Buku Diskonan dan Gratisan, Burukkah?

Perempuan, mana ada sih yang ngga suka barang diskon? Semua dikata murah, jika melihat puluhan persentase pengurangan harga. Beruntunglah suami saya, saya hanya bereaksi begitu melihat keranjang buku murah *dan sepatu…dan baju…wah, kok jadi banyak? 😀 *

Saya rasa kebiasaan ini dimulai dari Bapak saya yang suka menjelajah jalan Semarang di Surabaya, untuk mencari majalah-majalah bekas nan murah. Khususnya majalah Senang, yang isinya cerita horor semua. Hih! Bahkan melihat sampul depannya saja saya sudah malas untuk membukanya. Jika beruntung, Bapak akan membelikan juga komik-komik karya komikus Eropa, yang meskipun kertasnya sudah menguning, warna dan ceritanya masih menarik.

Buku murah, kalau perlu gratis, itulah yang kita perlukan saat ini. Buku adalah jendela dunia, begitu yang saya yakini. Meski karena dana dan pekerjaan saya jarang bepergian, tapi membaca buku traveling misalnya, membuat pikiran saya melayang-layang ke daerah-daerah tersebut. Lalu meski saya tak mendapatkannya di sekolah, dengan mudah saya bisa menambah pengetahuan tentang hal-hal yang menarik minat saya, hanya dengan membaca. Bapak saya, seorang dokter, malah menulis buku tentang astronomi, karena hobinya menelusuri ensiklopedi, beda dengan anaknya yang lebih menggemari astrologi *ah, beda dikit ini 😀 *

Masalahnya, buku di Indonesia itu mahal. Kalaupun murah, selalu kalah dengan kebutuhan hidup yang makin mahal. Hal lain, buku juga kalah penting dengan gadget dan pulsa. Sudah jamak saya lihat, mahasiswa lebih memilih beli pulsa daripada fotokopi bab-bab penting dari buku, apalagi membeli bukunya. Namun apapun alasan calon pembaca, menyediakan buku murah nan gratis pasti akan memancing pembaca yang lebih banyak.

Saat suami dinas ke India, oleh-olehnya tidak lain adalah buku textbook kuliah dengan soft cover dan kertas coklat. Buku yang cukup tebal itu jika dirupiahkan hanya perlu membayar sekitar 40 ribu rupiah. Sesuatu yang langka, bahkan fotokopian saja tidak bisa menjangkau harga yang sedemikian murahnya. Kadang di toko buku di Surabaya, saya mendapatkan buku untuk anak-anak dalam bahasa Inggris, terbitan India, bisa didapat dengan harga 10 ribu saja. Ngeri kalau membayangkan, sejak kecil kompetensi mereka sudah diperjuangkan oleh kebijakan pemerintah, untuk mempertahankan harga buku yang murah.

20140406-104944.jpg

Berikutnya di Melbourne, hampir sesak napas saya saat secara tak sengaja, menemukan toko buku murah ini di dekat perempatan Flinders Street. Semua buku dijual 5 AUD, atau bila dirupiahkan sekitar 50 ribuan. Termasuk buku-buku yang kalau di Indonesia hanya bikin mupeng, saking mahalnya, karena impor, kertasnya luks dan full colour. Disini hanya 5 dollar, dan semuanya buku baru! Akibat panic buying ini, kami sempat harus bongkar koper di depan counter sebuah maskapai karena keberatan 🙂

20140406-104552.jpg

Hal yang ingin saya sampaikan, bahwa buku yang didiskon itu, bukan melulu buku jelek yang ngga laku. Sebuah artikel pernah menceritakan seorang penulis yang sedih, karena bukunya masuk keranjang obralan. Yang saya yakini, meski harga turun kualitasnya akan tetap sama. Kalau bagus ya bagus aja, kalau jelek ya jelek aja. Dan buku diobral ada banyak alasan selain kurang laku tadi. Ada yang sudah terbuka, ada yang agak kotor halamannya, cetakan lama, dan ada yang tinggal beberapa eksemplar.

20140406-104048.jpg

Menemukan buku bagus di keranjang obralan, seperti mendapatkan harta karun rasanya. Novel Pompeii karya Robert Harris yang best seller itu, saya dapatkan dari rak buku obralan satu toko buku ternama. Berikutnya jadi nagih, saya memburu karya Harris, meskipun tidak obral.

20140406-104226.jpg

Buku Budiman Hakim, yang artikelnya sudah saya tulis sebelumnya, juga saya temukan di rak obralan. Kelima buku ini, dari rak yang sama, seluruhnya hanya berharga 50 ribuan. Apakah isinya picisan? Tentu tidaaak. Budiman Hakim, seorang praktisi periklanan, berhasil menceriakan hari saya *eaaa…bahasanya 😀 *. Seth Godin, blogger dan enterpreneur ternama telah menelurkan 15 buku, dan buku We Are All Weird memang visioner pada jamannya. Kisah traveling selalu saya suka. Dan Joy Massoff, penulis buku Tokoh-tokoh Paling Aneh Sedunia, berhasil membuat saya dan anak-anak memahami dan menikmati sejarah dunia. Buku aslinya berbahasa Inggris, dan penerjemah buku ini berhasil membawakannya dalam Bahasa Indonesia tanpa kehilangan kerenyahannya dalam bercerita.

Bagaimana dengan buku gratisan?

20140406-104132.jpg

Suatu hari, suami saya membawakan buku Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta. Buku gratis, hadiah saat ia menghadiri acara di Yogyakarta. ‘Ini kayanya cocok buat kamu,’ yang saya terima dengan ragu. Sejak semula saya sudah menghindari buku-buku yang ada tambahan kata ‘gokil’, ‘dodol’, ‘gaul’, apalagi ini ada ‘unyu’nya. Takut overestimated 🙂 Ternyata, buku ini berhasil melambatkan cara membaca saya. Biasa skimming, membaca cepat untuk bilang, ‘ok, i’ve got your points’ dan segera pindah ke buku lainnya. Tapi dengan buku pak guru ini, saya mesti mencerna kalimat-kalimatnya, yang inspiratif banget, dan bertahan untuk membacanya karena karya Beliau sama sekali ngga membosankan.

Seandainya banyak buku gratis yang bisa dinikmati, tentu banyak manfaat yang bisa didapat. Satu kabar baik saya dapatkan dari majalah Tempo, Pemerintah Kota Surabaya telah menyebar 980 taman bacaan di seantero kota, serta meningkatkan kenyamanan dan jumlah koleksi di perpustakaan umum. Jumlah kunjungan dari 2,7 juta kali pada tahun 2012, meningkat menjadi 14,2 juta kali pada tahun 2013.

20140406-104640.jpg

Selain meminjamkan buku dengan gratis, Pemkot Surabaya yang baru mendapat Indonesia MDGs Award 2013 di bidang pendidikan ini, juga mempunyai cara unik agar masyarakat mau berkunjung ke perpustakaan. Melalui buku diadakan pelatihan-pelatihan yang terkait, misal membuat batik atau sabun aromaterapi. Hasilnya muncul wirausaha-wirausaha baru yang mendukung laju perekonomian. Kegiatan lain seperti kemah pustaka, wisata buku, dan bedah buku, terbukti menaikkan jumlah pengunjung. Pendirian taman bacaan juga didukung oleh Pemkot Surabaya, cukup hanya dengan mengajukan permohonan melalui Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya.

Dari sisi penulis bagaimana? Rugi berat dong, kalau buku digratiskan atau didiskon? Yang saya tahu, setiap produk akan memiliki siklus hidupnya. Ada masa-masa menangguk keuntungan, tapi berikutnya adalah masa menyumbang untuk peradaban. Seperti yang Budiman Hakim katakan pada akhir buku Go West and Gowes,

Ga usah takut buku kita ga laku di pasaran. Kalaupun itu terjadi, buku itu tetap berguna…Hidup ini terlalu berharga untuk dilewati tanpa berkarya. Tanpa karya, hari ini mati, esok hari orang lain sudah melupakan kita. Jika punya karya, spirit kita akan dilanjutkan oleh karya kita tersebut.

***
IndriHapsari
Foto : pribadi

Advertisements