Menulis Kesedihan

20140218-045601.jpg

Kemarin mungkin bukan saat yang tepat bagi saya untuk menulis. Deretan kesedihan sudah mempengaruhi mood menulis saya, dan terus terang saya menghindari menulis saat sedang emosi. Setidaknya, emosi negatif tersebut harus saya taklukan dulu, sebelum memulai menulis dan menyebarkannya pada yang lain.

Kesedihan pertama berasal dari rencana mundur Ibu Risma dari jabatan Walikota Surabaya. Mengingat betapa besar jasanya bagi pembangunan kota, tanpa perlu menempelkan wajahnya di jalanan atau pohon-pohon kami, Ibu Risma memberi harapan pada masyarakat Surabaya dan masyarakat Indonesia, ada kok pemimpin yang memberikan bukti, bukan janji. Sangat langka, dan Surabaya beruntung memiliki Beliau.

Kalau melihat kemelut yang terjadi, mundur akibat tekanan politis, saya jadi berharap suatu saat pencalonan independen ini akan terwujud. Tidak perlu berkoalisi dengan partai, toh kita sudah bertahun-tahun mengetahui pemimpin dari partai itu sangat langka yang berkualitas. Masa belajar terus dan ngga lulus-lulus? Yang diperlukan dari seorang pemimpin adalah sepak terjangnya, bukan dukungan partai. Dukungan partai akan muncul dari masukan masyarakat, jika memang benar mereka yang duduk di legislatif adalah wakil rakyat. Sementara yang kita hadapi berbeda, para legislatif berjuang untuk kepentingan partai. Lalu jangan marah dong, kalau rakyat lebih memilih langsung pemimpinnya, alih-alih melalui orang-orang yang tak mereka kenal, hanya tebar senyum sebelum pemilihan, tapi bahkan ke dapilnya saja belum pernah.

Kesedihan kedua datang dari kolega, Dr. Anggito Abimanyu yang mengundurkan diri dari jabatan dosen Universitas Gadjah Mada, akibat tuduhan plagiasi. Meski tidak menjawab benar tidaknya tuduhan tersebut, tapi pengunduran dirinya secara tidak langsung membenarkan tuduhan tersebut. Ada proses yang tidak benar dalam kisah penulisan dan pengiriman karyanya ke harian Kompas.

Seorang akademisi yang terbukti plagiat itu benar-benar menampar dunia pendidikan. Saya selalu menganggap dunia pendidikan adalah inkubator, sebelum para siswa tersebut dilepas ke kondisi riil. Karena itu menjaga semua kondisi ideal harus dilakukan, agar siswa tahu apa yang benar dari contoh yang diberikan, dan sebagai bagian dari pembentukan karakter mereka.

Sekarang, kalau contohnya sudah buruk, apa yang mau diturunkan pada generasi muda? Memang saya percaya, ribuan doktor lain tetap menjaga kehormatannya. Namun karena nila setitik rusak susu sebelanga, dan dalam kasus ini para koleganya yang terkena. Untuk orang lain, hal ini sebagai pembelajaran. Namun untuk Dr. Anggito menjadi pembelajaran yang menyakitkan di sisa umurnya.

Kesedihan ketiga datang dari artis muda, Roger Danuarta. Pria umur duapuluhan, ganteng, kaya, terkenal, tapi pemakai narkoba. Tertangkap basah sedang menggunakannya di mobil, pertanda ia tak mampu lagi menahan hasratnya untuk menyuplai darahnya dengan barang haram tersebut. Sedih rasanya, melihatnya terjebak dalam pusaran narkoba. Keluarga dan temannya pasti sedih. Roger sendiri seperti tak peduli, ia sudah mengadaikan masa depannya pada neraka. Telat mendapat pertolongan, dan pasti merasa sendirian.

Ada yang harus dilakukan. Jika pada Risma saya menuliskan dukungan, pada Dr. Anggito saya mengingatkan diri sendiri dan para kolega, maka untuk Roger akan saya selesaikan cerita The Deep Web, serial yang memiliki latar belakang dunia narkoba. Supaya tak ada lagi anak muda yang menyia-nyiakan hidupnya.

***
IndriHapsari

Advertisements