Budiman Hakim, Penghiburan dari Seorang Ahli Periklanan

Tere Liye pernah mengatakan setidaknya ada tiga tingkatan penulisan. Yang pertama adalah suatu tulisan harus bisa dinikmati. Kemudian tulisan bisa memberikan manfaat bagi pembaca. Yang terakhir adalah yang paling sulit, mengubah cara pandang pembaca. Sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Siapa yang bisa membantah penyebaran konsep komunis dimulai dari sebuah buku The Communist Manifesto karya Karl Marx. Atau sebaliknya, konsep kapitalisme yang diperkenalkan Adam Smith dalam buku The Wealth of Nations.

Belum-belum sudah terbayang ya, betapa berat isi kedua buku tersebut. Tapi ada ngga sih, buku yang enak dibaca, memberi manfaat dan berhasil menggugah kesadaran pembacanya?

Ternyata ada, dan senangnya lagi, Beliau adalah Kompasianer juga. Namanya Budiman Hakim.

Salah satu hal yang menyenangkan di Kompasiana adalah, saya diijinkan bertemu dengan orang-orang hebat. Salah satunya adalah Budiman Hakim, yang pertama kali saya kenal karena tanpa sengaja, masuk ke artikelnya yang berjudul Saya Takut Hidup di Jakarta. Pikiran saya waktu itu, ‘Wah, ni orang sama dengan saya’, yang menjadikan Jakarta hanya sebagai tempat transit. Kalaupun terpaksa menginap, berharap ngga lama-lama disana.

Membaca artikel yang renyah, lucu dan memancing perenungan di akhir artikelnya, membuat saya jadi tertarik untuk membaca artikel-artikel lainnya. Cirinya sama, selalu bisa membangkitkan emosi saat membacanya. Ada ceria, haru, sedih, dan membuat berpikir. Jenis artikel yang tidak hanya lewat, tapi membuat saya ingat jika membaca informasi sejenis, ‘O ya, saya pernah membacanya di artikelnya Om Bud’, begitu Beliau biasa dipanggil.

Berikutnya saya baru tahu kalau Om Bud ini orang periklanan. Sebelumnya saya selalu kagum dengan orang – orang kreatif ini, mereka ngga perlu berbusa-busa untuk mempengaruhi calon konsumen lewat iklannya. Namun cukup dengan kata-kata singkat, visual yang tepat dan eksekusi yang mantap, jadilah sebuah iklan yang ciamik. Selanjutnya dari hasil kepo di Google, saya baru tahu Beliau saat itu (tahun 2012) menjadi Vice President Director MACS909, sebuah biro iklan terkenal. Portofolionya buanyak, dan pernah menyabet Best of The Best Citra Pariwara.

Padahal, kalau baca artikelnya, yang tersisa hanya seorang penulis yang mencoba ngobrol dengan pembacanya, menceritakan kekonyolan yang ia hadapi di dunia kerja, sama sekali tidak ada kesan Beliau ini orang besar di periklanan. Serasa bicara dengan teman, yang meski telah berkeluarga masih menyempatkan diri menyediakan waktu untuk teman-temannya, termasuk nemenin dugem untuk dengerin curhat 🙂

20140406-090025.jpg

Berikutnya, tanpa sengaja saya menemukan buku yang Beliau tulis, Go West and Gowes, Catatan Seorang Copywriter. Emang saya selalu telat kok, ternyata itu buku yang ketiga. Begitu lihat nama penulisnya, tanpa pikir panjang saya membelinya. Dari prolog penulis saya baru tahu, ternyata Beliau bersaudara dengan Chappy Hakim, pilot senior yang juga seorang Kompasianer. Tulisan-tulisan Chappy Hakim yang berkisar kedirgantaraan juga saya ikuti di blog http://www.chappyhakim.com, akhir-akhir ini makin sering terkait hilangnya pesawat MH370. Habis beda banget gaya menulis antara kedua bersaudara ini, yang bernama belakang Hakim juga banyak. Sampai tuing-tuing ketika seorang Kompasianer bertanya, sudah tahu juga ngga, kalau Christine Hakim juga saudara kandungnya? Ini ngga tahu ngerjain saya apa ngasih tahu. Tapi semisal benar…hiyaaa..ternyata tujuh bersaudara ini profesinya dari utara sampai selatan! 🙂

