Film 9 Summers 10 Autumn, What Should I Say?

Saya memang malas nonton film Indonesia di bioskop. Bukannya nyombong, tapi daripada pulang ngamuk-ngamuk, mending mana hayo? Terakhir nonton film Indonesia di bioskop adalah Ada Apa Dengan Cinta, yang sooo yesterday. Itupun setelah yakin ni film emang worth it untuk dibayar dan ditonton.

20140414-200055.jpg

Kalau akhirnya saya nonton 9 Summers 10 Autumn, pasti karena gratisan. Kebetulan video di pesawat memutarkannya, penasaran karena diangkat dari novel, kisah seorang anak dari Batu Malang yang merantau ke kota New York. Yeah di novel emang disamain sih, kota Batu yang punya monumen apel gede di alun-alunnya, dan kota New York yang dikenal sebagai Big Apple yang ngga tahu kenapa. Nah, saya penasaran nih, dia tuh ngapain aja sih di NY sampai dapat posisi bagus di Nielsen, trus apa alasannya ninggalin begitu banyak gemerlap dunia, plus juga gaji yang bisa meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Duluuu, sempet ngintip bukunya, banyak foto dan sedikit tulisan yang berupa komentar gitu. Ngga berminat beli sih, soalnya gambarnya gede-gede, maksudnya mana ceritanya? Tapi yah namanya juga ngintip, mungkin di bagian lain lebih seru kisahnya. Karena itu saya pilih film ini dari daftar playlist yang ada.

Kisah dibuka dengan Iwan (dimainkan Ihsan Idol. Pantesan, kaya kenal wajahnya…) yang dipalak preman di kereta di NY. Euh…agak lebay sih…trus tiba-tiba loncat dengan perkataan, ‘Aku harus berani.’ Trus cerita kembali ke masa lalu saat Iwan mulai lahir, sampai ke bangku sekolah. Di film sih kesannya ni anak cowok pendiam banget, perenung banget, pemikir banget, dan cerdas. Entah ya, tapi saya percaya, orang tuh bisa 99% karena usaha, bukan hanya bakat. Tapi ceritanya, ujug-ujug pinter aja gituh, dan…jago nyanyi pula.

Berhubung tertera ni film 1:38 menit sedang perjalanan saya 1:07 menit, belum kepotong take off dan landing, dan semua annoucement itu, saya mesti pintar-pintar memanfaatkan waktu dong. Caranya? Dengan mempercepat cerita kalau ngebosenin…dan saya berulang kali melakukannya. Jadi meski headphone terpasang, yang saya tatap hanya subtitle bahasa Inggris yang tertera di layar. Ada beberapa teman wanita yang sambil lewat di kehidupannya, sampai mahasiwa dia juga dikelilingi cewek-cewek. Trus sempat salah pergaulan di Jakarta, ada juga cewek yang senangnya hura-hura. Tapi relevansinya apa sama kehidupannya, juga ngga paham.

Isi filmnya banyak berkisah tentang masa kecilnya. Sedangkan jawaban pertanyaan saya, soal dia ngapain aja di NY malah ngga ketemu. Yang muncul di NY adalah pemuda stylish yang sibuk merenung di tempat-tempat indah. Ngga ada teman satupun, penyendiri banget. Heran dia masih bisa bertahan dengan segala kegalauan dan kegamonannya. Sampai akhirnya dia balik ke Malang, entah karena apa. Mungkin terselip di film tersebut, tapi pasti cuma sedikit karena adegan lain keliatan kok, kenapa hal yang mestinya jadi titik tolak film ini malahan ngga ada.

Satu adegan yang saya suka, waktu Iwan nyaranin ke ibu warung cara penyajian makanannya, yang ditinjau dari ilmu statistik. Wah, ini baru keren, aplikasi statistik dalam kehidupan nyata.

Yah anyway, filmnya sudah selesai diputar tahun 2013, dan pesawat saya akan mendarat. Jadi…bye film nanggung 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements