanya. Dasar raksasa, dengan mudah ia memegang semua buku itu dengan satu tangan.

‘Tadi mau ketemu Prof. Liem,’ katanya menjelaskan. Kini aku sibuk menggapai pegangan yang terlampau tinggi buatku. ‘Tapi ngga ketemu,’ sambungnya lagi.

Belum berhasil menggapai pegangan, MRT sudah berhenti lagi. Meninggalkan satu gaya tolak pada tubuhku, menyebabkanku kehilangan keseimbangan. Xian berhasil menangkapku.

‘Owh …eh…thank you,’ kataku malu sambil menarik diri dari dekapannya. Ia tersenyum.

‘Ngga apa,’ dan kembali tangannya menggapai pegangan.

‘Prof. Liem aku dengar dari Mia lagi di luar negeri, Xian. Korea sepertinya. Ia menjadi pembicara di sana,’ kataku menjelaskan. Ia mengangguk. ‘Iya sih, Prof. Liem pernah bilang. Tapi aku tidak sangka waktunya sekarang. Bisa molor nih jadwal oral defenceku,’ katanya tenang.

‘Wah, sudah mau selesai ya? Padahal engineering itu susah lo!’ seruku kagum.

‘Ah, akupun ngga bisa menggambar sketsa sebagus kamu,’ katanya merendah.

Aku tertawa. ‘Sekarang kau mau pulang?’ tanyaku ingin tahu.

Ia mengangguk. ‘Ngga ada lagi yang ditunggu. Lebih baik aku pulang saja, beres-beres kamar. Rajiv sudah pindah, aku perlu bereskan untuk calon penghuni berikutnya.’

‘Perlu dibantu, Xian?’ tanyaku cepat. Terasa jantung ini berdetak lebih keras.

Ia tersenyum. ‘Tugasmu sudah banyak. Jangan tambahi dengan bersih-bersih kamar cowok yang tidak bersih-bersih amat ini,’ katanya sambil tertawa.

‘Ngga apa kok, Xian. Tugasku sudah selesai kukerjakan kok,’ tapi bukan tugas yang terbaru, kataku dalam hati. Mencoba mengampuni diri sendiri yang telah berani berbohong.

Ia menatapku lembut. ‘Aku percaya kok. Sejak Mia memperkenalkanmu, aku sudah merasa kau pasti jadi mahasiswi Art and Science yang paling rajin,’ katanya sambil tertawa.

Aku tersipu. ‘Jadi…boleh?’ kataku memaksa.

Dan MRT berhenti lagi. Xian menatap layar yang menayangkan nama stasiun saat ini.

‘Wah, ini sudah stasiunku. Aku harus turun. Sampai ketemu lagi, Lisa!’ katanya sambil tersenyum. Lesung pipit terlihat samar dari kedua pipinya.

Aku tertegun tak mampu berkata-kata. Dalam sekejap tubuhnya sudah menghilang ditelan massa.

‘Psst! Lisa! Sini!’ bisik sebuah suara. Aku menoleh. Mia sudah menyediakan tempat duduk bagiku. Segera aku menghampirinya.

‘Cia ciaaa…yang lagi jatuh cintaaa…’ katanya sambil tertawa-tawa.

Pipiku memanas. ‘Iiih Mia..ngaco! Emang ngga pernah ya kamu lihat aku ngobrol dengan pria? Kamu mesti banyak bergaul sama teman-temanku, Mia!’ kataku sambil merengut. Cemas jika Mia mendengar degup jantungku.

‘Hahaha…ngga mungkin laaah. Sama mereka kau kan biasa aja ngobrolnya. Ngga pakai tatap-tatapan, pegang-pegangan..dan….tahu ngga? Sejak tadi kalian jadi tontonan penumpang di sekitar sini,’ katanya gembira.

Aku tercekat. Hah? Penumpang disini? Dengan sembunyi-sembunyi aku melirik penumpang yang mulai jarang ini. Seorang bapak yang sedang membuka koran, sepertinya sempat satu dua kali melirikku. Lalu wanita yang memegang ponselnya, kini berpura-pura tidur meski matanya masih berkedip-kedip.

‘Apa anehnya sih, kita ngobrol biasa kok…’ kataku berkilah.

‘Ngobrolnya sih biasa…tapi hilang fokusnya luar biasa. Tahu ngga, sebenarnya sudah tiga stasiun kursi-kursi penumpang ini telah kosong. Tapi kamu dan Xian, saking konsentrasinya, sampai tidak melihat sudah tidak ada perlunya untuk berdiri. Apalagi sampai berhimpitan seperti itu. Ngga ada penumpang yang mendesak kalian kok!’

Mukaku bertambah panas. Astaga! Puas pasti si Mia nanti mengerjaiku di depan teman-teman satu flat.

‘Tapi emang si Xian itu ganteng ya,’ sambung Mia menyebalkan. ‘Pantas lah, bila ada yang sampai lupa daratan!’ Ia tertawa terbahak-bahak menghindari cubitanku.

‘Ntar Lisa, serius nih. Benar mau sama Xian ngga?’ tanyanya usil.

Aku tergagap. Lalu menyadari sepertinya aku tak bisa lari lagi, aku mengangguk lemah. ‘Tapi nampaknya tak ada kesempatan lagi. Ia sendiri…mungkin tak seberapa tertarik denganku.’

‘Kata siapa,’ cibir Mia. ‘Melihatnya menatapmu, membuatku menebak ia pasti tertarik padamu. Sepertinya, Xian baik kok Lisa, teman-temanku juga bilang begitu,’ kata Mia menyemangati.

Aku mengedikkan bahu. ‘Ya kalau sudah gitu, terus gimana. Kebetulan kan hanya datang satu kali,’ meski aku berharap, kelak akan bertemu tak sengaja lagi seperti ini.

Mia tersenyum. ‘Jangan cepat menyerah dong, say. Selalu ada jalan. Misal…kau tahu dimana bukumu berada?’

Aku menatap kedua tanganku yang kosong.

‘Astaga, terbawa!’ kataku setengah berteriak.

‘Nah kan…saking terpesonanya tuh!’ kata Mia mantap. ‘Kita jemput sekarang, atau nanti? Aku tahu di gedung apa Xian tinggal.’

‘Sekarang!’ kataku tegas sambil berdiri. Bersiap turun di stasiun berikutnya.

‘Deee…yang udah kangen!’ celetuk Mia menggoda.

‘Ngga kok,’ kataku malu, ‘aku perlu buku itu untuk kerja tugas besok.’ Mia tersenyum penuh arti.

Semoga aku ngga dapat mug, karena telah berbohong tiga kali.

***
IndriHapsari

Advertisements