Bukunya berisi kumpulan artikel tentang kehidupan Om Bud mulai dari kecil hingga sudah berkeluarga. Jangan khawatir, ini bukan biografi yang sibuk menceritakan tentang dunia sendiri. Tapi kehidupan orang-orang di sekitarnya juga sangat menarik untuk disimak, karena dari hal remeh temeh dan dekat dengan kehidupan kita itu, ada saja makna yang bisa didapatkan. Meskipun dunianya berbeda dengan pembaca, tapi Om Bud bisa menghantarkannya sehingga seolah-olah kita berada di dalamnya. Masa’, pergi ke Belanda tapi ceritanya ngajarin anak main sepeda? 😀

Cerita yang global tapi berkesan lokal juga saya dapatkan di kisah Olaf Kesurupan. Dikisahkan teman Om Bud dari Jerman, Olaf, berkunjung ke Indonesia. Masalahnya saat itu Om Bud sudah berjanji untuk kemping dengan Adi. Sesama backpacker, ngga enak dong masa datang ke negaranya malah ditinggal. Jadilah Olaf ikut kemping di hutan, satu jam dari desa terdekat.

Olaf yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu ditinggal sendirian jaga api unggun, karena Om Bud dan Adi mau membeli pasak tenda di perkampungan tersebut. Saat kembali, Olaf hanya diam saja sambil sarungan di depan api unggun, tidak membantu Om Bud dan Adi yang bersiap mendirikan tenda.

‘Aya paseukna?’ tanya Olaf. ‘Dapet dong. Di sini mah, gampang nyari pasak,’ sahut Om Bud sambil bersiul-siul. Detik berikutnya Om Bud baru sadar, ketika melihat wajah Adi yang pucat pasi. Tu bule bahasa Indonesia aja ngga bisa, ini malah nyunda??

Berikutnya adalah adegan-adegan yang bikin saya ketawa, ngeri dan miris. Perjuangan Om Bud untuk menyadarkan Olaf yang kesurupan jin, tambah ruwet dengan Adi yang bolak balik pingsan kebentur pohon, asli membuat saya seolah sedang lihat film setan, tapi yang ini dengan bumbu humor yang luar biasa. Mungkin setara dengan Warkop DKI dengan adegan pocongnya 😀

Anyway, buku yang tidak sengaja saya temukan ini, just made my day. Artikel-artikelnya sibuk loncat topik sana sini, sampai penulisnya sendiri suka ditanya, ini mau ditaruh di rak bagian apa, saking nyampurnya. Om Bud sendiri menulis karena suka menulis, dan ia membuat buku karena teringat pesan almarhum bapaknya, ‘buatlah satu buku sebelum kau mati.’ Ternyata…bukunya sudah lima biji, patut saya buru untuk koleksi 🙂

budiman
Om Bud ngga jaim untuk pose begini. Padahal aslinya bapak-bapak banget lo! 🙂

Satu lagi yang saya selalu ingat dari Om Bud, adalah quote yang tercantum di profilenya :

When losers attack you in social media, ignore them! Ignorance is more hurt than response.

Awalnya saya berpikir, emang kapan ya Om Bud pernah terlibat perseteruan dengan sesama Kompasianer? Beliau jarang blogwalking, jarang membalas komen di artikelnya yang dikunjungi ratusan hingga puluhan ribu pembaca, apalagi komen di lapak orang lain.

Namun ternyata saya mendapatkan jawabnya di buku ini. Rupanya Om Bud lagi gemas dengan seorang komentator anonim yang komentar tidak sopan di artikel salah satu Kompasianer. Pengecut-pengecut di Dunia Maya, begitu judul kisah di buku ini. Quote yang boleh juga ini, menjadi pengingat bagi saya bahwa ‘I have my own dignity, it’s not my battle’, dan seperti Om Bud, lebih fokus untuk berkarya nyata 🙂

***
IndriHapsari
Foto : pribadi dan goodreads.com

Advertisements