Nunut Urip atau Melu Nguripi?

passion

‘Urip’, dalam bahasa Jawa artinya adalah hidup. Sedangkan ‘Nguripi’ artinya adalah menghidupkan. Arti dari judul artikel ‘nunut urip’ adalah ikut hidup, sedangkan ‘melu nguripi’ artinya adalah ikut menghidupkan.

Dalam suatu organisasi berorientasi bisnis, kesungguhan pegawai dalam menjalankan tugasnya menjadi hal terpenting bagi kelangsungan hidup perusahaan. Orientasi organisasi adalah pelanggan, sedangkan pegawai merupakan representasi image yang diinginkan perusahaan.

Misal image yang diinginkan adalah perusahaan yang peduli pada pelanggan. Maka sejak pelanggan melangkah masuk memasuki ruangan kita, kesan ramah dan siap menolong harus diciptakan. Senyuman, sapaan, mendengarkan dengan baik keinginan atau keluhan pelanggan, menanggapi dengan responsif dan menghasilkan solusi yang memuaskan, akan membuat pelanggan terkesan.

Dan yang bisa melakukan itu adalah para pegawai di lini terdepan, yang didukung oleh para pegawai di lini belakang, dalam suatu sistem yang terintegrasi. Perusahaan akan memberikan gaji yang layak dan penghargaan bagi para pegawai.

Masalahnya, tidak semua pegawai berdedikasi memajukan perusahaan. Ada pegawai yang hanya mengikuti aturan yang ditetapkan perusahaan, tanpa ada ketulusan kenapa ia melakukannya. Misal dalam hal jam kerja, jika peraturan perusahaan meminta ia hadir jam 8 hingga 4 sore, maka itu yang ia lakukan dengan tepat dan rutin setiap harinya.

Selama bekerja, raganya saja yang berada di tempat kerja, namun pikiran dan hatinya sebagian besar dihabiskan untuk hal-hal di luar pekerjaannya. Misal menggunakan fasilitas internet untuk kegiatan rekreasional, bercengkerama dengan rekan kerja, atau sesekali menghilang dari tempat kerja untuk antar anak antar istri, malah ada yang ‘nyambi’ menjalankan usaha saat sedang berada di tempat kerja.

Untuk pegawai yang seperti ini, dinamakan dengan pegawai yang ‘nunut urip’. Maksudnya adalah hidupnya dibiayai dan tergantung dari perusahaan. Dengan adanya pegawai tipe ini, perusahaan akan bisa tetap menjalankan usahanya, namun tanpa kemajuan yang berarti. Penyebabnya karena pegawai yang ia punyai, hanya menjalankan fungsi dan dibayar sesuai fungsi tersebut. Masalah mendobrak dengan inovasi, memikirkan solusi, berusaha memenangkan persaingan dalam suatu kompetisi, bukan urusan dan menjadi pemikiran pegawai. Karena hal tersebut di luar fungsi mereka, di luar deskripsi pekerjaan mereka, dan tak ada penghargaan langsung jika mereka melakukannya.

Akan halnya pegawai yang ‘melu nguripi’, mereka merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga yang disebut perusahaan, sehingga meskipun tak jelas ada penghargaan atau tidak, mereka akan memikirkan setiap masalah yang terjadi di perusahaan, berushaa memajukannya, dan memberikan usulan maupun tindakan nyata untuk perusahaan tersebut.

Misal dalam hal kerja, ia akan datang sebelum jam 8 agar mempunyai kesempatan mempersiapkan semua yang ia lakukan pada hari ini, sehingga begitu tepat jam 8, ia akan menjalankan fungsinya tepat waktu. Ia berdedikasi pada pekerjaannya, dan tidak melakukan hal yang tak perlu saat berada pada jam kerjanya. Ia rela menunda waktu pulangnya, untuk menyelesaikan pekerjaan, atau mempersiapkan untuk kerja esok hari, atau bahkan untuk hanya untuk menata meja kerjanya. Ia juga akan menambah wawasan untuk dapat melihat perkembangan usaha, konsep-konsep terbaru yang mungkin dapat diterapkan, atau menjalin jaringan dengan stakeholder perusahaan.

Pegawai seperti inilah yang tidak sekadar menghabiskan belanja kepegawaian, tapi juga berusaha membuat perusahaan lebih maju, menambah kepercayaan pelanggan dan stakeholder, memperbaiki kinerja perusahaan dan menambah pendapatan perusahaan. Maka efek tidak langsungnya, jika perusahaan mencatat laporan keuangan yang bagus, kesejahteraan pegawai juga akan meningkat. Mungkin bentuknya tidak hanya berupa kenaikan gaji, namun juga fasilitas seperti rekreasi tahunan, jaminan kesehatan dan pendidikan, akses internet yang lebih cepat, atau pembaharuan peralatan.

Tentu saja untuk mempunyai pegawai yang ‘melu nguripi’ itu tidak gampang. Karakter pegawai, keseriusan para manajemen puncak untuk menghargai pegawai dan memajukan perusahaan, sistem yang solid, serta teladan dari para pimpinan, akan menginspirasi pegawai untuk turut menghidupkan perusahaan.

Advertisements