Poligami? So What?!

20130502-061939.jpg

Bergosip dengan pria, memang tak menyenangkan.

Seperti biasa, setiap pagi mulailah saya bercakap dengan suami tentang gosip maha penting hari ini *gossip of the day*.

‘Eh, si Menteri X punya istri lagi lo..’

Saya dong, biar rakyat jelata ngegosipnya sudah tingkat kementerian..
kikikik…

‘Terus, kenapa?’ kata suami saya kalem.

Beneran deh, kalau anak muda mungkin dia sudah jawab ‘Ciyus? Miapah?’ Cuek banget dan lempeng. Coba kalau hal itu saya ucapkan ke ibu-ibu arisan, atau pada teman wanita, pastilah tanggapannya lebih heboh dan ‘menyenangkan’.

‘Kenapa kalau dia poligami? Kinerjanya bermasalah ngga?’ sambungnya lagi.

Saya tentu saja sudah siap menghubungkan antara dua godaan bagi pria yang dialami Pak Menteri ini, tahta dan wanita. Bahwa (mungkin) karena dia beristri lagi, track recordnya jadi jelek. Bahwa (mungkin) karena poligami, dia jadi sibuk ngurusin istri-istri.

‘Ya kalau gitu jadi masalah. Tapi kalau kinerjanya tambah bagus, ngga ada hubungannya tuh poligami sama prestasi.’

Terus terang saya jadi mikir. Korelasinya apa ya, poligami dan penurunan kinerja? Kalau dia bisa menyembangkan hidupnya, well planned, istri – istri dan keluarga besar mendukung, kinerja malah bisa melesat atau paling tidak stabil lah. Contoh pengusaha restoran yang punya cabang di mana-mana, dimana setiap cabang dipimpin oleh satu istrinya. Atau menteri yang lain, tambah jos gandos setelah istrinya lebih dari satu (tuuuh kan…saya ngegosip lagi..kikikik).

Yang pasti kehidupan Pak Menteri itu tambah mbulet. Di luar nampaknya baik-baik saja, cuma saya bayangkan dia mesti melayani permintaan para istri – istrinya. Ntar ada yang minta duit belanja-ah kok jadul amat-maksudnya transferan ke rekeningnya. Ntar ada yang lapor anaknya bandel di sekolahan. Ntar ada yang ngadu kok diomongin tetangga depan.

Buat saya pribadi, terserah deh mau poligami atau ngga, asal ngga pengaruh dengan kehidupan saya. Ya ngga mau repot aja, dan terutama….it’s not feeling right. Karena, sebelum poligami itu sepanjang pengetahuan saya, ada proses mata yang tidak berusaha menghindar dari pesona seorang wanita (lain), ada usaha untuk mengenal lebih dekat wanita (lain), ada rasa yang lama kok kayanya kalah segalanya ya dengan wanita (lain).

Dan karena hal itu urusannya dengan KESETIAAN, maka ya jangan paksa juga saya sebagai konstituen disuruh memilih caleg yang poligami misalnya, atau mendukung pejabat yang sudah ketahuan hatinya sudah dibagi-bagi. Urusan orang yang menyayangi dia saja dia tega mengintimidasi, gimana dengan para calon pemilih yang bukan apa-apa ini?

Sekali lagi, ini ngga ada hubungannya sama kinerja, hanya soal rasa. ^_^

Advertisements