Marketing ala Preman

Pernah dengar Hari Kebalikan? Hari tersebut merupakan hari dimana kita melakukan kebalikannya. Misal jalan mundur, menggunakan istilah mandi padahal mau mengotorkan diri *ngga usah dibayangin* atau yang dewasa jadi anak-anak, yang anak-anak belagak jadi dewasa.

Ternyata, prinsip pemasaran juga mengalami pergeseran. Kalau sebelumnya kita mesti mengeluarkan uang untuk mendapatkan fasilitas tambahan, kini kita harus mengeluarkan uang untuk mengurangi apa yang mereka tambahkan.

Prinsipnya sama seperti preman. Daerah yang aman dibuat ngga aman, supaya para pengusaha mau setor sejumlah uang, disebut sebagai uang keamanan. Padahal sih, buat dia-dia juga. Jadi menjaga agar situasinya kondusif, ya berilah uang agar mereka ngga berulah.

Yang lain, yang lebih legal adalah aplikasi yang diunduh pada gadget. Untuk yang gratisan, sering muncul iklan di bagian atas atau bawah program. Sebenarnya mudah saja dengan mengabaikan mereka, tapi susah karena mereka sangat atraktif, sehingga mau ngga mau mencuri pandang sedikit.

Kok legal? Ya coba bayangin, sudah susah – susah bikin aplikasi, eh malah bisa diunduh gratis. Business is business. Kalau mau usaha terus berjalan, ya harus membuka diri pada pengiklan. User terganggu sih biarin. Justru malah mendatangkan keuntungan kalau si usernya sudah muak, tapi masih pengen pake aplikasi. Tawarkan pada mereka untuk ‘tampilan tanpa iklan’. Kalau butuh, mereka pasti bersedia membayar agar tak terganggu dengan iklan. Bahayanya kalau pelanggan sudah memblacklist si pembuat aplikasi karena aplikasinya yang ngga penting-penting banget tapi iklannya bejibun.

20130709-231759.jpg

Hal itu ternyata berlaku juga buat blog gratisan. Kaget juga ketika tiba-tiba ada iklan yang muncul di bagian bawah artikel. Katanya pihak pengelola bebas menautkan iklan di para pengontraknya. Kalau mau bersih, silakan klik ‘No Ads Upgrade.’ Ya ampuuun, harus ngeluarin uang supaya ngga diganggu! Apa ngga mirip preman namanya? Memaksa orang untuk mengeluarkan uang, atas kondisi yang diciptakan.

Dunia, oh dunia…

***

IndriHapsari

Advertisements