Kenapa Enggan Membaca Novel?

20140215-063620.jpg

Waktu teman-teman saya menulis daftar 33 penulis (fiksi) yang paling berpengaruh pada dirinya, atau 10 buku paling berpengaruh dalam hidupnya, saya cuma bisa bengong.

Habis, meski berusaha keras mengingat-ingat, paling hanya sebelah tangan saya yang bisa mengumpulkan daftarnya. Membuktikan bahwa membaca novel bukan pilihan saya.

Bisa sih, menyalahkan kebiasaan saya dari kecil yang hobinya baca komik. Tintin, Asterix, Lucky Luke, Polisi 212, Smurf, Bob si narapidana, berlanjut dengan komik Jepang pas SMP. Jadi terbiasa lihat gambar, bukan tulisan. Terbiasa ngakak, bukan nangis sesenggukan.

Namun saya juga betah kok baca Tom Sawyer, Sitti Nurbaya, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, dan Malory Towers pas kecil. Berarti kan, ngga serta merta anti tulisan panjang ya.

Saya rasa, persoalan terletak pada seberapa mampu novel itu menjawab minat saya, yang ‘too picky’ ini.

Pertama, saya pasti cari review dulu. Maksudnya ngga ada ceritanya, saya tiba-tiba ambil novel tanpa tahu kualitasnya. Jaman internet memang memudahkan segalanya, saya bisa mencari reviewnya dengan mudah. Lewat koran juga bisa, atau sekedar menempelkan ‘Best Seller’ menurut New York Times di sampul bukunya, pasti membuat saya penasaran seperti apa sih kok sampai best seller? Atau mencantumkan ‘penulis adalah pengisi rubrik X di Jakarta Post’ nah ini juga jaminan mutu. Buat penulis baru, ya review itu patokan saya. Secara waktu saya sedikit, dan kalaupun ada, saya lebih suka menulis daripada membaca. Makanya baca yang penting-penting aja.

Kedua, tulisan panjang itu cenderung membosankan, kalau penulisnya ngga piawai membangun konflik. Saya sendiri kesulitan di sana, menjaga mood pembaca itu susah, dan hanya sebagian penulis yang bisa. Kebanyakan konflikpun ntar jadi kaya sinetron, itu-itu mulu, dan jadi mbulet ngga karuan kenapa emaknya jadi marah sama calon mantunya, which is calon besannya ternyata sodaraan sama pembantunya.

Ah, sudahlah!

Itu yang tempo cepat, ada lagi yang tempo lambat, jadi sejak bab pertama berhasil membuat saya tampak lebih tua karena mengerutkan kening, ini mau cerita apa? Dari bab pertama ngga jelas maunya kemana. Atau terlalu banyak muncul tokoh sehingga saya kesulitan mengingat nama. Ingat pembaca ngga banyak loh yang tetap megang novel itu sampai selesai. Pasti diselingi kegiatan lainnya, disimpan dulu untuk dibaca besoknya, bahkan ada yang bisa membaca dua buku secara bergantian. Itu sebabnya penting untuk menjamin pembaca tetap ingat sama tokoh-tokohnya, langsung mendarat ke bumi begitu buka lagi novelnya.

Kalau ngga yaaa Jaka Sembung bawa golok 😀

Ketiga, bahasanya jangan mbulet. Aduh ini emang kelemahan saya banget. Kalau kata-katanya ngga tembak langsung, kalau berpanjang-panjang demi feelnya dapet misalnya, atau supaya keliatan nyastra, pasti paragraf pertama saya tinggal. Menurut saya, segala metafora dan bahasa puitis, sekalian deh bahasa ilmiah biar kelihatan pintar itu, hanya ada di puisi. Singkat padat memunculkan misteri. Tapi kalau satu bab isinya metafora semua, apalagi satu novel, dapat salam dari tumpukan buku di rak. Itu juga sebabnya, cerpen minggu yang terbit di koran nasional, pasti saya skimming dulu untuk lihat, saya bakal ngerti atau tebak-tebak buah manggis pas bacanya. Baru baca detail dari awal.

Kalimat efektif, itu yang saya suka. Jangan ada perulangan. Jangan mengulang lagi kata-kata yang sudah dijelaskan. Jangan ciptakan dialog yang puanjang, atau pendek tapi diulang-ulang. Saya bisa jedotin kepala kalau baca yang kaya gini. Untunglah eike bukan editor, karena pasti makan ati. Mau diskip apa boleh buat ini kerjaan. Mau dibenerin kok ya keterlaluan.

Untuk kelas novel yang diterbitkan dalam bentuk buku, saya menuntut harus unik, ada sesuatu yang baru, ngga caper dengan mengeksploitasi seksual. Menurut saya sih topik seksual pastilah dapat pembaca, but everybody already knew about that, jadi mesti dibungkus dengan lainnya. Spionase kek, human trafficking kek, atau entertainment. Jangan roman ujungnya seks, udah banyak.

Belum lagi soal selera. Selera nulis, sama baca saya beda. Makanya kalau malam minggu ke toko buku, suka desperate aja lihat tumpukan buku cinta, yang saling bersaing di covernya. Tapi bahkan kutipan di cover belakang bukunya ngga membuat saya tertarik untuk membaca.

Ih, saya jahat ya…

Soalnya, saya belum bisa mencapai level penulis yang saya baca habis bukunya, dan itu bikin gemes, jendral! :/

***
IndriHapsari

Advertisements